MAKASSARCHANNEL – Ambisi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mencaplok Venezuela tak terbendung. Di akun sosialnya Truth, Trump memosting peta Venezuela dengan mencantumkan sebagai negara bagian AS ke-51.
Trump mengunggah peta yang menandai Venezuela dengan bendera AS itu pada Selasa (12/5/2026) waktu setempat di akun sosialnya tanpa memberi keterangan.
Baca Juga: Presiden Venezuela dan Istrinya Ditangkap Pasukan AS
Presiden Trump melakukan aksi ini seiring terus mendorong para pejabat pemerintahannya mendekati perusahaan-perusahaan minyak untuk berinvestasi di Venezuela. Ini adalah upaya lanjutan Trump, setelah menggulingkan dan menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.
Mengutip Vox News, Trump mengatakan bahwa ia termotivasi perkiraan nilai minyak di Venezuela sebesar 40 triliun dolar. Trump juga mengklaim bahwa ia sangat populer di Venezuela dan warga negara itu menyukainya.
Baca Juga: Donald Trump Tidak Butuh Hukum Internasional
Presiden Trump beralasan dengan mengamankan pasokan minyak Venezuela, akan membantu menstabilkan ekonomi AS. Ia menganggap ini langkah penting untuk membangun demokrasi yang stabil.
Sebagai informasi, Venezuela adalah negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, di atas Arab Saudi, Iran, Kanada, dan Irak sebagai lima besar pedeposit energi fosil saat ini. Venezuela dengan perkiraan lebih dari 300 miliar barel, menguasai 17 persen pangsa pasar dunia.
Baca Juga: Amerika Serikat Mundur dari 66 Organisasi Internasional
Berinvestasi di Venezuela
Vox News memberitakan, setelah pejabat militer AS menangkap Presiden Venezuela awal Januari 2026, Trump berjanji membuat industri minyak AS beroperasi kembali di Venezuela. Perusahaan energi besar seperti Exxon dan Conoco diusir dari Venezuela hampir 20 tahun lalu, ketika mantan Presiden Hugo Chavez menasionalisasi industri minyak.
Pasca menggulingkan Nicolas Maduro dan memenjarakannya di AS, para pejabat kabinet dan penasihat energi Gedung Putih terus mengadakan pertemuan dengan para eksekutif perusahaan minyak besar. Gedung Putih mendesak mereka untuk berinvestasi di Venezuela.
Baca Juga: Arogansi Amerika Dan Kenaifan Dunia Internasional
Pemerintahan Trump mengklaim, hubungan antara Venezuela dan Amerika Serikat sangat luar biasa.
”Minyak mulai mengalir, dan sejumlah besar uang, yang tidak terlihat selama bertahun-tahun, akan segera membantu rakyat Venezuela yang hebat. Hanya Presiden Trump yang patut mendapat penghargaan atas revitalisasi kemitraan baru ini,” kata juru bicara Gedung Putih.
Negara Merdeka, Bukan Koloni
Mengutip The Morning Voice, Pelaksana tugas Presiden Venezuela, Delcy Rodrigue menolak gagasan Trump mencaplok Venezuela. Berbicara di luar Mahkamah Internasional di Den Haag, Rodriguez menyatakan tidak bisa menegosiasikan kedaulatan Venezuela.
“Itu tidak mungkin dan tidak akan pernah mungkin. Jika ada satu hal yang dimiliki rakyat Venezuela, itu adalah kecintaan pada proses kemerdekaan kami. Kami akan terus membela integritas, kedaulatan, dan kemerdekaan kami. Venezuela bukan koloni, tetapi negara merdeka,” tegas Rodrigue kepada wartawan.
Terlepas dari penolakan tegas dari Caracas, Rodriguez menegaskan bahwa kedua pemerintah saat ini terlibat dalam agenda kerja sama diplomatik. Venezuela dan AS sedang memulihkan hubungan diplomatik yang terputus selama pemerintahan Maduro.
Selain Venezuela, Trump juga telah membuat pernyataan ingin mencaplok beberapa wilayah/negara merdeka dan berdaulat. Di antaranya Kanada, Greenland hingga Terusan Panama. ***













