MAKASSARCHANNEL, MAKASSAR – SMA Islam Athirah Makassar rebut Gelar Debat dan Cerdas Cermat Socius (Sociology Competition) UNM 2026.
Dengan capaian tersebut, SMA Islam Athirah Makassar meraih meraih juara umum pada ajang Socius: Sociology Competition Vol IV 2026.
Himpunan Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Hukum UNM menyelenggarakan kompetisi tahunan tersebut selama empat hari, Kamis hingga Minggu (24–27/9/2026).
Ajang ini menjadi panggung adu ketangkasan intelektual bagi pelajar SMA/MA sederajat se-Sulawesi Selatan.
Sejumlah sekolah papan atas turut ambil bagian, mulai dari MAN 2 Kota Makassar, SMAN 2 Makassar, SMAN 5 Makassar, SMAN 3 Maros, MAN Selayar, SMA Zion, hingga Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Wajo.
Di balik piala juara umum yang kini bertengger itu, ada cerita tentang proses panjang yang tak bersuara.
Bukan Keberuntungan Instan
Kemenangan ini bukan hasil keberuntungan instan dalam durasi empat hari kompetisi, melainkan buah manis dari kedisiplinan, pematangan konsep, dan pendampingan yang konsisten.
Sosiologi bukan sekadar deretan teori yang dihafalkan di luar kepala. Dalam panggung Socius IV, peserta wajib membaca dinamika sosial secara jernih, mengurai persoalan dengan analisis tajam, serta mengambil keputusan cepat di bawah tekanan waktu.
Guru Sosiologi SMA Islam Athirah Makassar, Yusran SPd, MPd, mengungkapkan sekolah membina murid secara bertahap dan terstruktur jauh hari sebelum ajang berlangsung.
“Dalam mempersiapkan anak-anak mengikuti kompetisi ini, kami tidak hanya fokus pada materi lomba. Mereka kami latih secara bertahap, mulai dari penguatan konsep dasar, latihan soal, simulasi, sampai membangun keberanian dan kemampuan mereka dalam menyampaikan argumentasi,” ujar Yusran.
Siapkan Mental Murid
Dia menambahkan, peran guru tak berhenti pada transfer pengetahuan di dalam kelas, tetapi juga mengawal kesiapan mental murid menghadapi tekanan kompetisi.
“Kami mendampingi mereka secara maksimal agar ketika berada di arena lomba, mereka tidak hanya siap secara akademik, tetapi juga benar-benar siap secara mental menghadapi beragam karakter lawan,” tambahnya.
Ujian paling kentara dari ketangkasan berpikir kritis terlihat pada cabang Lomba Debat.
Di panggung ini, setiap tim tak hanya dituntut lihai berbicara, melainkan harus mampu membangun struktur argumentasi yang berbasis data, merespons sanggahan dalam hitungan detik, serta mempertahankan posisi tanpa kehilangan arah pemikiran.
Kombinasi Ketajaman Analisis
Pelatih debat SMA Islam Athirah Makassar, Satria, menambahkan bahwa performa apik anak asuhnya merupakan hasil dari porsi latihan yang intensif.
“Anak-anak tidak kami biarkan menghadapi pertandingan begitu saja tanpa bekal yang matang,” kata Satria.
Dia menambahkan, “Sebelum turun lomba, kami mempersiapkan mereka melalui latihan yang cukup intens, mulai dari menyusun argumentasi, memahami isu-isu sosial terkini, melakukan simulasi debat, sampai melatih respons cepat ketika mendapatkan sanggahan dari lawan.”
Menurut Satria, keberanian berbicara di depan umum baru bermakna ketika ditopang oleh kedalaman isi pemikiran.
“Kami ingin mereka tidak hanya berani berbicara di atas panggung, tetapi juga mampu berpikir cepat dan mempertanggungjawabkan setiap argumen yang disampaikan secara rasional,” tegasnya.
Kombinasi ketajaman analisis pada Lomba Cerdas Cermat serta kekuatan argumentasi pada Lomba Debat, mengantarkan SMA Islam Athirah Makassar mengumpulkan poin tertinggi dan mengamankan predikat Juara Umum Socius Vol IV 2026.
Kerja Kolaboratif
Kepala SMA Islam Athirah Makassar, Tawakkal Kahar SPd, MPd, menyampaikan apresiasi atas pencapaian anak didiknya.
Menurut Tawakkal, trofi yang diraih merupakan cerminan dari kerja kolaboratif seluruh ekosistem sekolah.
“Alhamdulillah, kami sangat mengapresiasi capaian anak-anak pada Socius Sociology Competition Vol. IV 2026,” kata Tawakkal.
Gelar juara umum tentu membanggakan, tetapi yang lebih penting bagi kami adalah proses yang mereka lalui untuk sampai di titik ini.
Ada kerja keras murid, pendampingan penuh dari guru dan pelatih, serta dukungan dari berbagai pihak,” kata Tawakkal.
Ia menekankan bahwa panggung kompetisi sejatinya adalah laboratorium pembelajaran yang nyata bagi murid.
Tawakkal berharap, kompetisi seperti ini menjadi ruang yang sangat baik bagi anak-anak untuk belajar berpikir kritis, berkomunikasi, bekerja sama, dan berani menghadapi tantangan.
“Semoga capaian ini menjadi motivasi bagi mereka untuk terus berkembang dan tidak cepat berpuas diri,” kata Tawakkal.
Kemenangan SMA Islam Athirah Makassar pada Socius Vol IV 2026 memberikan gambaran bahwa pendidikan Sosiologi di tingkat sekolah menengah bukan lagi sekadar hafalan definisi di atas kertas.
Lebih dari itu, ia adalah sarana melatih kepekaan sosial, keberanian berpendapat secara santun dan terstruktur, serta membentuk generasi muda yang tangguh dalam mengurai realitas masyarakat. ***












