BERITA TERKINIRAGAM INFO

Pemkot Makassar Rencana Relokasi 400 Rumah di Blok 10 Antang

×

Pemkot Makassar Rencana Relokasi 400 Rumah di Blok 10 Antang

Sebarkan artikel ini
Pemkot Makassar rencana relokasi 400 rumah warga pada areal genangan banjir di Blok 10 Kelurahan Antang, Kecamatan Manggala, Makassar.
Banjir di Perunas Blok 10 Antang. (Foto: Ist)

MAKASSARCHANNEL, MAKASSARPemkot Makassar kemungkinan merelokasi sekitar 400 rumah warga pada areal genangan banjir di Blok 10 Kelurahan Antang, Kecamatan Manggala, Makassar.

Ini salah satu solusi jangka panjang Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar mengatasi banjir genangan. Blok 10 Perumnas Antang adalah salah satu lokasi terparah genangan banjir setiap musim hujan.

Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin mengemukakan hal ini saat menerima kunjungan Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang, Suryadarma Hasyim di Kantor Wali Kota Makassar, Senin 19/5/2025)

Pertemuan tersebut sebagai upaya mencari solusi jangka panjang permasalahan banjir yang sering terjadi di beberapa titik rawan.

Relokasi Pembebasan Lahan

Pemkot Makassar, kata Wali Kota, butuh pembebasan lahan untuk membangun saluran atau alur air baru untuk mengalirkan genangan banjir di Blok 10 Antang.

Munafri Arifuddin atau Appi mengatakan opsi membangun saluran air baru ini menghadapi tantangan berat. Terutama harus merelokasi 400 rumah warga di zona genangan untuk membangun alur air.

Butuh Rp 400 Miliar

Pemkot Makassar membutuhkan anggaran minimal Rp 400 miliar membiayai relokasi 400 rumah warga, dengan asumsi Rp 1 miliar setiap rumah.

Menurut Appi, ini tantangan, tetapi opsi ini memberikan manfaat jangka panjang berupa ruang terbuka yang berfungsi sebagai kolam retensi baru. Juga sekaligus solusi banjir yang lebih permanen.

“Kalau ini tidak segera ditangani, maka wilayah ini akan terus terendam setiap tahun. Kita ingin membahas ini bersama-sama, mana yang bisa lebih dahulu kita kerjakan,” tambah Appi.

Minta Bantuan Tim Analisis

Menurut Appi, seperti dilansir situs resmi Pemkot Makassar, sejak awal pihaknya minta bantuan tim dari Unhas untuk menganalisis solusi pola banjir di wilayah ini.

Hasilnya, kata Appi, akan berpadu dengan data dari BBWS agar dapat menemukan solusi yang tepat dan sesuai kewenangan masing-masing.

Selain itu, menurut Appi, penataan kanal juga harus mencakup penertiban bangunan liar di sekitar kanal. Apalagi banyak kanal yang dipasangi atap.

Pembersihan kanal menurutnya tidak bisa hanya sebatas pengerukan sedimen.

Appi juga juga menyoroti pentingnya payung hukum bersama untuk penataan kanal dan saluran alir dalam kota.

Pengelolaan Wilayah Sungai Terpadu

Sementara, BBWS Pompengan Jeneberang, Suryadarma Hasyim menekankan pentingnya pengelolaan wilayah sungai secara terpadu.

Termasuk di dalamnya wilayah sungai pohon yang merupakan gabungan dari sejumlah Daerah Aliran Sungai (DAS) strategis.

Ini mengacu pada Permen PUPR Nomor 4 Tahun 2015 tentang Kriteria dan Penetapan Wilayah Sungai, Wilayah Sungai Pohon di Sulawesi Selatan, cakupan kerja pada 21 kabupaten dan 3 kota.

Salah satu proyek strategis yang telah berjalan adalah Bendungan Bili-Bili, yang berfungsi ganda sebagai konservasi air dan pengendali banjir. ***

Tinggalkan Balasan