BERITA TERKINIEDUKASI

Remaja Masjid Khadijah Binti Khuwailid Pallangga Diajari Nulis Puisi

×

Remaja Masjid Khadijah Binti Khuwailid Pallangga Diajari Nulis Puisi

Sebarkan artikel ini

Ketika kucing persianya hilang, muncul ide membuat puisi tentang kucing. Meski di dalam puisinya tidak ada kata kucing. Rusdin Tompo lalu membaca puisi yang dia buat, sebagai contohnya.

Anak-anak juga bisa membuat puisi tentang nenek, saat melihat kulit nenek yang keriput, atau puisi tentang kampung halaman ketika sedang mudik. Begitu pun, kalau melihat daun tertiup angin, bisa saja muncul ide menulis puisi, seolah daun itu memanggil kita untuk merasakan teduhnya.

Peserta diminta tidak ragu menggunakan kata-kata yang berbeda, bukan meniru kata-kata dari puisi-puisi yang sudah ada. Karena mereka punya hak istimewa sebagai penulis puisi, yakni licentia poetica.

Agus K Saputra memulai materinya dengan bercerita pengalamannya ke objek wisata Bantimurung, Maros. Dari situ, dia memotret, lalu dibuatkan puisi berjudul Bantimurung. Selanjutnya, puisi itu dibuat lagi jadi musikalisasi puisi oleh sahabatnya, Soni Hendrawan.

Berita Terkait:
Fosait Bedah Puisi Pada Sebuah Reuni Karya Aslan Abidin

Dia mengaku sering menyimpan foto atau video yang kemudian menjadi inspirasi puisi-puisinya. Kalau puisi sudah selesai, dia kirim ke temannya untuk dimusikaliasi menggunakan gitar bambu yang direkam melalui smartphone.

Menurut pegawai salah satu BUMN yang setiap hari menulis puisi itu, mengatakan, menulis itu kebiasaan yang perlu dilatihkan, asal jangan takut salah. Anak-anak diajak untuk rajin membaca, minimal bacaan yang jadi kesukaannya.

Di akhir kegiatan, Agus K Saputra membagikan buku kumpulan puisi karyanya, berjudul Bermain di Pasar Ampenan. Sedangkan, Rusdin memberikan buku antologi puisi, “Resolusi Dalam Puisi” karya penyair KoPi Makassar, kepada Nurjazilah Jamal (Lala), salah seorang peserta yang menang games kosakata.

“Ini tanggung jawab kami sebagai penggiat literasi untuk mendorong anak-anak menulis dan menyukai karya sastra, khusuanya puisi,” pungkas Rusdin Tompo. (her)

Tinggalkan Balasan