Namun, kadang leader tetap ingin mengerjakan tugas-tugas teknis, sehingga menjadi work overload dan kehilangan waktu untuk mengelola orang-orang yang berada dalam kordinasinya. Padahal yang menjadikan leader hebat bukan karena kekuatannya, melainkan kemampuannya memberdayakan orang lain.
Pada kegiatan post asesmen tahun 2021 ini, peserta diajak memahami metode pengembangan individu yang terdiri dari 3, yaitu directing, mentoring, dan coaching.
Di antara tiga metode itu, yang paling berdampak terhadap pengembangan kompetensi individu adalah metode coaching, sebab dalam metode ini, tanggung jawab dan kendali terletak pada individu yang dikembangkan potensinya.
Berita Terkait :
Begini Nasib Penghina Polisi Di Toraja Utara
Sementara pada directing dan mentoring, tanggung jawab lebih besar pada pemberi arahan, sehingga dapat menyebabkan individu menjadi tergantung pada perintah dan panduan yang diberikan saja.
“Untuk dapat melakukan coaching ini, kompetensi yang harus dimiliki adalah kemampuan menciptakan trust dan safety, melakukan presence, melatih listening skill, dan melatih kemampuan mengajukan powerful question,” ungkapnya.
Sementara Idwar Anwar dalam materinya Reaktualisasi Kearifan Lokal dalam Implementasi Tupoksi Kepolisian, memaparkan berbagai kearifan lokal di Sulawesi Selatan yang dihubungkan dengan Tupoksi Polri yang sesungguhnya sejalan dan dapat memberikan pengayaan dalam mereaktualisasi ke dalam implementasi Tupoksi Polri.
Idwar juga menguraikan sejarah kepolisian di Sulsel. Buku tentang sejarah perkembangan kepolisian di Sulawesi Selatan sangat kurang untuk mengatakan tidak ada. Akan tetapi, Idwar yakin, data-data itu masih bisa ditelusuri dan dijadikan sebuah buku tentang sejarah perkembangan kepolisian di Sulawesi Selatan.
“Buku sejarah perkembangan kepolisian di Sulawesi Selatan ini sangat penting. Selain sebagai bahan dokumentasi, paling tidak juga dapat menjadi bahan ajar bagi kepolisian di Sulawesi Selatan,” pungkasnya. (her)













