BERITA TERKINIEDUKASI

BBGTK Sulsel Rakortek Peningkatan Kompetensi Guru SD Mengajar Bahasa Inggris

×

BBGTK Sulsel Rakortek Peningkatan Kompetensi Guru SD Mengajar Bahasa Inggris

Sebarkan artikel ini
Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan, BBGTK Sulsel Rakortek peningkatan kompetensi guru SD mengajar Bahasa Inggris

MAKASSARCHANNEL, MAKASSARBalai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan, BBGTK Sulsel Rakortek peningkatan kompetensi guru SD mengajar Bahasa Inggris.

Rapat Koordinasi Teknis (Rakortek) berlangsung di Karebosi Premier Hotel, Makassar, selama tiga hari (30 April hingga 2 Mei 2026).

Sebanyak 45 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Dari jumlah itu, 27 orang di antaranya berasal dari 8 kabupaten/ kota di Sulsel dan 18 peserta dari internal BBGTK Sulsel.

Pembiasaan Sejak Dini

Kepala BBGTK Sulawesi Selatan, Dr Arman Agung MPd, mengatakan, program itu penting untuk memberi dukungan terhadap pembelajaran Bahasa Inggris sejak dini.

“Secara empiris, kemampuan berbahasa tidak hanya ditentukan oleh durasi pembelajaran formal, tetapi juga oleh kebiasaan dan lingkungan berbahasa,” kata Arman Agung.

Hal itu, menurut Arman Agung, terlihat pada kenyataan bahwa seseorang dapat menguasai bahasa melalui proses pembiasaan, seperti mendengar dan menirukan secara berulang dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks pendidikan, lanjut Arman Agung, sasaran pembelajaran Bahasa Inggris, saat ini, fokus pada murid kelas III hingga VI sekolah dasar.

Namun, terdapat pandangan bahwa pengenalan Bahasa Inggris sebaiknya dimulai lebih awal. Bahkan, sejak pendidikan anak usia dini atau kelas I dan II sekolah dasar.

Hal itu didukung oleh praktik di beberapa lembaga pendidikan yang telah membiasakan penggunaan Bahasa Inggris sejak jenjang taman kanak-kanak, sehingga murid memiliki dasar kemampuan yang lebih kuat.

Terbentuk Secara Alami

Kepala BBGTK Sulsel menegaskan bahwa kemampuan berbahasa seseorang dapat terbentuk secara alami melalui lingkungan sosial dan kebiasaan berkomunikasi tanpa harus melalui pembelajaran formal yang intensif.

Oleh karena itu, pembiasaan penggunaan Bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari menjadi strategi yang efektif untuk meningkatkan kemampuan komunikasi murid.

Arman Agung berharap, melalui program tersebut, pemerintah daerah, khususnya dinas pendidikan, dapat mengambil peran aktif dalam memperluas implementasi pembelajaran Bahasa Inggris kepada seluruh guru.

Itu penting, mengingat posisi Bahasa Inggris saat ini, tidak lagi menjadi keterampilan tambahan, melainkan kebutuhan penting dalam menghadapi perkembangan global, maka pembiasaan dan penguatan pembelajaran sejak dini menjadi langkah strategis yang perlu terus didorong.

Mata Pelajaran Wajib

Rakortek PKGSD-MBI itu menjadi forum strategis menyelaraskan kebijakan serta memperkuat implementasi program peningkatan kompetensi guru dalam pembelajarn Bahasa Inggris di sekolah dasar.

Materi Rakortek antara lain; kebijakan kepala BBGTK Sulawesi Selatan, Mekanisme Program PKGSD – MBI, Pengelolaan Anggaran Program PKGSD-MBI, Rencana Tindak Lanjut Persiapan IN 1 Program PKGSD – MBI, dan pelaksanaan Pembelajaran Program PKGSD – MBI.

Rencananya, program penguatan pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah dasar akan mulai diterapkan secara lebih luas pada tahun 2027.

Dalam kebijakan tersebut, mata pelajaran Bahasa Inggris yang sebelumnya bersifat pilihan akan ditetapkan sebagai mata pelajaran wajib.

Oleh karena itu, diperlukan pengawalan yang sistematis agar implementasi program dapat berjalan secara optimal.

Perluas Dampak Program

Kegiatan ini pada awalnya diusulkan hanya mencakup tiga kabupaten/kota, yaitu Makassar, Gowa, dan Maros, dengan jumlah rombongan belajar yang terbatas.

Namun, seiring dengan perkembangan kebutuhan, cakupan program diperluas dengan melibatkan daerah lain, seperti Bone, Soppeng, Wajo, Palopo dan Takalar.

Penambahan wilayah ini diharapkan dapat memperluas dampak program serta meningkatkan pemerataan kualitas pembelajaran Bahasa Inggris di tingkat sekolah dasar.

Seluruh peserta yang terlibat dalam program ini diharapkan tidak hanya melaksanakan tugas pembelajaran di kelas, tetapi juga berperan aktif dalam mendiseminasikan hasil pelatihan kepada guru lain di lingkungan sekolah masing-masing.

Dengan demikian, output program yang melibatkan ratusan peserta diharapkan mampu memberikan dampak yang lebih luas melalui penguatan kompetensi guru secara kolektif. ***

Tinggalkan Balasan