MAKASSARCHANNEL, MAKASSAR – Sejak berdiri tahun 1947, saat ini, Gesba atau Gereja Segala Bangsa punya 370 cabang di Indonesia dan luar negeri.
Gembala Gesba Pusat Makassar, Pdt Daniel S Kusbin mengatakan, Gesba memegang teguh visi utama menjadi rumah doa bagi segala bangsa.
“Gereja hadir untuk mendoakan pemerintah, bangsa, dan kesejahteraan kota,” kata Pdt Kusbin melalui rilis.
Dia menambahkan, “Kehadiran kita adalah untuk berdoa, karena doa adalah nafas hidup dan kekuatan kita.”
Persaingan Makin Ketat
Tidak mudah bagi Gesba bertahan hingga usia ke-78 tahun. Persaingan antar gereja semakin ketat, namun anugerah Tuhan membuat pelayanan ini tetap teguh berdiri.
“Kita bisa bertahan hanya karena pertolongan Tuhan. Dengan kekuatan sendiri, kita tidak mampu,” kata Pdt Daniel yang merupakan generasi keempat dari pendiri gereja.
Dia mengatakan, Gereja Segala Bangsa bersyukur karena telah memiliki lebih dari 370 cabang, termasuk di Malaysia dan Hongkong.
Pdt Daniel meyakini, akan terus meraih keemasan pelayanan karena kuasa doa.
“Doa bisa mengubah segala sesuatu. Doa orang benar, bila dengan yakin dinaikkan, besar kuasanya,” urai Pdt Daniel S Kusbin.
25 Tahun Melayani
Perjalanan panjang ini juga menjadi kisah pribadi bagi Pdt Daniel yang telah 25 tahun melayani sejak tahun 2000.
Banyak suka duka yang ia alami, termasuk menjadi Ketua Asosiasi Pendeta Indonesia (API) Sulsel selama dua periode.
“Kami percaya, selama doa menjadi dasar, pelayanan ini akan terus dipakai Tuhan untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa,” tutup Pdt Daniel.
Rintisan Hulp Evangelist
Gereja Segala Bangsa lahir secara otonom pada 20 September 1947 di Makassar atas rintisan Thoeng Goan Soei.
Perintis Gesba adalah seorang Hulp Evangelist dari “De Gemeenten Van God Nederlandsch Indie” yang sebelumnya telah terangkat sebagai Voorzitter melalui Besluit Nomor 33 di Buitenzorg pada 14 November 1938.
Tonggak sejarah ini menjadi titik awal perjalanan panjang Gesba yang hingga kini tetap kokoh berdiri.
Pada perjalanannya, Gereja Segala Bangsa terus memperkuat fondasi legalitas dan organisasi.
Tercatat, pada 14 Desember 1974, Pdt Jantung Gindru Alam mendaftarkan kembali gereja ini melalui surat keterangan dari Dirjen Bimas Kristen Protestan Depag RI.
Langkah ini berlanjut dengan penyesuaian anggaran dasar terhadap UU No 8 Tahun 1985 yang tertuang dalam akta notaris Siske Limowa, SH, pada 15 Maret 1988 di Ujung Pandang.
Berpusat Di Makassar
Akhirnya, pada 7 Juni 1988, Gesba resmi terdaftar sebagai lembaga keagamaan di Jakarta.
Kini, pusat kedudukan Gereja Segala Bangsa tetap berada di Makassar, namun pelayanan dan jemaatnya telah tersebar luas di seluruh Indonesia.
Bahkan, pertumbuhan cabang tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga merambah ke luar negeri, membuktikan bahwa api pelayanan ini terus menyala menembus batas bangsa. ***













