Pendidikan keaksaraan menurut Ridawati, merupakan layanan pendidikan agar yang belum bisa membaca, menulis, dan berhitung (calistung) bisa memiliki kemampuan dan ketrampilan dalam bahasa Indonesia.
Ada sejumlah alasan sehingga banyak warga yang buta aksara, di antaranya, karena biaya untuk ke sekolah tinggi. Bisa juga dari sisi ekonomi mereka berpikir lebih baik bekerja dibandingkan harus ikut pendidikan.
Berita Terkait :
BP-PAUD dan Dikmas Sulsel Serahkan Bantuan Untuk Korban Banjir Masamba Lutra
Sasaran pemberantasan buta aksara ini menurut Ridawati adalah, mereka yang berusia 15-59 tahun yang non-calistung, tidak sekolah atau DO kelas 1-3 sehingga tak bisa calistung. Setelah mengikuti pendidikan dan dinyatakan lulus, mereka akan diberi Sukma atau Surat Keterangan Melek Aksara.
Pelatihan Daring Teknik Keaksaraan Bagi Krida Dikmas Satya Widya Budaya Bakti (SWBB) tersebut dibuka secara virtual oleh Kepala Balai Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (BPPAUD dan Dikmas) Sulawesi Selatan, Arman Agung.
Moderator Arman Taufk menyebut, pelatihan secara daring tersebut diikuti 20 anggota Satya Widya Budaya Bakti Gowa dan sejumlah pamong belajar BPPAUD dan Dikmas Sulawesi Selatan. (har)













