BICARA tentang Kabupaten Kepulauan Selayar tak lepas dari bagaimana cara menaklukkan tantangan alam, khususnya perjuangan mengarungi lautan untuk mencapai Benteng, ibu kota Kabupaten Selayar. Seperti yang guru SMAN 6 Selayar, Fitriana, lakukan.
Demi mengikuti pelatihan Pembelajaran Mendalam Koding dan Kecerdasan Artifisial (PM dan KKA), guru sekolah yang terletak di Jl Pelajar No 1, Desa Bonerate, Kecamatan Pasimarannu, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, itu rela menempuh perjalanan jauh ke Benteng, Ibu Kota Kabupaten Selayar.
Untuk sampai di lokasi pelatihan di Kota Benteng Selayar, Fitriana mengaku harus menempuh perjalanan menggunakan kapal motor selama dua malam satu hari atau sekira 40 jam, berayun ombak perairan Kepulauan Selayar.
“Kalau cuaca seperti sekarang, untuk sampai ke Benteng, butuh waktu dua malam satu hari. Tetapi kalau cuaca kurang bagus, butuh lebih lama lagi dari sekarang,” kata Fitriani, Sabtu, 12 September 2026.
Pengakuan Fitriana itu sekaligus menegaskan betapa kompleks perjuangan guru untuk kemajuan pendidika di negeri ini. Sekaligus membukti bahwa menjadi guru tidak cukup hanya sekadar berdiri di depan kelas, menyampaikan materi pelajaran, sembari menunggu jam pelajaran berakhir.
Tingkatkan Kompetensi
Di banyak wilayah di negeri ini, seperti Kabupaten Selayar, perjuangan seorang guru untuk meningkatkan kompetensi diri justru bermula sebelum Sang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa mengikuti pembelajaran berlangsung di ruang kelas pelatihan.
Perjalanan Fitriana dari Kecamatan Pasimarannu menuju Kota Benteng untuk mengikuti pembelajaran mendalam, koding, dan kecerdasan artifisial menjadi gambaran kasat maka bahwa dedikasi terhadap pendidikan tidak mengenal batas geografis.
Perjuangan berat mengarungi “ayunan” ombak yang Sang Guru harus lalui bukanlah perkara sederhana. Gelombang, cuaca, jarak, serta keterbatasan transportasi menjadi bagian dari tantangan yang guru harus hadapi.
Namun, semua perjuangan itu tidak menyurutkan langkah guru. Mereka rela meninggalkan kenyamanan dan meluangkan waktu untuk datang ke Benteng demi mendapatkan pengetahuan dan keterampilan baru sebagai oleh-oleh untuk dia bagikan kepada peserta didik.
Di tengah kebahagiaan karena mendapat peluang menjadi peserta pelatihan PM KKA, Fitriana mengapungkan harapan agar guru yang mengabdi jauh dari ibu kota kabupaten diberi kesempatan yang lebih luas mengikuti pelatihan.
Di tengah perubahan dunia pendidikan yang bergerak super cepat, kemampuan memahami perkembangan teknologi pun wajib menjadi pilihan. Dewasa ini, koding dan kecerdasan artifisial mulai menjadi bagian penting dalam menyiapkan generasi muda menghadapi masa depan.
Karena itu, keikutsertaan guru dalam pembelajaran tersebut memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar mengikuti pelatihan. Tak peduli sesulit apapun tantangan yang harus mereka taklukkan untuk mendapatkan ilmu.
Karena guru merupakan jembatan bagi perkembangan teknologi untuk menyambung kebutuhan peserta didik, maka menjadi sangat wajar jika guru berjuang keras belajar hal-hal baru.
Teknologi Canggih
Tekad luar biasa itu sesungguhnya menunjukkan bahwa guru sedang membuka jalan bagi anak-anak di daerah untuk memperoleh kesempatan yang sama dalam mengenal teknologi. Anak-anak yang tinggal jauh dari pusat perkotaan pun berhak mendapatkan pembelajaran yang relevan dengan perkembangan zaman.
Perjalanan laut guru dari Pasimarannu juga menyampaikan pesan penting kepada kita semua bahwa pemerataan pendidikan tidak cukup hanya dengan membangun gedung sekolah dan menyediakan perangkat teknologi.
Pemerataan harus disertai dengan peningkatan kapasitas guru. Teknologi secanggih apa pun tidak akan memberikan dampak maksimal jika tidak ada pendidik yang memahami cara menggunakannya secara tepat, kreatif, dan bertanggung jawab.
Apa yang guru dari pulau itu tersebut sejatinya sebuah investasi untuk masa depan pendidikan. Mereka mungkin hanya menempuh perjalanan laut menuju Benteng, tetapi secara makna mereka sedang menempuh perjalanan yang lebih mengagumkan.
Membawa pendidikan di daerah kepulauan menuju masa depan yang semakin melek digital, seperti diakui guru SMAN 8 Kecamatan Buki, Kabupaten Selayar, Rafida Rahman.
Guru sekolah menengah atas yang sudah sekira enam tahun mengabdi sebagai ASN paruh waktu itu mengaku sangat bersyukur bisa ikut pelatihan tersebut.
“Banyak hal baru yang saya dapatkan sejak mengikuti pelatihan. Materi pelatihan cukup padat. Salah satunya, kami mampu melakukan pemetaan murid,” kata Rafidah.
Setelah melakukan pemetaan dan pengelompokan murid. Selanjutnya memantau potensi dan mengubah mindset mereka.
Dalam praktiknya, penerapan pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan dalam melakukan pendekatan terhadap murid memberi hasil memuaskan. Minta belajar siswa pun makin membaik.
“Pemanfaatan PID yang memudahkan proses pembelajaran berimbas pada minat belajar murid meningkat karena lebih interaktif,” kata Rafidah.
Akhirnya, perjuangan guru yang harus mengarungi tantangan alam yang tidak mudah mengingatkan kita semua bahwa di balik kemajuan pendidikan, selalu ada orang-orang yang bersedia berjuang, menyeberangi jarak, menghadapi tantangan terus berjuang meningkatkan kompetensi diri.
Itu karena mereka sadar dan terus belajar sebagai upaya menyiapkan murid-muridnya menghadapi dunia yang terus berubah. #salammakchaners
*) Muhammad Rusdy Embas, Pemimpin Redaksi MAKASSARCHANNEL.COM












