MAKASSARCHANNEL, SINJAI – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Wilayah IV Makassar menyebut banjir yang melanda Sinjai, Minggu (19/7/2026), akibat fenomena lokal.
Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar Amhar Ulfiana menyebut banjir terjadi karena tingginya curah hujan.
Dia mengatakan, Amhar menyebut hujan terjadi akibat fenomena lokal. Sebab BMKG tidak mencatat adanya MJO atau Madden-Julian Oscillation.
“Untuk cuaca tadi malam sejak malam hari sampai pagi hari terjadi hujan intensitas ringan hingga lebat di sebagian Sinjai dan Bone Selatan,” kata Amhar, Minggu (19/7/2026).
Dia melanjutkan, tercatat BMKG Automatic Weather Station (AWS) Salomekko berbatasan Sinjai, curah hujannya di atas 100 mm dalam kurun waktu sekitar pukul 23.00 wita (18/7) sampai pukul 08.00 wita (19/7/2026).
Mulai Normal
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulsel Amson Padolo menyebut kondisi terkini di Kabupaten Sinjai mulai normal.
“Sudah normal kembali, sudah mulai membersihkan orang,” kata Amson Padolo, Minggu (19/7/2026).
Amson menyebut pihak BPBD Kabupaten Sinjai sudah turun membantu warga. Di sisi lain, penyebab banjir juga akan ditelusuri. Selain faktor hujan, kesiapan sarana sungai di Sinjai akan dikoordinasikan.
BPBD Sulsel, lanjut Amson, akan koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang
“Saya akan koordinasi dengan balai sungai karena kalau hujan di Sinjai, cepat banjirnya. Apakah sungai perlu normalisasi atau gimana perlu di cari tahu,” kata Amson.
Dia menghimbau masyarakat tetap waspada potensi anomali cuaca. Meskipun Sulsel mayoritas memasuki musim kemarau, potensi hujan masih mengintai. Utamanya di Sulsel bagian utara yang memiliki karakteristik hujan sepanjang tahun.
“Kami imbau di anomali cuaca biasa hujan datang tiba-tiba. Kami himbau masyarakat yang berada di zona bahaya banjir dan longsor, tetap tingkatkan waspada. Tidak turunkan tensi waspada, jangan sampai lengah. Kelengahan saat bencana biasa yang menyebabkan ada korban harta maupun jiwa,” jelas Amson.
Dia menyebut, hujan di Sinjai anomali juga terjadi di tengah musim kemarau yang mayoritas melanda Sulsel. Meski begitu, adanya potensi hujan disebutnya sudah terdeteksi sejak awal Juli lalu.
Terdapat potensi hujan di wilayah Sulsel bagian timur dan utara pada dasarian II Juli.
Satu Meter
Salah satu ruas utama, Jl. Tondong titik terparah banjir di Sinjai Utara. Pukul 05:00 Wita ketinggian air meningkat mencapai satu meter. Bahkan menutup ruas jalan sepenuhnya.
Ketika banjir mulai surut, sejumlah anak memanfaatkan banjir bermain bersama. Mereka bermain air layaknya berada di kolam renang.
Meski air tampak keruh berwarna coklat, keceriaan anak-anak tidak surut. Mereka terlihat bermain kejar-kejaran di tengah genangan.
Sebagian anak lainnya tampak melompat-lompat di air sambil tertawa bersama.
Ada pula yang berenang di badan jalan yang berubah menjadi seperti kolam dadakan. ***












