MAKASSARCHANNEL, MAKASSAR – Kepala Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Sulsel Dr Arman Agung MPd menyebut guru sebagai motor utama perubahan dalam pendidikan.
Arman Agung mengungkapkan hal tersebut ketika membuka Training of Trainers (TOT) Pembelajaran Mendalam untuk Fasilitator Guru Angkatan 2 di Aula Anging Mammiri, BBGTK Makassar, Kamis (25/6/2026).
Mengawali arahannya, Arman Agung menyitir pesan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof Abdul Mu’ti, “A good education can change anyone, but a good teacher can change anything”.
Pesan Mendikdasmen bermakna, “Pendidikan yang baik dapat mengubah siapa saja, tetapi guru yang baik dapat mengubah apa saja,” itu terpajang di depan BBGTK Sulsel.
Kalimat itu menurut Arman Agung menunjukkan, betapa saktinya peran seorang guru dalam peradaban.
Konsep Pembelajaran Mendalam (Deep Learning), kata Arman Agung, sebenarnya bukanlah hal yang sepenuhnya baru. Banyak pendidik yang secara tidak sadar telah mempraktikkannya dalam kegiatan belajar-mengajar sehari-hari.
Tiga Pilar
Dari berbagai literatur, Arman Agung menyimpulkan ada tiga pilar utama yang melandasi pendekatan tersebut, yakni : berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Secara filosofis, ketiga komponen itu tidak terpisahkan.
Arman Agung menguraikan, “Berkesadaran tanpa bermakna dan menggembirakan itu akan terasa kosong. Sementara itu, pembelajaran yang bermakna namun berjalan tanpa kesadaran dan kegembiraan akan terasa sangat berat. Sebaliknya, jika prosesnya hanya menggembirakan saja tanpa berkesadaran dan makna, maka itu adalah kesesatan.”
Dia mengingatkan juga bahwa prinsip tersebut harus menjiwai setiap gerak pendidik demi mewujudkan transformasi pendidikan yang sejati.
“Bapak dan Ibu sekalian adalah agen transformasi. Guru adalah penggerak perubahan yang memiliki tugas mulia. Yaitu; memanusiakan manusia sebagai tujuan tertinggi dari pendidikan itu sendiri,” kata Arman Agung.
Fokus Penguatan Fasilitator
Ketua Panitia Pelaksana, Asmuddin STP AP mengatakan, kegiatan akan berlangsung empat hari, dari tanggal 25 Juni hingga 28 Juni 2026.
Asmuddin menjelaskan, pelatihan dirancang untuk mencetak fasilitator yang kompeten dari aspek pengetahuan, keterampilan, hingga sikap.
“Target akhirnya adalah, peserta mampu mengomandoi implementasi Pembelajaran Mendalam serta Kelompok Kerja Guru/Aktivitas (KKA) di kabupaten dan kota masing-masing.
Asmuddin menjelaskan, “Untuk angkatan kedua ini, kami mengundang 103 peserta dari berbagai mata pelajaran dan jenjang pendidikan.”
Rinciannya, 17 guru IPA SMP, 17 guru Matematika SMP, dan 15 guru Matematika SMA, 11 guru Biologi SMA, 16 guru Bahasa Indonesia SMA.
Sebanyak 19 guru Bahasa Inggris SMA, 6 guru bidang Coding dan Kecerdasan Artifisial (AI) SMA, serta 2 guru dari Sekolah Luar Biasa (SLB).
Selama empat hari penuh, peserta akan mendapat materi-materi esensial seperti metode Inquiry, pembentukan pola pikir bertumbuh (Growth Mindset), hingga praktik langsung fasilitasi pembelajaran.
“Materi ini akan mendekatkan pemahaman peserta tentang bagaimana memfasilitasi kelompok kerja secara efektif di lapangan,” tambah Asmuddin. ***













