Sementara itu, Rahman Rumaday dalam paparannya mengaku, jika berbicara soal lorong dan potensinya, dia kadang lupa waktu. Itu karena dia sudah 15 tahun urusi lorong yang menyebabkan penyelesaian studinya tersendat.
Bahkan, rangkaian pengalamannya menjelajah dari lorong ke lorong, dia sudah menyelesaikan sebuah buku yang bercerita tentang dinamika kehidupan masyarakat lorong dari tahun 2005 hingga 2019.
Dia juga bercerita sering berurusan dengan pihak kepolisian jika ada anak-anak lorong binaannya yang ditangkap polisi. Salah satu kawasan yang ditelitinya, sebelum bermukim di Kelurahan Parang Tambang adalah Jipang.
Berita Terkait :
Pelangi Cinta Di Lorong Daeng Jakking Parang Tambung
Maman menyebut program lorong yang digaungkan Wali Kota Makassar Danny Pomanto cukup bagus untuk memberdayakan masyarakat. Kendati demikian, dia mengkritik slogan “Jagai anak ta” yang digunakan terkait program itu.
Alasannya, warga bisa menerjemahkan slogan itu hanya akan mengawasi anak masing-masing sehingga cenderung mengabaikan anak-anak lain. Dan yang lebih penting dari itu adalah implementasi dari program itu. Apakah bisa jalan sesuai harapan atau hanya sebatas program saja.
Menurut pria berkacamata yang diakrab di sapa Bang Maman itu, untuk menyukseskan sebuah program maka yang terlebih dulu dibangun adalah kemampuan masyarakat lorong. Jika kapatitas mereka meningkat, maka dengan sendirinya, warga itu akan menjadi kreatif.
Maman mencontohkan, warga di Jl Daeng Jakking Parang Tambung dan sekitarnya yang menjadi pusat pengembangan pemberdayaan masyarakat binaan Komunitas Anak Pelangi (K-Apel) yang didirikannya.
Sekretaris Pimda 28 Tapak Suci, Haeruddin Makasau, dalam penjelasannya mengisahkan dinamika Pencak Silat hingga menjadi salah satu kekayaan budaya Indonesia yang sudah mendapat kengakuan dari UNESCO. (rus)













