MAKASSARCHANNEL, MAKASSAR – Wali Kota Makassar gandeng Kejari Makassar usut dugaan jual beli jabatan kepsek (kepala sekolah) yang menjadi sorotan publik.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, mengaku, mengambil langkah tersebut untuk memastikan penanganan kasus berjalan serius, transparan, dan objektif.
Ia menegaskan, pemerintah tidak ingin persoalan tersebut mencoreng dunia pendidikan di Kota Makassar.
Karena itu, Pemkot juga membangun koordinasi dengan Kejari Makassar agar proses penanganan dapat berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.
“Hari ini saya bersama Pak Kajari melakukan koordinasi dan komunikasi untuk memastikan proses ini tertangani dengan serius. Kita tidak mau dunia pendidikan itu tercoreng dengan hal-hal seperti itu,” ujar Munafri di Hotel Novotel Grand Shayla Jl Chairil Anwar, Senin (29/6/2026).
Ia memastikan aparat penegak hukum akan dilibatkan apabila ditemukan unsur pidana dalam perkara tersebut.
“Pasti, pasti,” jawabnya saat ditanya apakah Pemkot akan menggandeng aparat penegak hukum.
Inspektorat
Saat ini, Inspektorat Kota Makassar telah mulai memeriksa pihak-pihak yang namanya disebut dalam video viral terkait dugaan praktik tersebut.
“Seluruh pihak yang tersebut di dalam video akan langsung diperiksa oleh Inspektorat,” beber Appi sapaan akrab Munafri.
Dia menambahkan, “Sudah ada semua di Inspektorat untuk diambil keterangan dan sebagainya. Kita pastikan prosesnya akan berjalan dengan adil.”
Apabila hasil pemeriksaan menemukan adanya pelanggaran, Pemkot memastikan akan menjatuhkan sanksi sesuai tingkat kesalahan.
Appi menegaskan, “Kalau memang terbukti, akan ada sanksi. Sanksinya bisa bertumpuk, mulai dari sanksi administrasi bahkan kemungkinan ada sanksi penegakan hukum.”
Sebelumnya diberitakan, sebuah video berdurasi 6 menit 13 detik viral di media sosial.
Pengakuan Calon Kepsek
Video itu menampilkan seorang perempuan berbaju biru dengan jilbab bermotif bunga yang mengaku sebagai kepala sekolah definitif di Kota Makassar.
Dalam video tersebut, perempuan yang memperkenalkan diri sebagai Suryama AB dg Ratu, S.Pd., M.Pd.
Ia menyampaikan pengakuan mengenai dugaan praktik jual beli jabatan dalam pengisian posisi kepala sekolah di Kota Makassar.
Ia mengawali penjelasannya dengan menceritakan proses seleksi yang telah diikutinya.
“Saya adalah kepsek definitif, di mana saya sudah mengikuti ujian kompetensi mulai dari BKN,” kata Suryama.
Dia mengaku, memperoleh hasil yang baik dalam seluruh tahapan seleksi, mulai dari uji kompetensi hingga wawancara.
Ia kemudian mengaku mendapat telepon dari seseorang yang disebutnya bernama Pak Yunus setelah proses wawancara selesai.
Berdasarkan penelusuran, Yunus merupakan Kepala Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan Dinas Pendidikan Kota Makassar.
Menurut Suryama, dalam percakapan pertama dirinya diberi informasi bahwa akan ditempatkan di sekolah besar dengan jumlah siswa lebih dari 500 orang.
“Saya sudah lihat penempatanta. Sekolahnya besar dengan siswa lebih dari 500,” ucap Suryama menirukan isi percakapan tersebut.
Ia mengaku bersyukur karena menganggap informasi itu merupakan buah dari usaha dan kompetensi yang dimilikinya.
Namun, pengakuan Suryama berubah ketika ia menyebut kembali menerima telepon dari orang yang sama pada malam pergantian tahun, Desember 2025 lalu.
Dalam percakapan kedua itu, ia mengaku ditawari memilih sekolah penempatan.
“Dia bilang, ‘Mauki pilih sekolah yang mana kita mau?'” tutur Suryama.
Ia mengklaim saat itu telepon dalam kondisi loudspeaker sehingga mendengar ada seseorang bernama Alfian yang disebut sedang mengetik daftar penempatan kepala sekolah.
“Dia bilang, ‘Sekarang saya sudah berada di rumahnya tim suksesnya, atau orangnya Pak Wali Kota, salah satunya adalah Alfian.’ Dia loudspeaker, makanya saya dengar.
Dia bilang, ‘Ini Pak Alfian sementara mengetik nama-nama kepala sekolah dan penempatannya.”
Tak lama kemudian, menurut pengakuannya, muncul permintaan uang apabila ingin tetap ditempatkan di sekolah besar.
“Langsung dia bilang, ‘Kalau begitu Dinda, bayar ki Rp30 juta kalau mauki sekolah besar’,” katanya.
Suryama menegaskan dirinya tidak memiliki uang sebanyak itu sehingga tidak dapat memenuhi permintaan tersebut.
Ia juga mengaku diminta menghapus riwayat panggilan telepon serta tangkapan layar percakapan yang terjadi malam itu.
Menurut pengakuannya, ia menuruti permintaan tersebut karena tidak menaruh rasa curiga.
“Saya tidak curiga karena Pak Yunus ini orang baik sekali,” ucapnya.
Suryama juga mengklaim seorang kepala sekolah lain menghubunginya setelah menerima telepon serupa.
“Dia bilang, ‘Saya juga ditelepon, tapi saya dimintai 30’,” tutur Suryama.
Dalam video itu, Suryama turut mempertanyakan penempatan salah satu kepala sekolah yang menurutnya kembali menjabat di sekolah yang sama.
Kejanggalan tersebut dirasakan usai pengukuhan kepala sekolah secara serentak di Lapangan Karebosi Jl Jenderal Ahmad Yani, 23 Juni 2026.
“Kenapa bisa di sekolah yang sama lagi, SD Negeri Daya 2, padahal sudah tiga periode,” ujarnya.
Ia kemudian mengaku dirinya justru ditempatkan di sekolah dengan jumlah murid lebih sedikit.
“Karena saya tidak bayar Rp30 juta, saya ditempatkan di sekolah kecil,” katanya.
Potongan video lain juga beredar, seorang perempuan Dalam video kedua yang direkam di lokasi yang sama, seorang ibu-ibu berbaju pink mengaku telah menyetor uang ke salah satu oknum.
Dalam video tersebut, ibu berbaju pink terlihat duduk di samping Suryama. Ibu tersebut diduga sebagai kepala sekolah yang menjadi korban jual-beli jabatan kepala sekolah.
Ia menceritakan, ia diminta oleh oknum tersebut untuk menghubungi Ata (diduga pejabat PDAM Makassar) bahwa dirinya telah menitip uang kepada Yunus (Kabid GTK Disdik).
“Jangki lupa nah, telpon pak Ata, bahwa uang sudah kita titip sama Pak Yunus,” ungkap ibu berbaju pink menirukan pembicaraannya saat itu saat berada di Kantor Dinas Pendidikan.
Ia kemudian mengaku melihat beberapa pegawai memasuki ruangan dan membahas bahwa berkas telah diterima oleh kepala dinas.
Ia mengaku merasa diabaikan selama berada di ruangan tersebut hingga akhirnya memutuskan untuk meninggalkan lokasi.
“Saya berdiri karena tidak dihiraukan. Akhirnya saya pamit,” katanya. ***s













