MAKASSARCHANNEL, MAKASSAR – Data Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Sulsel dan Sulbar menyebut kinerja ekspor Sulsel tahun 2026 turun dibandingkan tahun 2025.
GPEI Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar) mencatat penurunan ekspor mencapai 20 hingga 30 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 lalu.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel yang dipublikasikan, awal Juli 2026 juga memberi informasi selaras.
Nilai ekspor yang dikirim melalui pelabuhan di Sulsel selama Januari-Mei 2026 567,63 juta dolar AS, atau turun 10,84 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.
Khusus pada Mei 2026, nilai ekspor mencapai 122,42 juta dolar AS, turun 5,38 persen dibandingkan Mei 2025.
Geopolitik Global
Ketua GPEI Sulselbar Arief R Pabettingi mengatakan, kondisi geopolitik global serta dinamika industri di dalam negeri menjadi penyebab utama tertahannya laju ekspor Sulsel.
Menurut Arief, penurunan kinerja ekspor dipengaruhi konflik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah.
Konflik besar di Timur Tengah dimulai 28 Februari 2026, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap target-target di Iran.
Eskalasi ini memicu serangan balasan dari Iran yang kemudian melibatkan seluruh wilayah kawasan tersebut.
Ia menambahkan, perdagangan dunia juga melemah akibat tingginya spekulasi terhadap dolar Amerika Serikat yang berdampak pada mata uang negara-negara Asia.
Di sisi lain, permintaan dari negara tujuan ekspor di Eropa, Amerika Latin, dan Asia belum sepenuhnya pulih.
“Adanya perdagangan dunia yang menurun akibat spekulasi mata uang dolar terhadap beberapa mata uang negara lain yang begitu dominannya terhadap beberapa mata uang negara Asia,” kata Arief, Minggu (19/7/2026).
Perubahan Komoditas
Data BPS juga menunjukkan adanya perubahan pada komoditas ekspor Sulsel. Dari 10 kelompok komoditas utama selama Januari-Mei 2026, kakao/cokelat menjadi komoditas dengan kenaikan nilai ekspor terbesar.
Angka itu meningkat 22,02 juta dolar AS atau 131,10 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sebaliknya, komoditas besi dan baja mengalami penurunan paling dalam, yakni sebesar 115,50 juta dolar AS atau turun 80,05 persen.
Menurut Arief, secara umum ekspor Sulsel masih ditopang oleh sekitar 10 komoditas tradisional yang menjadi andalan pasar internasional.
“Kalau komoditi terbesar itu tetap masih nikel. Kemudian sektor perikanan dan rumput laut (seaweed),” kata Arief.
Dominasi Jepang
Ada 10 komoditi yang selama ini menjadi tradisional ekspor Sulawesi Selatan; rumput laut, nikel, cokelat, komoditi perkebunan terutama merica, lada, cengkih, sama sektor perikanan itu gurita, udang, sama ikan-ikan fillet atau olahan.
“Itu semua secara volume itu turun, tetapi kalau dari sisi value-nya, nilainya, angkanya stabil,” kata Arief.
BPS mencatat, tujuan ekspor terbesar Sulsel selama Januari-Mei 2026 masih didominasi Jepang dengan nilai 351,37 juta dolar AS.
Menyusul Tiongkok sebesar 151,52 juta dolar AS, dan Taiwan sebesar 15,71 juta dolar AS.
Ketiga negara tersebut menyumbang sekitar 91,36 persen dari total nilai ekspor Sulsel.
Masih Berat
Memasuki semester II 2026, Arief menilai prospek ekspor masih menghadapi tantangan besar.
Konflik geopolitik yang belum mereda diperkirakan masih akan membayangi perdagangan internasional.
“Saya rasa masih agak berat mengingat konflik yang terjadi di Timur Tengah itu makin memanas,” kata Arief
“Tentunya ini kan bisa membuat negara-negara sekutu, mereka terutama Amerika Serikat, untuk membalas. Dan bisa saja Selat Hormuz sebagai salah satu jalur logistik itu bisa ditutup,” jelasnya. ***












