HIJRAH Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah bukanlah perjalanan biasa. Bukan juga sekadar perpindahan tempat dari satu kota ke kota lain. Hijrah adalah peristiwa besar yang menandai perubahan arah peradaban. Dari tekanan menuju kebebasan, dari ketakutan menuju keberanian, dari masyarakat yang terpecah menuju masyarakat yang dibangun di atas persaudaraan dan keadilan.
Memperingati Tahun Baru Hijriyah seharusnya tidak berhenti pada ucapan seremonial. Ia perlu menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri, sudah sejauh mana kita berhijrah dari kebiasaan buruk menuju kebaikan? Sudahkah kita berpindah dari prasangka menuju kasih sayang, dari amarah menuju kesabaran, dari ego pribadi menuju kepedulian sosial?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini menjadi semakin penting dalam kehidupan sosial hari ini. Kita hidup di zaman yang ramai, tetapi sering kali terasa sepi secara batin. Media sosial membuat manusia mudah saling terhubung, tetapi juga mudah saling melukai. Satu kalimat bisa memecah persaudaraan. Satu komentar bisa menumbuhkan kebencian. Satu informasi yang belum jelas kebenarannya bisa menyulut permusuhan.
Dalam situasi seperti ini, makna hijrah menjadi sangat relevan. Hijrah bukan hanya berpindah secara fisik, tetapi juga berpindah secara moral dan sosial. Hijrah berarti meninggalkan cara berpikir yang sempit, meninggalkan kebiasaan menyebar kabar tanpa tabayun, meninggalkan sikap mudah menghakimi orang lain, dan meninggalkan budaya saling menjatuhkan.
Tahun Baru Hijriyah mengajarkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari keberanian untuk meninggalkan sesuatu yang tidak baik. Nabi dan para sahabat meninggalkan Makkah bukan karena mereka lemah, melainkan karena mereka sedang menyelamatkan masa depan iman dan kemanusiaan.
Mereka mengajarkan bahwa ada saatnya manusia harus berani keluar dari zona nyaman, meninggalkan kebiasaan lama, dan membangun kehidupan yang lebih bermakna.
Dalam kehidupan sosial kekinian, semangat hijrah dapat diterjemahkan dalam banyak bentuk sederhana. Seorang pemimpin berhijrah ketika ia meninggalkan kesombongan dan mulai mendengar suara rakyatnya. Seorang guru berhijrah ketika ia tidak hanya mengajar materi, tetapi juga membimbing akhlak dan karakter peserta didiknya.
Seorang pelajar berhijrah ketika ia meninggalkan kemalasan, perundungan, dan sikap tidak disiplin menuju pribadi yang lebih bertanggung jawab. Seorang warga berhijrah ketika ia memilih menjaga lingkungan, menghormati tetangga, dan tidak mudah terprovokasi.
Maka, memperingati Tahun Baru Hijriyah menjadi penting karena manusia sering lupa. Kita mudah terjebak dalam rutinitas, sibuk mengejar pencapaian, tetapi kadang kehilangan arah. Kita mengejar kemajuan, tetapi belum tentu menjadi lebih bijaksana. Kita semakin modern, tetapi belum tentu semakin beradab.
Di sinilah Tahun Baru Hijriyah hadir sebagai pengingat bahwa kemajuan hidup tidak boleh hanya diukur dari apa yang dimiliki, tetapi juga dari sejauh mana manusia memperbaiki dirinya.
Peringatan Tahun Baru Hijriyah juga penting karena ia membawa pesan persaudaraan. Ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, salah satu langkah penting yang dilakukan adalah mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar.
Ini bukan hanya peristiwa keagamaan, tetapi juga peristiwa sosial yang luar biasa. Orang-orang yang berbeda latar belakang dipertemukan dalam ikatan iman, kepedulian, dan tanggung jawab bersama.
Pesan ini sangat dibutuhkan hari ini. Masyarakat kita sering kali mudah terbelah oleh perbedaan pilihan, status ekonomi, kelompok, bahkan cara pandang. Padahal, kehidupan sosial tidak akan kuat jika hanya dibangun di atas kepentingan masing-masing. Ia membutuhkan empati, saling percaya, dan kesediaan untuk merangkul.
Tahun Baru Hijriyah mengajak umat Islam untuk memperluas makna ibadah. Ibadah bukan hanya hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga tercermin dalam cara manusia memperlakukan sesamanya.
Salat yang baik seharusnya melahirkan pribadi yang jujur. Puasa yang baik seharusnya melahirkan manusia yang mampu menahan diri. Zikir yang baik seharusnya melembutkan hati. Begitu pula peringatan Tahun Baru Hijriyah, seharusnya melahirkan kesadaran sosial yang lebih kuat.
Di tengah zaman yang serba cepat dan transaksional, manusia sering menilai segala sesuatu dari untung dan rugi. Pertemanan pun kadang diukur dari manfaat. Jabatan dikejar bukan untuk melayani, tetapi untuk dihormati.
Ilmu dipelajari bukan untuk mencerahkan, tetapi sekadar untuk menaikkan status. Semangat hijrah mengingatkan bahwa hidup tidak boleh kehilangan nilai. Ada adab yang harus dijaga. Ada hati yang harus dirawat. Ada tanggung jawab sosial yang tidak boleh ditinggalkan.
Karena itu, Tahun Baru Hijriyah perlu diperingati dengan cara yang bermakna. Bukan dengan kemeriahan yang kosong, tetapi dengan refleksi yang jujur. Bukan hanya dengan spanduk dan ucapan, tetapi dengan komitmen memperbaiki diri.
Sekolah, masjid, keluarga, dan masyarakat dapat menjadikan momentum ini sebagai ruang edukasi moral: mengajak anak-anak memahami sejarah hijrah, menghidupkan budaya saling memaafkan, memperkuat kepedulian sosial, dan menanamkan sikap cinta damai.
Tahun Baru Hijriyah adalah cermin untuk melihat siapa diri kita hari ini dan ke mana kita hendak melangkah esok. Jika tahun baru masehi sering dirayakan dengan pesta dan hitungan mundur, maka Tahun Baru Hijriyah seharusnya dirayakan dengan hitungan ke dalam diri. Seberapa banyak kesalahan yang harus diperbaiki, berapa banyak luka yang perlu disembuhkan, dan berapa banyak kebaikan yang harus mulai ditanam.
Hijrah tidak selalu harus besar dan terlihat. Kadang hijrah dimulai dari hal kecil seperti menahan lisan, meminta maaf, berhenti menyebar kebencian, lebih peduli kepada keluarga, lebih disiplin dalam amanah, dan lebih lembut kepada sesama. Namun dari hal-hal kecil itulah perubahan sosial yang besar dapat tumbuh.
Maka, memperingati Tahun Baru Hijriyah bukan sekadar mengenang masa lalu. Ia adalah usaha merawat masa depan. Masa depan umat yang lebih beradab, masyarakat yang lebih damai, dan kehidupan sosial yang lebih manusiawi.
Sebab sejatinya, hijrah bukan hanya cerita tentang perjalanan Nabi dari Makkah ke Madinah, tetapi juga perjalanan setiap manusia dari gelap menuju terang, dari lalai menuju sadar, dan dari hidup yang biasa-biasa saja menuju hidup yang lebih dekat kepada Allah dan lebih bermanfaat bagi sesama. ***
*) Yusran, Pendidik SMA Islam Athirah Makassar













