BERITA TERKINIEDUKASI

SMA Islam Athirah Makassar Bawa 100 Pengurus OSIS Kuasai Tiga Dunia

×

SMA Islam Athirah Makassar Bawa 100 Pengurus OSIS Kuasai Tiga Dunia

Sebarkan artikel ini
SMA Islam Athirah Makassar bawa 100 pengurus OSIS kuasai tiga dunia. Mereka berasal dari sekolah pilihan di Sulsel, Sulbar, dan Sultra
MLSC ATHIRAH - Peserta Maritime Leadership Students Camp (MLSC) Vol II bertema Young Leaders for Future Impact yang SMA Islam Athirah Makassar gelar selama tiga hari. (Foto : Dok SMA Islam Athirah Makassar)

MAKASSARCHANNEL, MAKASSARSMA Islam Athirah Makassar bawa 100 pengurus OSIS kuasai tiga dunia.

Seratus ketua dan pengurus OSIS pilihan dari tingkat SMP dan SMA se-Sulsel, Sulbar, dan Sultra itu sedang melangkah memasuki sebuah laboratorium sosial.

Mata menatap lurus, memancarkan kombinasi rasa ingin tahu yang membuncah dan tekad yang sulit disembunyikan.

Mereka bukan sedang menghadiri seminar biasa di dalam ruangan berpendingin udara yang membosankan. Di tempat ini, masa depan tidak sekadar didiskusikan, melainkan ditempa secara nyata.

Selama tiga hari, tanggal 18 hingga 20 Agustus 2026, SMA Islam Athirah Makassar menggelar Maritime Leadership Students Camp (MLSC) Vol II bertema “Young Leaders for Future Impact”.

Penyelenggaran membatasi ketat peserta perhelatan tersebut dan memilih 100 orang dari sekolah-sekolah terpilih. Pembatasan ini bukan tanpa alasan, melainkan demi memastikan setiap peserta mendapatkan intensitas pembelajaran kepemimpinan yang mendalam, transformatif, dan berdampak langsung pada karakter mereka.

MLSC Vol II dirancang sebagai model pendidikan kepemimpinan yang mematahkan sekat-sekat kelas tradisional. Kegiatan ini mempertemukan para pemimpin muda Sulawesi dengan tiga ruang belajar vital yang saling bertautan yakni pusat pemerintahan, laboratorium akademik perguruan tinggi, dan dinamika alam maritim.

Para peserta tidak diizinkan hanya duduk pasif mendengarkan teori abstrak tentang cara memimpin. Mereka dibawa langsung menghirup atmosfer pengambilan keputusan, merasakan realitas dinamika publik, hingga menantang diri di tengah ombak pesisir.

Jejaring Lintas Sekolah

Momentum pembukaan yang berlangsung di Auditorium Sekolah Islam Athirah Makassar menjadi titik mula berseminya jejaring sosial para calon pemimpin ini.

Suasana riuh hangat menyelimuti ruangan saat anak-anak muda dari berbagai latar belakang budaya dan daerah di Sulawesi saling bertukar sapa. Ini bukan sekadar acara seremonial kaku atau perkemahan OSIS biasa.

Sejak menit pertama, para peserta disadarkan bahwa mereka sedang membangun sebuah modal sosial yang krusial, sebuah jejaring lintas sekolah dan wilayah yang kelak akan menjadi fondasi kolaborasi mereka di masa depan.

Usai prosesi pembukaan, perjalanan belajar langsung mulai dari materi tentang pemimpin muda. Hari berikutnya, kunjungan pertama mengarah ke Kantor Gubernur Sulawesi Selatan.

Baca Juga  Jokowi Naik MRT Bersama Prabowo

Berdiri di koridor-koridor tempat kebijakan publik dirumuskan memberikan getaran tersendiri bagi para pengurus OSIS ini. Di sini, kepemimpinan tidak lagi dipahami sebagai posisi untuk memerintah, melainkan sebuah seni mengelola kompleksitas dan melayani masyarakat.

Peserta berinteraksi langsung dengan jajaran birokrasi, mengamati bagaimana seorang kepala daerah harus menyeimbangkan antara regulasi, tuntutan warga, dan visi pembangunan jangka panjang.

Pengalaman berlanjut saat melangkah ke Gedung DPRD Sulawesi Selatan. Di ruang mimbar rakyat ini, siswa diperkenalkan pada fungsi representasi masyarakat, mekanisme penyusunan undang-undang daerah, dan seni bernegosiasi. Tanpa menyentuh ranah politik praktis, kunjungan ini difokuskan penuh sebagai sarana pendidikan kewargaan (civic education).

Siswa diajak memahami bahwa demokrasi adalah ruang dialog yang membutuhkan kedewasaan, di mana setiap gagasan harus diuji dan setiap suara rakyat harus diwakili secara jujur.

Tak berhenti di ranah pemerintahan, rombongan MLSC Vol II kemudian bertolak menuju Kampus Unhas Makassar. Di pusat keunggulan akademik ini, wawasan para peserta dibuka lebar-lebar. Mengelilingi fasilitas penelitian dan berinteraksi dengan iklim akademik Unhas mendorong mereka untuk melihat jauh ke depan.

Pendidikan tinggi dipresentasikan bukan sekadar sebagai jenjang setelah lulus sekolah, melainkan sebagai kawah candradimuka untuk mengasah daya kritis, melahirkan inovasi, dan meningkatkan kapasitas diri agar siap bersaing di tingkat global.

Puncak dinamika kegiatan terjadi ketika seluruh peserta diboyong menyeberang menuju Pulau Kayangan, Kota Makassar. Di pulau berselimut angin laut ini, mancakrida (outbound) digelar bukan sebagai ajang main-main semata. Lingkungan maritim yang dinamis menjadi ruang ujian nyata bagi mentalitas para pemimpin muda. Melalui serangkaian tantangan fisik dan simulasi strategi di luar ruang, para peserta dipaksa keluar dari zona nyaman.

Di atas pasir dan di bawah terik matahari pesisir, mereka belajar bahwa kepemimpinan membutuhkan keberanian mengambil keputusan cepat di tengah ketidakpastian.

Komunikasi antaranggota tim diuji saat gelombang tantangan datang, sementara ego pribadi harus dilebur demi tujuan bersama. Karakter pemimpin masa depan yang adaptif, tangguh, dan kolaboratif dibentuk secara alami melalui interaksi langsung dengan alam maritim Sulawesi.

Merestrukturisasi Cara Pandang Anak Muda

Kepala SMA Islam Athirah Makassar, Tawakkal Kahar SPd, MPd, menegaskan bahwa MLSC Vol II adalah komitmen nyata sekolah dalam merestrukturisasi cara pandang anak muda terhadap makna kepemimpinan.

Baca Juga  Pelebaran Jalan Poros Malino Kebagian Dana Rp 25 Miliar

“Kami tidak ingin melahirkan ketua-ketua organisasi yang hanya mahir membuat program kerja di atas kertas atau sekadar jago berpidato di depan forum,” kata Tawakkal.

Dia mengatakan, dunia hari ini membutuhkan anak-anak muda yang memiliki keberanian untuk turun tangan, memahami realitas masyarakat, dan memiliki kapasitas untuk memberi dampak nyata.

“Melalui MLSC Vol. II kami menempatkan mereka langsung di pusat-pusat pengambilan keputusan dan alam terbuka, agar mereka tahu bahwa menjadi pemimpin berarti siap memikul tanggung jawab sosial yang besar,” sebut Tawakkal Kahar.

Dampak dari pengalaman langsung ini dirasakan betul oleh para peserta. Salah satu perwakilan peserta dari SMAN 1 Raha, Sulawesi Tenggara, menguraikan bagaimana tentang dunia pemerintahan berubah drastis setelah mengikuti kunjungan instansi.

“Jujur, tadinya saya pikir ruang kantor gubernur dan gedung DPRD itu tempat yang kaku dan sangat jauh dari dunia kami para pelajar. Tapi setelah berdiri di sana dan mendengar langsung bagaimana sebuah kebijakan dibuat, saya baru sadar betapa besarnya dampak dari satu keputusan pemimpin terhadap kehidupan orang banyak. Ini membuat saya berpikir bahwa cara saya memimpin organisasi di sekolah selama ini harus jauh lebih peduli pada kebutuhan anggota, bukan cuma soal menyelesaikan agenda,” tutur salah satu ketua OSIS peserta kegiatan.

Pengalaman di Pulau Kayangan pun memberikan kesan mendalam yang tak kalah kuat. Seorang peserta lainnya menceritakan bagaimana simulasi di alam maritim membongkar pemahamannya tentang arti sebuah komando.

“Saat mancakrida di Pulau Kayangan, strategi yang kami susun rapi dari awal tiba-tiba tidak berjalan karena kondisi lapangan berubah. Di situ kami dituntut harus cepat beradaptasi dan saling percaya. Saya belajar bahwa menjadi pemimpin itu bukan soal merasa paling tahu segalanya atau paling menonjol, tapi bagaimana kita bisa mendengarkan masukan teman-teman di saat kritis, tetap tenang, dan berani mengambil keputusan bersama. Pengalaman ini benar-benar mengubah cara pandang saya,” ujarnya.

Baca Juga  Pemerhati Soroti Pemasangan Kembali Konstruksi Reklame di Jalan Pettarani Makassar

Perspektif senada disampaikan oleh salah satu guru pendamping dari SMAN 2 Bulukumba Sulawesi Selatan, Nurasia, yang ikut mengawal siswa selama tiga hari penuh pergerakan tersebut. Menurutnya, pendekatan yang diambil dalam kegiatan ini memberikan nilai edukasi yang sangat langka.

“Anak-anak mendapatkan pembelajaran yang tidak akan pernah mereka temukan di dalam buku teks atau jam pelajaran reguler. Menggabungkan ranah pemerintahan, kampus, dan tantangan alam maritim dalam satu rangkaian adalah metode pendidikan karakter yang sangat efektif. Kami melihat sendiri bagaimana anak-anak mengalami proses pendewasaan yang cepat dalam tiga hari ini; mereka jadi lebih mandiri, lebih peka, dan cara berpikirnya jauh lebih terbuka,” ujar Nurasia.

Untuk memastikan seluruh proses pembelajaran sosial ini berjalan optimal tanpa kendala teknis, pihak penyelenggara memberikan dukungan fasilitas yang lengkap bagi seluruh peserta.

Mulai dari akomodasi penginapan yang nyaman, akses transportasi yang terintegrasi selama kunjungan, konsumsi yang terjamin, seminar kit, kaos resmi kegiatan, hingga berbagai apresiasi berupa hadiah menarik bagi peserta yang menunjukkan performa terbaik.

Penyediaan fasilitas yang memadai ini menegaskan keseriusan SMA Islam Athirah Makassar dalam menghadirkan pengalaman belajar yang tidak hanya edukatif, tetapi juga aman, bermakna, dan berkesan mendalam.

SMA Islam Athirah Makassar memandang bahwa kepemimpinan bukanlah bakat alami yang jatuh dari langit, melainkan sebuah proses pembelajaran sosial yang terus menerus. Pembentukan karakter dan identitas seorang pemimpin membutuhkan ruang interaksi yang kaya akan stimulus sosial.

MLSC Vol II telah berhasil menyediakan ruang tersebut, sebuah laboratorium tempat modal sosial dibangun, empati diasah, dan wawasan kebangsaan ditumbuhkan melalui pengalaman empiris.

Ketika kapal yang membawa para peserta meninggalkan Pulau Kayangan menuju dermaga café ombak Makassar, perhelatan tiga hari itu mungkin telah usai. Namun, perjalanan para pemimpin muda ini baru saja dimulai.

Maritime Leadership Students Camp Vol II pada akhirnya bukan tentang siapa yang paling bersinar atau paling menonjol selama tiga hari kegiatan, melainkan tentang siapa yang pulang ke daerahnya dengan cara pandang baru, ketangguhan mental, dan keberanian untuk mulai menciptakan perubahan nyata di lingkungannya masing-masing. ***

Tinggalkan Balasan