SEJUMLAH pegiat literasi memadati Sunachi Restaurant Hotel Claro Makassar, Sabtu akhir pekan, 18 Juli 2026. Sekira 40-an peserta hadir di acara tersebut. Mereka berasal dari beragam latar belakang disiplin ilmu.
Mereka menempati kursi bernuansa abu-abu di empat meja dengan warna taplak senada. Tujuannya satu, membincangkan buku karya Rahman Rumaday, Founder Komunitas Anak Pelangi yang juga Koordinator Forum Janda Inspiratif.
Setelah MC Sadrianah yang guru mata pelajaran Agama Islam SMAN 5 Makassar membuka acara dengan gaya khasnya, Bang Maman, sapaan akrab Rahman Rumaday, mengisahkan pertemuannya dengan seorang kakek yang menginspirasi penulisan buku berjudul Ketika Kata Menjadi Mantra tersebut.
Pertemuan dengan Sang Kakek seusai salat Isya malam satu Ramadan di salah satu hotel di Kawasan Bisnis Panakkukan Mas Makassar, menurut Bang Maman menjadi entry point munculnya penulisan buku “misterius” tersebut.
Bang Maman mengaku, sumber utama buku ini (si kakek dari Maluku) “mengancam” tak mau pulang kampung jika belum menyampaikan sejumlah KATA yang selanjutnya dimaknai sebagai MANTRA dalam buku ini.
Hadir empat pembicara yang membahas buku bersampul dominan hitam tersebut. Mereka adalah; Ahli Filsafat Bahasa Unhas Prof Mardi Adi Armin, akademisi UMI Dr Syafruddin Muhtamar, Sastrawan Muhammad Amir Jaya, dan jurnalis Arwan Rusli Daeng Awing.
Tampak pula di ruangan berkapasitas 40-an orang itu, akademisi Universitas Negeri Makassar (UNM) Prof Kembong Daeng, akademisi Universitas Islam Negeri Makasar (UIN) Dr Fadli Andi asif, dan kader PKS Sulsel Ruangsah Irwan Waji.
Pasanjak Mangkasara’ Syahrir Rani Daeng Nassa, Koordinator Satupena Sulawesi Selatan Rusdin Tompo, Ketua PEMBIS (Pengusa Menulis Buku) Heny Suahaeny, Asrul Sani Abu, dan sejumlah anggota PEMBIS.
Hadir pula Ketua Komunitas Anak Pelangi Suriati Tabi dan Ibu-Ibu Rempong dari Jalan Daeng Muda Parang Tambung, Makassar.
Buku Undangan Pernikahan
Wakil Ketua DPRD Makassar Anwar Faruq, SKom MM, ketika memberi sambutannya, mengapresiasi pegiat literasi dan pengusaha yang hadir di forum tersebut.
Secara khusus, Ketua DPW PKS Sulawesi Selatan itu, menyebut Bang Maman sebagai sosok istimewa. Selain berlatar belakang penulis juga banyak dipengaruhi oleh para penulis, budayawan, serta sastrawan yang hadir di Sunachi saat itu.
Menurut Anwar Faruq, nyaris semua kegiatan, Rahman rangkum sebagai laporan kemudian dia bukukan. Bahkan, pesan-pesan seorang kader di partai melalui WA pun, dia bukukan juga.
“Cuma sayang undangan pernikahan belum dia bukukan,” seloroh Anwar Faruq menggoda Maman.
Dia melanjutkan, “Untuk itu saya ucapkan terimakasih kepada bapak/ibu sekalian yang sempat hadir dan memberikan apresiasi terhadap buku ini.”
Mantranya Mana?
Pegiat literasi, Andi Marliah, juga memuji kehadiran buku tersebut. Selain judulnya yang sukses menarik perhatian, desain dan paduan warna covernya juga membuat pembaca ingin segera mengetahui mantra apa yang ada dalam buku tersebut.
“Sayangnya, buku ini, tidak memuat mantra-mantra yang dimaksud. Buku ini masih misteri,” tutur Andi Marliah usai membaca singkat buku ini.
Dia juga menanyakan mantra pesan sang orang tua yang penulis temui khusus di sebuah hotel dan menjadi inspirasi penulisan buku itu.
Merespons “gugatan” Andi Marliah, sang penulis Rahman Rumaday rupanya memiliki alasan sendiri dan tetap membiarkannya menjadi misteri agar tetap menjadi mantra dalam sunyi.Bagi Bang Maman, diam pun bisa menjadi mantra.
Sementara Presiden FOSAIT, Amir Jaya, mengaku sangat terkesan atas kehadiran buku tersebut. Selain bersampul manis, penulis menyisipkan banyak quote-quote kehidupan yang juga menampilkan pesan-pesan rahasia layaknya mantra yang memang bukan untuk diumbar.
“Buku ini penuh pesan-pesan rahasia,” ujar Amir Jaya tanpa merinci makna diksi rahasia yang dia maksud.
Sedangkan Arwan menyebut mantra itu semacam puisi lama yang memiliki kekuatan magis. Dalam bahasa sederhana dalam pemahaman lokal Bugis-Makassar, puisi adalah baca-baca.
Kata-kata menurut Arwan, bisa menjadi mantra jika selalu diulang-ulang dan itu terkait dengan keyakinan seseorang yang mengucapkannya.
Katutui Lilanu
Sementara Prof Kembong Daeng, memberi tanggapan dalam kalimat sederhana sarat makna dan mudah dipahami. Melalui buku itu, penulis memberi mantra untuk mengobati diri sendiri melalui kata.
“Ketika lidah dijaga, kata menjadi mantra. Katutui lilanu,” kata Prof kembong Daeng memberi pesan bijak.
Dia melanjutkan, “Kata lebih tajam dari pedang dan mantra sesungguhnya adalah doa. Ada untuk keselamatan.”
Mantra yang Bang Maman maksud dalam buku itu adalah keselamatan dunia-khirat karena dengan membaca akan selalu mengingat Allah.
“Katakanlah dengan kata yang bijak, insyaAllah akan menjadi mantra dalam kehidupan,” kata Prof Kembong.
Manifesto Bahasa
Prof Mardi menyebut buku karya Rahman Rumaday itu bergaya manifesto linguistik. Menjadi pengingat kecil, betapa jiwa perlu asupan pengetahuan sejati, melalui kata-kata yang mengandung mantra.
Sejatinya, menurut Guru Besar Filsafat Bahasa Unhas itu, Bang Maman sedang menawarkan sebuah Manifesto Bahasa. Mengajak membaca kembali sejarah bahasa sebagai sejarah kemanusiaan itu sendiri.
Bukan untuk mengobarkan revolusi politik, melainkan manifesto yang mengembalikan bahasa kepada martabatnya sebagai fondasi kesadaran, kebudayaan, an peradaban.
Dalam pengertian filosofis, buku ini mendeklarasikan gagasan tentang cara memandang dunia. Bang Maman sedang mengajukan tesis bahwa bahasa bukan hanya merepresentasikan realitas, tetapi turut melahirkan realitas itu sendiri.
Transaksi Linguistik
Prof Mardi menilai buku Ketika Kaata Menjadi Mantra bukan sebagai buku motivasi menulis, melainkan sebuah ikhtiar intelektual yang mengingatkan kembali bahwa kata memiliki dimensi ontologis, epistemologis, sekaligus spiritual.
Dalam pembahasannya tentang makna kata itu sendiri, Prof Mardi menyampaikan ungkapan menggoda dengan mengatakan, “Transaksi linguistik antara Adam dan Tuhan.” Ini membuka horizon filsafat bahasa yang jauh lebih luas.
Dia bertanya, mengapa Allah tidak mengawali penciptaan manusia dengan mengajarkan teknik bertahan hidup? Mengapa bukan keterampilan berburu, bercocok tanam, atau membangun peradaban yang pertama kali diberikan kepada Adam?
Atas ungkapan dalam nada tanya itu, Prof Mardi kemudian mengajak hadirin merenungi firman Allah SWT dalam Surah Albaqarah : 31 yang artinya, “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama semuanya.” Prof Mardi menyebut itu sebagai transaksi linguistik pertama dalam sejarah manusia.
Sebelum manusia berkomunikasi lisan kepada sesamanya menurut Prof Mardi, ia terlebih dahulu berbicara dengan Tuhannya melalui proses pengajaran nama-nama.
Sebelum ada dialog antarmanusia, telah ada dialog Ilahiah. Sebelum ada komunikasi horizontal, telah lebih dahulu lahir komunikasi vertikal.
Artinya, bahasa bukan sebatas produk sosial sebagaimana dipahami oleh banyak teori linguistik modern. Bahasa, dalam perspektif Al-Qur’an, memiliki dimensi teologis yang lahir dari pengajaran Tuhan kepada manusia.
Bahkan, Prof Mardi menyebut, bahasa memiliki dua jangkar. Jangkar pertama adalah jangkar transenden. Yakni bahasa memperoleh legitimasi ontologisnya dari Tuhan. Bukan semata-mata merupakan hasil konvensi, kesepakatan sosial, ataupun evolusi budaya, tetapi berakar pada wahyu sebagai sumber makna pertama. Dalam
perspektif ini, setiap kata membawa jejak asal-usul Ilahiah.
Jangkar kedua adalah jangkar iman. Bahasa menemukan nilai etiknya bukan ketika ia berhasil memengaruhi orang lain, melainkan ketika ia menghadirkan kebenaran, keadilan, kasih sayang, dan kemaslahatan. Karena iman bukan hanya sesuatu yang diyakini, melainkan sesuatu yang diwujudkan melalui tutur kata.
Berangkat dari pemahaman itu, Prof Mardi menegaskan bahwa bahasa bukan lagi sebatas persoalan retorika, tetapi sudah menyangkut moral. Setiap kata selalu memikul konsekuensi etis yang dapat menjadi jalan menuju pencerahan.
Namun pada saat yang sama, kata juga dapat menjadi instrumen manipulasi yang dapat menjadi doa yang mengangkat manusia. Atau menjadi dusta yang menjatuhkan peradaban.
Bahkan, dalam tradisi Islam, Rasulullah SAW mengaitkan kualitas keimanan dengan kualitas bahasa. Itu karena iman tidak hanya tampak pada apa yang dilakukan tangan, tetapi juga pada apa yang keluar dari lisan.
Di situlah kedalaman buku Ketika Kata Menjadi Mantra yang tidak sedang mengajarkan bagaimana merangkai kalimat yang indah. Tetapi mengingatkan bahwa setiap kata adalah amanah ontologis sekaligus amanah spiritual. Kata bukan benda mati yang meluncur begitu saja dari bibir manusia. Ia adalah peristiwa yang membentuk cara manusia melihat dunia, memperlakukan sesama, bahkan memahami Tuhannya.
Bahasa akan tetap menjadi cahaya selama ia berjangkar pada transendensi dan berlayar dengan iman. Ketika dua jangkar itu lepas, kata-kata kehilangan ruhnya; ia tetap terdengar, tetapi tidak lagi menghidupkan.
Sebaliknya, ketika keduanya menyatu, kata tidak sebatas menjadi rangkaian bunyi, melainkan menjelma menjadi kekuatan yang mengubah manusia, membangun peradaban, dan mengantarkan jiwa kembali kepada Tuhan.
Bang Maman bahkan mengingatkan, agar membaca buku Ketika Kata Menjadi Mantra secara perlahan. Mungkin itulah, mantra tersembunyi yang bersemayam di sela rangkaian diksi dalam buku itu.
Dan itu pula yang membuat buku Ketika Kata Menjadi Mantra itu makin misterius. Sejak membaca lembar pertama sejatinya sudah menjadi mantra bagi pembaca untuk terus membaca dan membaca sampai benar-benar menemukan mantranya dalam sebuah kesimpulan pembaca.
Tuah Suci
Akademisi UMI Dr Syafruddin menyebut, beragam mantra yang Rahman Rumaday sembunyikan dalam bukunya adalah sejenis sains Sacra. Yang mungkin saja lebih banyak digunakan dalam konteks fungsi etik atau moril.
Mantra yang telah terwariskan ini, adalah kata-kata yang mengandung tuah suci. Yang dalam kerangka bahasa tradisi, merupakan wadah untuk mengugkapkan kehendak suci manusiawi yang oreintasi utamanya adalah permohonan, permintaan pada pemilik Kekuatan Kesucian yang bersifat supramanusiawi (Ilahiyah).
Budaya ini adalah khas masyarakat Tradisi, ketika keyakinan hanya bertumpu pada satu kekuatan utama, yakni Ketuhanan. Ketika Manusia sepenuhnya hanya bersandar pada keberadaan-Nya.
Melalui buku ini Rahman Rumaday, nampaknya ingin menyampaikan dalam kekinian ilmu modern seringkali susah memahami mantra. Namun dalam praktiknya dapat saja dia dijelaskan secara ilmiah.
Bang Maman mengirim pesan bahwa kata-kata mantra bersifat logis karena dapat ditemukan tafsirnya melalui pengalaman yang membentuk keyakinan. Dan karena keyakinan, maka mantra itu memiliki kekuatan.
Doktor Syafruddin mengatakan, tidak ada dikotomi diametral antara sains modern dan sains tradisi. Sebuah tawaran gagasan yang mungkin saja, dapat memberi titik temu antara dua dunia, yang sesungguhnya bertolakbelakang secara paradigmatik.
Karena itu, dia mengajak membaca dan mencerna esensi yang terbenam di balik buku Ketika Kata Menjadi Mantra, secara perlahan. Dan mungkin tidak salah, jika kita golongkan sebagai esai-esai filsafat-spritual populer.
Semoga hikmah kebijaksanaan buku karya mutakhir Rahman Rumaday ini, dapat hinggap dan meresap jauh ke dalam pori-pori jiwa.
Sejatinya diskusi ini sangat bernas. Banyak pesan yang tersurat dan tersirat yang bermunculan. Sayangnya, diskusi yang dimoderatori Cerpenis Anwar Nasyaruddin itu terganggu oleh suara musik dari ruangan lain.
Seolah tahu jika di ruang tetangganya di Sunachi Restoran Hotel Claro itu sedang membahas Kata yang bisa menjelma menjadi Mantra. Alunan suara yang menerobos masuk tanpa ampun juga mungkin sebuah kiriman mantra tanpa disadari pengirimnya yang membuat kawan tetangga kursi saya menggoyaangkan kaki seolah terhinotis oleh suara musik itu.
Mungkin ini juga bisa menjadi mantra untuk pengelola Sunachi Restoran Hotel Claro Makassar itu agar suara bising dari salah satu ruangan tidak mengganggu keseriusan tetangganya yang sementara mabbaca-baca di ruangan berkapasitas 50 orang itu. Salam MAKCANERS.
*) Muhammad Rusdy Embas, Pemimpin Redaksi MAKASSARCHANNEL.COM












