Kepala KUA itu mengaku bulu kuduknya merinding mambaca judul buku karya Bang Maman itu. Khususnya, permintaan kain kafan sebagai salah satu mahar. Itu simbol kematian sekaligus keimanan luar biasa.
“Ini sangat luar biasa. Sebuah kisah nyata yang dapat memberi inspirasi dan juga pelajaran berharga dalam mengarungi rumah tangga serta menjalani kehidupan sebagai makhluk sosial dan sebagai hamba Allah yang diciptakan di muka bumi ini untuk beribadah kepada-Nya,” kata Ruslan.
Berita Terkait :
Buku Maharku: Pedang Dan Kain Kafan Jadi Medium Dakwah
“InsyaAllah, sebentar di pesawat kembali ke Fakfak, saya akan baca tuntas karena buku sangat menarik untuk dibaca. Barusan, tadi saya posting di facebook banyak yang penasaran dengan buku ini. Bahkan ada yang minta dikirimkan,” kata Ruslan.
Kepala KUA yang tidak pernah lelah melakukan pelayanan kepada masyarakat menyebrang dari satu pulau ke pulau lainnya. Dia sudah terbiasa keluar dan masuk hutan mendatangi warga kampung di tiga kecamatan di Fakfak Papua Barat. Yakni Kecamatan Kokas, Arguni, dan Kecamatan Bahamdandara.
“Saya juga sangat bersyukur hari ini, karena selain ketemu adik Rahman Rumaday juga dapat bersilaturahmi dengan Bapak Zulkarnain Hamson, Wakil Rektor Universitas Indonesia Timur (UIT) serta beberapa direktur media online seperti Bapak Rusdy Embas direktur media online makassarchannel.com dan Arwan Dg Awing direktur media online BugisPos.com,” katanya. (rum)













