BERITA TERKINIKOLOM

Anggota Komisi X DPR RI Bagi-Bagi Uang Di Maros

×

Anggota Komisi X DPR RI Bagi-Bagi Uang Di Maros

Sebarkan artikel ini
Awalnya, suasana di ruangan kelas 3 SDN 111 Inpres Polejiwa, Kelurahan Pettuadae, Kecamatan Turikale, Maros, Sulawesi Selatan, terlihat adem.
REVITALISASI SEKOLAH - Anggota Komisi X DPR RI melakukan reses ke SDN 111 Inpres Polejiwa, Kelurahan Pettuadae, Kecamatan Turikale dan SMPN 2 di Kecamatan Lau, Kabupaten Maros, Sabtu, 25 Juli 2026. Di momen itu, legislator berjanji akan memperjuangkan agar sekolah yang mereka kunjungi mendapat anggaran revitalisasi. (Foto : Rusdy Embas/MAKASSARCHANNEL.COM)

Awalnya, suasana di ruangan kelas 3 SDN 111 Inpres Polejiwa, Kelurahan Pettuadae, Kecamatan Turikale, Maros, Sulawesi Selatan, terlihat adem. Semua murid tenang, menumpukan tangan terlipat di meja kayu yang tidak lagi baru. Duduk manis.

Anak-anak berseragam pramuka itu terlihat tertib setelah mendapat informasi bahwa sekolah mereka bakal kedatangan “tamu istimewa”. Namun, hanya dalam sepeminum teh, suasana tenang di ruangan berkapasitas 30-an anak itu, tetiba menjadi riuh-rendah.

Perubahan suasana itu terjadi usai Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, mengajukan pertanyaan, “Dua kali dua, kali dua, hasilnya berapa.”

Pertanyaan nan sederhana itu sontak mendapat respons nyaris dari semua murid dalam ruangan itu. Dengan kejeliannya melihat reaksi anak-anak, legislator PKB dari Daerah PemilihanNusa Tenggara Barat itu berjalan ke arah anak yang tercepat memberi jawaban benar.

Bukan sekadar mendatangi anak tersebut, karena seorang asisten yang mendampingi Komisi X DPR RI dalam perjalanan itu menyodorkan selembar uang pecahan Rp50.000.

Saat berjalan ke bagian belakang ruang kelas anak itu duduk, seorang siswa lainnya, tanpa terlihat canggung, melakukan high-five (adu telapak tangan ke atas secara bersamaan dengan lawan bicara) dengan Lalu Hadrian Irfani sembari tersenyum, sebagai simbol ekspresi kegembiraan bersama.

Legislator PKB dari Dapil Sulawesi Selatan II Andi Muawiyah Ramly pun mengajukan pertanyaan yang “memaksa” murid berpikir lebih lama dari sebelumnya untuk menemukan jawaban yang benar.

Andi Muawiyah bertanya, “Ada 10 kue dikasih kepada lima anak, setiap anak dapat berapa kue?” Sebelum muncul jawaban benar, sejumlah anak memberi jawaban salah. Entah karena hanya sekadar menebak atau memang mereka berpikir.

Keriuhan masih terus berlanjut, karena anggota dewan lainnya juga mengajukan sejumlah pertanyaan senada. Di dalam ruang kelas itu sedikitnya, empat anak beruntung mendapatkan uang lembaran lima puluh ribu rupiah karena berhasil menjawab pertanyaan berbasis matematika dari paraa legislator.

Dari ruangan kelas tiga itu, enam Anggota Komisi X DPR RI berjalan ke arah musala berukuran relatif kecil untuk sekolah yang memiliki 176 murid. Mereka hanya melewati musala yang terletak nyaris di sudut bangunan sekolah sembari mendengar penjelasan dari Kepala SDN 111 Inpres Polejiwa Maros itu.

Sekilas, Lalu Hadrian meraba tembok bangunan yang sebenarnya sudah lapuk namun tak kentara karena tertutup cat berwarna terang. Dia hanya meraba tanpa komentar.

Baca Juga  Hasil Survei LSI Sebut Publik Ingin Perppu KPK

Usai foto bersama dan penyerahan plakat di halaman sekolah, rombongan Anggota Komisi X DPR RI itu bergerak menyusuri jalan poros Maros-Parepare menuju ke SMPN 2 Maros di Kecamatan Lau, Kabupaten Maros, dengan pengawalan petugas polisi lalu lintas.

Sama seperti kedatangan mereka di sekolah sebelumnya, di SMPN 2 Maros yang memiliki 900 lebih murid dan 45 guru tersebut, rombongan Komisi X DPR RI itu mendapat sambutan Angngaru’ dan Tari Paduppa persembahan murid sekolah tersebut.

Usai sambutan, salah seorang anggota rombongan lagi-lagi menyodorkan sejumlah lembaran uang kepada penari yang juga merupakan siswi-siswi sekolah tersebut.

Rombongan Anggota Komisi X meninjau lahan milik SMPN 2 Maros yang masih nganggur, sembari memperhatikan kondisi bangunan yang menurut informasi berdiri sejak tahun 1980-an. Di bagian belakang sekolah, ada lahan relatif luas “berhias” ilalang yang nyaris setinggi orang dewasa.

Di sekolah tersebut, legislator Senayan tersebut bagi-bagi uang lagi kepada beberapa pelajar dengan cara menguji kecepatan berpikir murid di bidang matematika masih berlangsung. Hanya saja, bobot pertanyaannya lebih berat
dibanding saat di sekolah sebelumnya. Kali ini, legislator Partai Gerindra, La Tinro La Tunrung, yang bertanya. Tempatnya pun bukan di dalam ruangan kelas.

Mantan Bupati Enrekang yang di dadanya tertera kata HALAL (akronim dari namanya, H La Tinro La Tunrung) mengajukan pertanyaan kepada murid SMPN 2 Maros yang berdiri di sisi lapangan olah raga bagian dalam area sekolah tersebut.

“Tiga akar 27 berapa,” tanya La Tinro tersenyum sembari menggerakkan jari tangan kanannya mengukir tanda akar di udara.

Jika di sekolah dasar, pertanyaan Lalu Hadrian langsung mendapat respons dari sejumlah murid. Maka siswa-siswi yang mendengar pertanyaan La Tinro tampak berpikir sejenak. Bahkan, jawaban beberapa anak, tidak tepat. Sampai salah seorang dari mereka mengucapkan angka benar. Dan lembaran lima puluh ribu pun keluar dari saku sang asisten Komisi X yang setia mengikuti rombongan.

Usai melakukan peninjauan lapangan, rombongan Anggota Komisi X DPR RI itu memasuki Aula SMPN 2 Maros. Di ruangan itu, Wakil Ketua Komisi X Lalu Hadrian Irfani menyampaikan sejumlah informasi terkait masalah pendidikan yang mereka tangani.

Bukan Sekadar Bawa Janji

Selain bagi-bagi uang untuk beberapa murid SD dan SMP, Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian menyampaikan sejumlah janji dalam rangkaian resesnya di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Baca Juga  Komisi X DPR Dukung SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026 Untuk Selamatkan Guru

Enam anggota Komisi X DPR RI dari Daerah Pemilihan Sulawesi Selatan hadir dalam reses tersebut. Mereka adalah, La Tinro La Tunrung, Muslimin Bando, Eva Stevany Rataba, Andi Muawiyah Ramly. Dua lainya bukan dari dapil Sulsel. Yakni; Lalu Hadrian Irfani dan Denny Cagur.

Hadir pula dalam kunjungan itu Direktur Guru PAUD dan PNF Kemendikdasmen Saiful Bari S.Kom, M.Eng, Kepala BBGTK Sulsel Dr Arman Agung MPd, dan Kepala BBPMP Sulsel Imran ST MT, Kepala Balai Bahasa Sulsel Toha Machsum S Ag M Ag, dan Kepala Dinas Pendidikan Maros Andi Wandi Bangsawan Putra Patabai SSTP MM.

Di dalam aula SMPN 2 Maros, Sabtu, 25 Juli 2026, Wakil Ketua X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, berjanji akan mengupayakan SDN 111 Inpres Polejiwa Maros dan SMPN 2 Maros mendapat bantuan revitalisasi. Apalagi mereka menyaksikan kondisi bangunan di dua sekolah tersebut.

Lalu Hadrian mengatakan, “Secara teori, kami di Komisi dengan eselon 1 sudah membahas dan memperjuangkan keperluan bapak dan ibu, sejak tahun 2025. Dan sekarang kami turun langsung melihat kondisi fisik.”

Termasuk untuk bantuan revitalisasi sekolah. Awalnya, anggaran dana untuk revitalisasi sekolah sebesar Rp11 triliun. Tetapi dalam perjalanannya, terjadi musibah bencana alam di beberapa wilayah Indonesia, sehingga sebagian dari dana tersebut pemerintah alihkan untuk membantu korban bencana. Sehingga tersisa Rp6 triliun
lebih. Dana sebesar itu harus dibagi ke seluruh Indonesia untuk membantu TK, PAUD, SD, SMP, SMA, dan SMK.

Lalu Hadrian menjelaskan juga bahwa Anggaran Belanja Tambahan tahun anggaran 2026 ini sudah cair untuk Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Anggaran tersebut untuk merevitalisasi kisaran 20.000 sekolah di seluruh Indonesia.

“Karena itu saya tegaskan, kami datang bukan dengan tangan kosong tetapi tindak lanjut dari pembahasan dengan pemerintah,” kata legislator PKB dari daerah pemilihan NTB tersebut.

Dia melanjutkan, “Kami tidak janji tetapi akan mengusahakan agar dapat bantuan.”

Lalu Hadrian menyentil pemerintah daerah. “Maaf ini Pak Kadis, pemerintah daerah kurang memperhatikan pembangunan sarana dan prasarana pendidikan. Yang diperhatikan hanya pembangunan irigasi.”

Terkait guru. Lalu Hadrian mengklaim, komisi X sedang memperjuangkan kesejahteraan pahlawan tanpa tanda jasa tersebut. Bahkan, sudah bertemu dengan ketua, khusus untuk membahas PPPK paruh waktu.

Baca Juga  Founder Komunitas Anak Pelangi Bertemu Rektor Universitas Pancasakti Makassar

Dia mengatakan, semua daerah kekurangan guru sekira 561.000 di seluruh Indonesia. Termasuk di Kabupaten Maros. Penyebaran tenaga guru di setiap daerah juga bervariasi. Karena itu akan ada penambahan guru secara bertahap. Awalnya, sekira 100.000 orang.

“Tahun 2027 akan ada penambahan guru sebagai penyemangat. Sudah ada juga kesepakatan untuk memberi bantuan perlengkapan sekolah dan bantuan tambahan untuk buku-buku pelajaran,” tegas Lalu Hadrian.

Dia menambahkan, “Jadi anggapan bahwa anggota dewan cuma datang duduk dan tidur di DPR itu tidak benar. Yang mengatakan seperti hanya caleg gagal. Atau mungkin juga ada oknum. Mohon doa. Di komisi istiqamah berjuang untuk guru.”

Terkait keluhan masyarakat, khususnya soal kesejahteraan, Lalu Hadrian mengatakan, “Komisi sejalan dengan yang dikhawatirkan karena kami semua berjuang.”

Lalu Hadrian memanfaatkan momen tersebut mengingatkan kepala sekolah agar membenahi Dapodik dengan cara mengisi informasi sesuai fakta. Jangan karena mengejar akreditasi, informasi di Dapodik tidak valid. Padahal, data itu akan menjadi acuan untuk menentukan pemberian bantuan kepada sekolah.

“Kalo bangunan rusak, tulis rusak. Jangan tulis baik hanya untuk mengejar akreditasi,” pesan legislator PKB dari Dapil NTB tersebut.

Revitalisasi

Wakil Ketua Komisi X DPR RI itu mengklaim juga bahwa revitalisasi sekolah itu usulan Komisi X. Awalnya, DAK dikirim langsung ke Pemda. Tetapi karena Pemerintah Daerah kurang perhatikan sarana pendidikan maka dana itu ditarik ke pusat.

“Kalau dana itu sudah ditrasfer ke sekolah jangan silau melihat jumlahnya,” pesan Lalu Hadrian.

Secara berseloroh, Lalu Hadrian mengatakan, “Kadang mobil kepala sekolah lebih bagus dibanding mobil anggota DPR jika dana revitalisasi sekolah sudah turun. Kalo sudah gitu, bisa jadi DAK. Daftar Antrean Kejaksaan.”

Saat mendampingi Anggota Komisi X DPR RI melakukan peninjauan ke beberap titik dalam lingkungan sekolah, Kepala SMPN 2 Maros Zuraida SPd MPd, mengatakan, “Kami sudah tak ada ruangan lagi. Sementara di satu sisi masih punya lahan kosong yang cukup luas.”

Dia melanjutkan, “Yang kurang perpustakaan. Gedungnya pun sudah lapuk. Kalau dicat harus berhati-kati karena.” #Salam makchaners.

*) Muhammad Rusdy Embas, Pemimpin Redaksi MAKASSARCHANNEL.COM

Tinggalkan Balasan