MAKASSARCHANNEL, MAKASSAR – Ketua terpilih PWI Sulawesi Selatan, Suwardi Thahir hapus beban biaya Konferkab PWI Daerah.
Langkah itu Suwardi Thahir lakukan sebagai respons terhadap keluhan sejumlah pengurus PWI di kabupaten / kota.
Sebagai informasi, salah satu jurnalis senior di Sulsel ini terpilih sebagai Ketua PWI Sulsel dalam Konferensi Provinsi di Gedung Graha Pena Fajar, Selasa (2/6/2026).
Di ajang itu, Tokoh Pers Sulsel versi Dewan Pers, Dahlan Abubakar, juga terpilih sebagai Ketua Dewan Kehormatan Pers PWI Sulsel.
Program Prioritas
Sejak terpilih, Suwardi Thahir sudah menyiapkan sederet program strategis. Salah satunya, penghapusan penghapusan beban biaya bagi pengurus PWI kabupaten/kota saat menggelar Konferensi Kabupaten (Konferkab) atau seremoni organisasi lainnya yang mengundang pengurus provinsi.
Mantan Pemimpin Redaksi Harian Fajar ini menegaskan, ke depan PWI di tingkat daerah tidak boleh lagi repot mengurus ongkos operasional untuk mendatangkan jajaran pengurus PWI Sulsel.
“Tiap kali daerah punya hajat organisasi, mereka tidak boleh lagi dipusingkan dengan urusan anggaran untuk menjamu pengurus PWI Sulsel,” kata Suwardi Thahir.
Dia melanjutkan, “Polanya kita ubah, kita optimalkan pengurus daerah yang masuk di struktur di provinsi untuk menjadi perwakilan resmi di wilayahnya masing-masing,” tutur Suwardi, Minggu 14 Juni 2026.
Suwardi yakin, langkah berani tersebut tidak hanya sukses memangkas finansial organisasi di daerah, melainkan juga mempererat ikatan emosional dan sinergi antara pengurus wilayah dengan level provinsi.
Bukan itu saja, Suwardi juga memastikan formasi kabinet kepengurusan PWI Sulsel periode baru ini akan dirampungkan dalam waktu singkat agar mesin organisasi bisa langsung tancap gas.
“Begitu struktur resmi terbentuk, fokus kerja selanjutnya adalah menggelar prosesi pelantikan yang dirangkaikan dengan pelatihan intensif demi mendongkrak kualitas SDM para jurnalis di bawah payung PWI,” kata Suwardi.
Program Jemput Bola
Untuk perpanjangan masa berlaku kartu anggota PWI Sulsel, Suwardi Thahir berjanji akan menerapkan Program Jemput Bola.
Memasuki ranah internal organisasi, PWI Sulsel bakal mengadopsi gaya pelayanan administrasi yang lebih proaktif lewat sistem jemput bola.
Melalui strategi ini, kata Suwardi, pengurus provinsi yang akan pasang mata memantau masa kedaluwarsa kartu anggota maupun kartu kompetensi jurnalis.
“Begitu terdeteksi ada kartu anggota yang masa berlakunya hampir habis, pengurus yang akan langsung mengontak yang bersangkutan. Jadi, anggota tidak perlu lagi cemas atau lupa sampai kartunya mati,” urai Suwardi.
Inovasi layanan ini sengaja dihadirkan demi memangkas birokrasi perpanjangan kartu sekaligus merapikan pusat data keanggotaan. Terkait urusan kocek, biaya perpanjangan kartu tetap merujuk pada regulasi PWI Pusat, yakni di kisaran Rp50 ribu saja.
Koperasi IKWI
Sadar organisasi tak melulu soal administrasi, duet kepengurusan baru ini juga merancang program konkret yang menyentuh dapur para anggotanya.
Lewat divisi kesejahteraan, PWI Sulsel akan mendirikan koperasi serba usaha yang digerakkan bersama Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI).
Koperasi yang membidik sektor pangan ini nantinya diproyeksikan menjalin kemitraan strategis dengan Bulog, demi menjamin ketersediaan bahan pokok dengan harga yang jauh lebih miring bagi anggota dan keluarga wartawan.
“PWI punya komitmen pada sektor kesejahteraan. Makanya, kami mendorong lahirnya koperasi pangan bersama IKWI, dan penjajakan kerja sama dengan Bulog akan segera kita lakukan,” tutur Suwardi yang saat ini juga dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Departemen Humas dan Media Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS).
Merespons derasnya arus teknologi informasi saat ini, PWI Sulsel juga bertekad membenahi ekosistem digital internal mereka.
Menjawab kritik tajam terkait mati surinya situs resmi PWI Sulsel selama ini, Suwardi menggaransi bahwa revitalisasi platform digital menjadi agenda yang tidak bisa ditawar lagi.
“Kami akan menggenjot pelatihan digital bagi anggota sekaligus menghidupkan kembali website PWI Sulsel agar performanya lebih lincah dan informatif. Di era digital ini, organisasi harus tampil terdepan dan adaptif,” pungkasnya menutup pembicaraan. ***













