Wanita Hamil Melahirkan Saat Ditandu Menuju Puskesmas - Makassar Channel
BERITA TERKINIPOLKUMHAM

Wanita Hamil Melahirkan Saat Ditandu Menuju Puskesmas

30
×

Wanita Hamil Melahirkan Saat Ditandu Menuju Puskesmas

Sebarkan artikel ini
Insiden miris terjadi di Kecamatan Rampi Kabupaten Luwu Utara, wanita hamil melahirkan saat ditandu menuju Puskesmas

MAKASSARCHANNEL, RAMPI LUWU UTARA – Insiden miris terjadi di Kecamatan Rampi Luwu Utara, wanita hamil melahirkan ditandu menuju Puskesmas.

Warga membawa wanita hamil bernama Nonci Bati itu dari Desa Tede Boe, Kecamatan Rampi, Luwu Utara, menggunakan tandu menuju Puskesmas.

Dalam perjalanan menuju Puskesmas yang berjarak sekira 22 kilometer itu, Nonci Bati melahirkan sebelum sampai tujuan.

Hanya saja, bayi kembar yang baru lahir itu meninggal karena terlambat mendapat perawatan medis akibat akses jalan yang buruk.

Cermin Buruk Layanan Kesehatan

Ketua Ikatan Pelajar Mahasiswa Rampi, Kevin Lempoi, merespons tragedi itu dengan kekecewaan mendalam. Apalagi, itu bukan merupakan peristiwa yang pertama.

Kevin Lempoi mengatakan insiden seperti itu cermin kesulitan masyarakat Rampi mendapatkan layanan kesehatan yang layak.

Insiden itu menurut Kevin, bukan sekadar musibah, tetapi gambaran buruknya infrastruktur dan minimnya perhatian pemerintah terhadap wilayah terisolasi seperti Rampi.

“Kami sudah berkali-kali menyampaikan keluhan ini kepada pemerintah, tetapi tidak ada respons serius. Warga Rampi harus bertaruh nyawa hanya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dasar,” ujar Kevin, Sabtu (29/3/2025).

Tandu Gunakan Bambu Dan Sarung

Dia mencontohkan, perjalanan membawa Nonci Bati menggunakan tandu menuju Puskesmas Rampi di Desa Sulaku menempuh jarak 22 kilometer.

Warga secara sukarela berjalan kaki membawa tandu di kondisi jalan yang nyaris tak bisa dilewati kendaraan.

Masyarakat membuat tandu menggunakan bambu dan sarung untuk menolong Nonci. Belum sampai di Puskesmas, wanita itu melahirkan di tengah perjalanan.

Mirisnya lagi, anak kembar yang baru saja lahir meninggal sebelum mendapat pelayanan kesehatan yang layak.

Infrastruktur Dan Layanan Kesehatan

Ketua Ikatan Pelajar Mahasiswa Rampi itu, menyoroti dua isu utama dalam tragedi mengenaskan itu.

Infrastruktur jalan yang sangat buruk dan fasilitas kesehatan yang tidak memadai akibat kelalaian pemerintah.

Di Rampi, lanjut Kevin, akses jalan masih berupa tanah. Berlumpur saat hujan. Tak ada ambulans yang bisa menjangkau desa-desa terpencil.

“Fasilitas di puskesmas pun minim, sehingga sering kali harus merujuk pasien ke tempat yang lebih jauh,” kata Kevin.

Pemerintahan Baru

Ia berharap perhatian lebih banyak untuk Kecamatan Rampi, awal tahun 2025 yang merupakan periode kepemimpinan baru di kabupaten maupun provinsi.

Mahasiswa Rampi berharap para pemimpin baru ini mampu membawa perubahan nyata bagi masyarakat yang selama ini terabaikan.

“Kami tidak ingin kejadian ini terus berulang. Kami ingin melihat aksi nyata dari pemerintah, bukan sekadar janji. Infrastruktur yang layak bukan sekadar tuntutan, tetapi hak masyarakat Rampi,” tegas Kevin.

Video Perjalanan

Dari rekaman video amatir yang beredar, dengan alat seadanya, warga membuat tabdu memanfaatkan dua bilah bambu yang diikat dan dilapisi sarung.

Warga bergotong royong membawa Nonci menempuh perjalanan sepanjang 22 kilometer. Hujan memperparah kondisi jalan, memperlambat langkah warga membawa tandu.

Ketika rombongan warga pembawa tandu tiba di Desa Dodolo, Nonci si wanita hamil di atas tandu mengalami pendarahan hebat.

Mereka pun sepakat berhenti di salah satu rumah penduduk agar Nonci bisa melahirkan dengan bantuan seadanya.

Dua bayi mungil itu akhirnya lahir. Hanya saja, tak ada tangisan pertama sang bayi setelah keluar dari rahim ibunya.

Keduanya dinyatakan meninggal dunia. Duka menyelimuti rumah warga yang seketika menjadi ruang persalinan darurat.

Kevin menyebut, peristiwa itu seolah angin lalu bagi pemerintah yang menutup mata terhadap penyebab insiden yang menelan korban nyawa itu.

“Berapa lagi nyawa yang harus melayang sebelum ada perhatian serius dari pemerintah,” kata Kevin dalam nada tanya.

Duka Nonci Bati itu menurut Kevin adalah duka masyarakat Rampi tentang potret akses layanan pemerintah terhadap warga di daerah terisoir. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *