MAKASSARCHANNEL, MAKASSAR – Bimtek Digitalisasi Pembelajaran Angkatan 6 di Makassar berakhir setelah berlangsung tiga hari di Hotel Four Point Makassar.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Dr Fajar Riza Ul Haq MA menutup Bimtek yang berjalan sejak tanggal 4 Mei 2026 tersebut.
Sebanyak 155 peserta dari 160 satuan pendidikan di 10 provinsi yang diundang. Mereka menerima empat materi selama bimbingan teknis.
Turut hadir dalam kegiatan itu antara lain; Kepala Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan Sulsel, Dr Arman Agung MPd Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar Achi Soleman SSTP MSi.
Keterbatasan Biaya
Wamen Fajar Riza dalam pengarahannya mengatakan, hingga angkatan keenam sudah 7000 peserta yang telah mengikuti bimbingan teknis digitalisasi pembelajaran tersebut.
Fajar Riza mengatakan, jumlah peserta itu masih sangat kecil (sekira 10 persen) dari total calon peserta di seluruh Indonesia karena keterbatasan pembiayaan.
“Karena itu yang diundang hanya lembaga terakreditasi unggul. Creative minority,” tegas Wamen Fajar Riza.
Kepada peserta Bimtek, Wakil Menteri itu mengingatkan agar mengimbaskan pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama pelatihan kepada rekan sejawat di PAUD masing-masing dan sekolah sekitarnya.
Pengalaman Kunjungan
Wamen Fajar Riza mengisahkan kunjungannya ke dua sekolah di Medan untuk mengecek pemanfaatan PID (Papan Informasi Digital). Dua sekolah tersebut berada dalam satu kompleks.
“Saat saya masuk di kelas empat, sudah ada PID di sana. Tetapi ketika bertanya, siapa siswa yang pernah gunakan alat tersebut. Mereka menjawab, belum ada,” kata Wamen Fajar Riza.
Wamen menganggap itu aneh karena peralatan sudah tiba di lokasi, sejak tahun lalu, sementara murid tak pernah melihat dan menggunakannya.
Fajar Riza menilai, itu menunjukkan peserta Bimtek dari sekolah tersebut tidak mengimbaskan ilmunya kepada teman sejawat.
“PID nganggur dan guru yang pernah ikut Bimtek tidak merasa bertanggung jawab,” kata Wamen Fajar Riza.
Berkaca pada fakta itu, Wamen Fajar menyebut perlu dilakukan refleksi kualitas penggunaan PID dalam proses pembelajaran agar bermanfaat bagi anak sekolah.
Kreativitas Guru
Saat kunjungan ke Jateng, Wamen Fajar Riza mengungkapkan, justru menemukan praktik baik guru di sekolah swasta di daerah tersebut.
Di kelas 4 yang dia kunjungi di sekolah itu, Wamen menemukan guru sedang mengajarkan Bahasa Jawa. Anak-anak ternyata lebih interaktif dalam menulis Bahasa Jawa.
“Guru kreasi sendiri untuk buat konten bahasa daerah. Itu menunjukkan, digitalisasi bisa jalan bareng dengan PID,” jelas Fajar Riza.
Bahkan, menurut Wamen, ada sekolah swasta di Tarakan, Kalimantan Utara, sudah terintegrasi jenjang PAUD hingga SMA.
Di kota berjuluk Bumi Paguntaka itu, guru mengajarkan Bahasa Mandarin. Membuat konten sendiri memanfaatkan PID untuk eksplorasi sehingga anak-anak lebih interaktif dan bergembira.
Artinya, pemanfaatan PID secara maksimal tergantung pada kemampuan guru berkreasi.
Hasil Bimtek
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah itu menegaskan, hasil Bimtek akan terlihat saat guru kembali ke sekolah masing-masing.
Bagaimana guru bisa menyampaikan materi sesuai dengan kemampuan anak menerima pembelajaran secara efektif.
Untuk itu dibutuhkan kompetensi pedagogis dan keterampilan sebagai perangkat mutlak yang harus dimiliki sehingga pembelajaran di sekolah berdampak.
“Guru harus punya keterampilan pedagogis. Tidak sekadar memindahkan pembelajaran ke papan elektronik,” tegas Wamen Fajar Riza.
Dijelaskan pula bahwa, proyek dengan Papan Interakfit Digital hanya bisa berhasil jika memenuhi lima syarat yakni:
1.Komitmen politik yang kuat terhadap digitalisasi pembelajaran.
2.Ada tata kelola yang jelas.
3.Ada pelatihan guru yang berkelanjutan. Tidak boleh ada diskriminasi agar semua guru memiliki kesempatan yang sama.
4.Memiliki konten yang kuat.
5.Punya mekanisme perawatan yang jelas. Setiap guru harus merawat dan menjaga PID. ***













