BERITA TERKINIRAGAM INFO

166 Kali Pidato Presiden Prabowo, 311 Ucapan Tidak Pantas

×

166 Kali Pidato Presiden Prabowo, 311 Ucapan Tidak Pantas

Sebarkan artikel ini
166 Kali Pidato Presiden Prabowo, 311 Ucapan Tidak Pantas, hasil analisis 166 kali pidato Presiden Prabowo selama dua tahun
Presiden Prabowo Subianto

MAKASSARCHANNEL – Universitas Gadjah Mada (UGM) merilis hasil riset komprehensif yang menyoroti gaya komunikasi politik Presiden Prabowo Subianto selama dua tahun terakhir. Dalam 166 kali pidato Prabowo, tercatat 311 ucapan yang dianggap kurang pantas hingga tidak pantas.

Kajian ini bertajuk “Dua Tahun di Podium“. Simpulannya, ada korelasi antara peningkatan retorika populis-antagonistik dengan tren penurunan tingkat kepuasan publik terhadap jalanya pemerintahan Prabowo.

Electoral Politics & Public Opinion Studies (EPPOS) melakukan riset ini di bawah Research Center for Politics and Government (PolGov) FISIPOL UGM.

Tim peneliti membedah 166 pidato publik Presiden Prabowo sepanjang periode Oktober 2024 hingga Oktober 2026. Dalam rentang waktu tersebut, Prabowo total berpidato dengan durasi rekaman mencapai 80,6 jam.

Ucapan Tidak Pantas di Acara Resmi

Salah satu temuan utama dalam riset yang dirilis pada Senin (26/10/2026) ini adalah dokumentasi terhadap 311 insiden ucapan yang dalam kategori kurang pantas, tidak patas, hingga sangat tidak pantas.

Bentuk ucapan tersebut meliputi kata-kata makian, umpatan kasar, hingga label pejoratif yang merendahkan pihak lain.

Beberapa diksi kasar yang kerap muncul di podium antara lain kata ndasmu, bajingan (seperti frasa koruptor bajingan), brengsek, dan goblok.

Selain makian langsung, riset ini menyoroti penggunaan label negatif yang menyerang para pengkritik dan kalangan akademisi. Seperti sebutan pakar sesat, saking pintarnya jadi goblok, dan londo ireng (ungkapan pejoratif untuk menyebut kaki tangan asing).

Kemudian ada ucapan bernada delegitimasi seperti respons nye nye nye atau tuduhan bahwa demonstran merupakan orang bayaran koruptor juga tercatat berulang.

Tim peneliti menemukan bahwa mayoritas insiden ucapan tidak pantas ini sebesar 82,6 persen justru terjadi dalam agenda kenegaraan resmi dan program pemerintah. Bukan dalam forum kepartaian atau kampanye politik.

Baca Juga  K-Apel Gandeng Ibu-Ibu PKK Kecamatan Tamalate Adakan Oblong Like, Ini Kata Sekcam Tamalate

Metodologi dan Korelasi Data

EPPOS PolGov UGM dalam kajian ini menerapkan metode analisis teks sistematis (content analysis) dengan kombinasi meta-analisis data survei opini publik.

Untuk menjaga validitas data, proses pengodean (coding) teks pidato melalui triangulasi metode, yakni pengodean manual oleh peneliti, komputasi berbasis bahasa pemrograman R, serta pemanfaatan Large Language Model (LLM) komersial berskala besar.

Para peneliti kemudian menganalisis data tekstual secara statistik untuk mengukur frekuensi dan tren signifikansi retorika populis. Retorika yang membentuk narasi “kita lawan mereka”.  Selain itu, upaya delegitimasi atas kritik dari masyarakat sipil.

Dari hasil olah data tersebut, peneliti menemukan tren penguatan gaya retorika antagonistik yang beriringan dengan merosotnya angka kepuasan publik.

Survei ini membedah dengan meta-analisis terhadap 29 survei opini publik nasional selama dua tahun terakhir.  Tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemerintah tercatat turun drastis dari 80,5 persen menjadi 58 persen. ***

Tinggalkan Balasan