Imran sudah 30 tahun mengabdi di almamaternya, Unhas. Sempat belajar di Jerman tahun 1996 memanfaatkan beasiswa. Di usia 57 tahun, dia mengaku tetap semangat. Salah satu penyebabnya karena tetap menjaga silaturahim. Komen teman-teman yang penuh canda di grup membuat suasana hati selalu gembira.
Disusul Prof Darmawan Salman. Dengan tawa khasnya, dia mengaku sudah mengenal Hasyim Gani sejak masih SMP. Bukan karena sekolahnya, tetapi mereka saling kenal ketika sama-sama mewakili sekolah masing-masing sebagai bintang pelajar. Termasuk Dodi Junari yang setamat SMA memilih jadi penerbang.
Darmawan juga masih ingat ketika duduk di kelas yang sama dengan Jahidin yang kini sudah menyandang bintang satu di pundak.
“Jahidin seingat saya, sekelas selama dua tahun dan sering jalan bareng pulang sekolah. Dan sering sama-sama makan ubi goreng di depan sekolah,” kata Mawan, sapaan akrabnya.
Berita Terkait :
Alumni Angkatan 82 SMA Negeri 1 Bulukumba Reuni Melalui Teleconference
Saat ini, Mawan mengelola S3 Ilmu Pertanian Unhas. Pendidikannya ditempuh di dalam negeri semua, di Bogor dan Bandung.
“Meski jarang bergabung di grup, namun tetap memantau dan tahan diri untuk tidak komentar,” katanya tentang grup WA Alumni Angkatan 82 SMAN Bulukumba ini.
Frasa terakhir kalimat Mawan itu, langsung direspon partisipan dengan mengatakan, tidak boleh menahan diri prof. Wajib komen di grup.
Kadis Pendidikan Bulukumba Ahmad Januaris mengaku, bersyukur bisa bertemu, meski hanya secara online. Alumni Fisika IKIP Ujungpandang ini mengajar di SMA Bantaeng pada awal karirnya.
Januaris kembali ke kampung halamannya, Bulukumba, mengabdi pada tahun 2009. Meski demikian, dia memilih menetap di Bantaeng. Apatah lagi istrinya juga orang Bantaeng.













