MAKASSARCHANNEL, MAKASSAR – Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan atau BBGTK Sulsel latih 148 BCKS di Karebosi Premier Hotel Makassar, Rabu, 24 Agustus 2026.
Sebanyak 148 Bakal Calon Kepala Sekolah (BCKS) itu berasal dari 24 kabupaten dan kota se Sulawesi Selatan yang sudah lolos seleksi. Mereka mengikuti pelatihan yang diagendakan berlangsung selama 10 hari.
Direktur Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, dan Tenaga Kependidikan (KSPSTK) Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Dr Iwan Junaedi SSi, MPd, membuka acara tersebut secara daring.
Direktur KSPSTK Iwan Junaedi dalam arahannya sebelum membuka kegiatan mengatakan, BCKS yang mengikuti pelatihan sudah memenuhi syarat sesuai sistem.
Mereka yang terpilih mengikuti pelatihan adalah yang sudah lulus tes substansi dan sudah terpetakan menjadi kepala sekolah yang menggunakan dana dari APBN.
“Hanya orang-orang yang memenuhi syarat mengikuti pelatihan BCKS,” tegas Dr Iwan Junaedi.
Dia mengingatkan, sebagai bakal calon kepala sekolah, peserta masih harus mengikuti pendidikan selama 10 hari dan menyelesaikan tugas dengan mempresentasikan karyanya sebelum mendapat sertifikat kelulusan.
Terkait karya ilmiah ini, Iwan Junaidi mengingatkan peserta pelatihan BCKS agar tidak menjadi objek teknologi tapi jadilah pengguna yang mengendalikan teknologi.
“Jangan minta tolong kepada Gemini untuk membuatkan karya ilmiahnya,” tegas Direktur KSPSTK Ditjen GTK Kemendikdasmen.
Pilar Peradaban
Sementara itu, Kepala BBGTK Sulsel Dr Arman Agung MPd mengingatkan bahwa kepala sekolah itu pilar pendidikan sekaligus pilar peradaban.
“Kepala sekolah adalah jantung manajemen pendidikan dan agen transformasi yang harus mampu menciptakan ekosistem belajar yang humanis dan berdaya saing,” kata Arman Agung.
Dia melanjutkan, “Karena itu diklat ini akan melahirkan pemimpin yang visioner daptif dan berorientasi pada mutu pembelajaran.”
Strategi pembelajaran menurut Arman Agung terbagi tiga skema. Pertama pembelajaran mandiri terbimbing yang berlangsung secara daring menggunakan platform Learning Management System (LMS).
Kedua pembelajaran tatap muka yang berlangsung di tempat pelatihan bersama para pengajar, fasilitator, dan rekan sejawat untuk mendalami materi kepemimpinan.
Ketiga pembelajaran dengan melakukan kunjungan lapangan ke satuan pendidikan yang diharapkan memberi pemahaman mendalam tentang bagaimana calom kepala sekolah memberi pemahaman yang dibutuhkan dalam menjalankan perannya.
Arman Agung juga mengatakan, kepala sekolah harus memahami karakteristik peserta didik dan menjembatani kebijakan pusat dengan konteks lokal.
Membina hubungan baik dengan komunitas serta sebagai peran strategis untuk memastikan anak-anak tumbuh dalam ekosistem belajar yang sehat aman dan bermakna.
Hadir dalam kegiatan itu antara lain, Plt Sekretaris Dinas Pendidikan Sulsel Dr Mustakim, Ketua PGRI Sulsel Prof Hasnawi Haris, mantan Sekretaris Dinas Pendidikan Sulsel Dr Ibrahim Asri, dan fasilitator. ***












