MAKASSARCHANNEL, GOWA – Sanggar Seni Antara Nusantara di Gowa menggelar kegiatan Malam Assinrilik dengan tema ”Temu Kenali dan Lestarikan”. Kegiatan tersebut berlangsung di Desa Dusun Paranrea, Desa Maccini Baji, Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa, Sabtu (31/10/2026).
Melalui rilis kepada media, Pendiri Sanggar Seni Antara Nusantara, Indar Jaya Rauf menjelaskan, kegiatan Malam Assinrilik sebagai bagian dari proses belajar di Sekolah Assinrilik.
Baca Juga: Tiga Gadis sinrilik Pertama dan Sekolah Sinrilik di Sanggar Antara Nusantara
“Malam Assinrilik ini, kita ibaratkan semacam mid semesternya mereka. Insya Allah, kami berharap di waktu akan datang, ketika dipastikan mereka sudah matang, maka akan diinaugurasi Sekolah Sinrilik Angkatan I ini. Selanjutnya akan dibuka Sekolah Sinrilik Angkatan II,” ungkap Indar Jaya, dalam sambutannya.
Indar Jaya menambahkan, Malam Assinrilik ini bagian dari proses panjang, sejak dibukanya Sekolah Sinrilik, pada 2 Mei 2026.
Baca Juga: Bupati Gowa Sebut Sinrilik Pustaka Berjalan
Nyaris Hilang
“Assinrilik ini boleh dibilang nyaris hilang dari kebiasaan-kebiasaan kita dan di sekitar kita. Sehingga prioritasnya, bagaimana lahir pasinrilik-pasinrilik baru yang akan menjadi bagian dari regenerasi,” kata Indar optimis.
Sejak awal, kata dia, siswa Sekolah Sinrilik dibatasi. Dari 10 siswa, masih bertahan hingga sekarang ada delapan orang. Indar Jaya berharap, mudah-mudahan mereka terus bertahan bahkan berkembang nantinya.
Delapan Pasinrilik binaan Sanggar Seni Antara Nusantara masing-masing St. Rahmadani Syam, St. Maghfirah Syam, Fahirah Humairah, Ramsyah, Revan, Rahmat Syaifullah, Muh. Arifuddin, dan Muh. Amin.
Kedelapan pasinrilik inilah yang malam itu tampil dalam pertunjukan Sinrilik sibali-bali mementaskan kisah Datu Museng dan Maipa Depati. Pertunjukan ini kian menarik karena dikolaborasikan dengan Royong dan Tari Pakarena.
Merawat Tradisi
Mewakili Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Gowa, Kabid Kebudayaan, Bau Ingga, mengatakan kegiatan Malam Assinrilik bukan sekadar sebuah pertunjunkan. Namun merupakan cara menjaga, merawat, dan melestarikan kekayaan tradisi lisan masyarakat Sulawesi Selatan.
Pada Malam Assinrilik itu tampil pula pasinrilik Subuh Daeng Gassing dari Takalar. Selain itu, Abdul Latief Daeng Palago dari Kampung Paropo, Makassar.
“Saya memang sengaja mengundang Pasinrilik senior supaya anak-anak di Sekolah Sinrilik bisa punya banyak referensi. Bagaimana cara bermain yang akan memperkaya penampilan mereka,” kata Haeruddin Daeng Nassa, salah seorang maestro pasinrilik.
Sinrilik merupakan kesenian tradisional Makassar. Seni tutur ini diiringi alat musik kesok-kesok yang dimainkan oleh pasinrilik.
Malam Assinrilik yang pentas di atas panggung mirip kapal layar pinisi itu berlangsung semarak. Hal itu berkat kehadiran sejumlah seniman tradisional senior, bahkan bisa dikategorikan maestro.
Di jajaran pemain gendang, terdapat Bakri Daeng Bombong, Jumanna Daeng Sarring, Japar Daeng Ngalle, dan Samsul Alam.
Sementara penari Pakarena, terdiri dari Hamsina Daeng Ga’ga, Saturia Daeng Tarring, Nurlia Daeng Romba, dan Samsia Daeng Calla.
Ada pula Frans Yusuf sebagai pasalonreng memimpin prosesi yang mengawali pertunjukan.
Pertunjukan Sinrilik dengan kisah Datu Museng dan Maipa Depati ini merupakan Produksi Sanggar Seni Antara Nusantara.
Kemudian pimpinan produksinya adalah Indar Jaya Rauf, Sutradara Rahmat Soni Daeng Romo, Penata Musik Pasinrilik oleh Haeruddin Daeng Nassa. Kemudian, Muh Amin dan Rahmat Saifullah menata artistik. Lalju tata cahaya oleh Muh Arifuddin, Musik Pakarena oleh Bakri Daeng Bonbong, Tari Pakarena oleh Hamsinah Daeng Ga’ga, penampilan tari oleh Frans Yusuf.
Kehadiran Seniman dan Budayawan
Sebagai bentuk dukungan atas penyelenggaran Malam Assinrilik hadir sejumlah seniman, budayawan, dan penggiat literasi, Mereka antara lain Asmin Amin, Ishakim, Faisal Syarif, Zam Kamil, Andi Agung Iskandar, Maskur Daeng Esa, dan Rusdin Tompo.
“Kami mengapresiasi pertunjukan Malam Assinrilik ini sebagai cara merawat seni tradisi. Terima kasih sudah mengundang kami,” ujar Asmin Amin yang dikenal sebagai budayawan dan tokoh aktivis NGO.
Dampak Ekonomi
Sebelum acara dimulai, tetamu dijamu makan ikan nila yang dibudidayakan di sekitar area sanggar oleh Indar Jaya.
Kegiatan ini juga memberikan dampak ekonomi bagi para pedagang kecil. Mereka disediakan tempat di bagian luar untuk berjualan, seperti terang bulan, kacang dan jagung rebus, serta jajanan lainnya.
“Kami berharap, Kecamatan Bajeng di Kabupaten Gowa ini, dikenal lewat karya-karya seni yang nanti dikunjungi. Mungkin saat ini kami buat event, event, dan event. Namun arahnya kelak akan hadir ekosistem agrobudaya yang coba kami rintis di sini,” papar Indar Jaya tentang cita-citanya. ***












