MAKASSARCHANNEL – Mardijiyono Karto Sentono, atau dengan sapaan Mbah Mardi adalah jemaah haji Indonesia tertua 2026, dengan usia 103 tahun. Mba Mardi adalah jemaah dari Kapanewon Piyungan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.
Ia seorang petani. Untuk bisa memenuhi ongkos naik haji, pria kelahiran 1923 ini menabung selama 50 tahun dan menjual tiga ekor sapi untuk tambahan.
Baca Juga: 13.171 Jemaah Haji Menjalani Perawatan, 10 Orang Wafat
Mbah Mardi terbang dalam Kloter 9 Embarkasi Yogyakarta dan tiba di Madinah Minggu 3 Mei 2026. Selama menjalani ibadah haji, Mbah Mardi menggunakan kursi roda.
Di Madinah, Mbah Mardi juga telah menjalani sejumlah ibadah. Mulai dari salat di Masjid Nabawi hingga berziarah ke Raudhah dan Makam Rasulullah SAW.
Mengutip situs resmi Kementerian Haji dan Umrah, Mbah Mardi dengan kursi roda, berangkat dari Hotel Makarem Haram View Suites Madinah menuju Makkah Senin (11/5/2026) sore.
Baca Juga: Ada Masalah Haji, Jemaah dan Petugas Bisa Mengadu Melalui Kawal Haji
Di Makkah para jemaah haji menjalani umrah wajib sekaligus bersiap menghadapi puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Armuzna di Mina.
Sejak jelang salat Ashar sekitar pukul 15.30, Mbah Mardi sudah berada di dalam bus bersama sejumlah jemaah lanjut usia. Mereka menunggu proses perjalanan menuju Makkah. Sementara sebagian jemaah lain masih menunaikan salat Ashar di Masjid Nabawi.
Petugas menjadwalkan Rombongan YIA 9 singgah di Masjid Dzulhulaifah atau Bir Ali untuk mengambil niat ihram sebelum melanjutkan perjalanan menuju Makkah.
Bagi jemaah yang mampu dapat melaksanakan salat sunnah di masjid. Sementara jemaah lansia dan pengguna kursi roda tetap berada di dalam bus.
Petugas membantu proses mobilitas Mbah Mardi mulai dari hotel hingga naik ke bus yang akan membawa rombongan menuju Bir Ali untuk mengambil miqat dan niat ihram.
Apa Resep Mbah Mardi?
Meski dengan tubuh yang renta dengan kursi roda, usia lebih dari satu abad, Mbah Mardi tetap bersemangat.
Menjalani perjalanan menuju Makkah dengan semangat dan disiplin, Mbah Mardi menginspirasi jemaah lansia memenuhi panggilan haji.
Dengan pendampingan petugas dan perhatian penuh terhadap kondisi kesehatannya, Mbah Mardi menapaki fase terpenting dalam ibadah haji.
Tentang apa resepnya sehingga petani berumur panjang ini memiliki kestabilan fisik dan mental. Bahkan ia sanggup menjalani ibadah haji. Mbah Mardi tindak mengungkap panjang lebar.
Ia hanya mengaku selalu hidup dengan ikhlas dan bahagia, dalam kondisi apa pun. Ia menambahkan, sepanjang hidupnya yang sudah melebihi satu abad, tidak pernah merokok. Belum pernah merasakan bagaimana rasanya rokok.
Meski sempat menjalani perawatan, di rumah sakit di Madinah, kondisi kesehatan Mbah Mardi telah pulih dan sehat. Selama masa pemulihan, ia tetap kooperatif dan memiliki nafsu makan yang stabil.
“Makanannya enak, saya suka,” katanya.***













