MAKASSARCHANNEL, MAKASSAR – Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla sebut dunia masuki era deglobalisasi dan tak ada sistem ekonomi yang berlaku mutlak sepanjang sejarah.
Jusuf Kalla mengatakan itu ketika memberi sambutan dalam rangkaian Pra-Rapat Kerja dan Konsultasi Nasional (Rakerkonas) ke-31 APINDO di Hotel Claro, Makassar, Senin (3/8/2026).
Dia mengatakan, sejarah ekonomi dunia menunjukkan adanya perubahan dari sistem ekonomi liberal menuju semakin kuatnya peran pemerintah.
Setelah itu, dunia kembali mengalami gelombang liberalisasi ekonomi melalui globalisasi. Kondisi tersebut berubah lagi.
Model Rambut
Mantan Ketum DPP Golkar itu mengibaratkan sistem ekonomi seperti model rambut yang berubah dari masa ke masa mengkuti perkembangan zaman.
“Sistem ekonomi di dunia ini kayak rambut. Kadang-kadang gondrong, zamannya begitu gondrong. Kemudian sekarang, pendek lagi. Mungkin 10 tahun, gondrong lagi,” kata Jusuf Kalla memberi perumpamaan.
Jusuf Kalla menyebut, dunia sekarang ini memasuki era deglobalisasi ditandai dengan kian besarnya peran negara dalam mengatur kepentingan ekonominya masing-masing.
Sebagai contoh, kebijakan kenaikan tarif di Amerika Serikat sebagai salah satu bentuk menguatnya kembali intervensi pemerintah dalam perekonomian.
Peran Negara Makin Kuat
“Amerika lihat America First, pokoknya kepentingan mereka. Begitu juga yang dinamakan deglobalisasi. Sekarang kita alami peranan negara yang menjadi kuat,” kata Jusuf Kalla.
Dia mengingatkan, dalam situasi tersebut, Indonesia menghadapi sejumlah tantangan ekonomi, baik dari faktor eksternal maupun internal.
Dari sisi global, perekonomian Indonesia turut terdampak berbagai konflik geopolitik, seperti perang di Timur Tengah dan Ukraina.
Kondisi tersebut berpengaruh terhadap harga minyak, kenaikan biaya, hingga tantangan ekspor.
Di sisi lain, Indonesia juga menghadapi persaingan ekonomi yang semakin ketat, terutama dengan Cina yang semakin kuat dalam kompetisi global.
“Pengaruh dari ekonomi dunia, akibat perang di Timur Tengah, Ukraina, akibatnya harga minyak naik, ongkos-ongkos naik, ekspor sulit, turun. Tetapi, kita lihat saingan Cina makin besar,” ujar Jusuf Kalla.
Kebijakan Ekonomi Dalam Negeri
Selain faktor eksternal, JK juga menyoroti tantangan yang berasal dari kebijakan ekonomi dalam negeri.
Ia menyebut peningkatan utang dan defisit dapat memberikan dampak terhadap kondisi perekonomian, termasuk inflasi dan daya beli masyarakat.
“Kemudian tentunya, kalau kita lihat, apa masalah kita ke depan, kehidupan ekonomi Indonesia dipengaruhi oleh apa? Ada beberapa hal yang mempengaruhi ekonomi kita,” jelasnya.
Karena itu, JK menilai keseimbangan hubungan antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kunci dalam menjaga ketahanan ekonomi Indonesia, terutama ketika dunia memasuki fase baru dengan menguatnya kembali peran negara dan melemahnya arus globalisasi. ***












