MAKASSARCHANNEL.COM – Sastra Sabtu sore jadi ruang interaksi dan berekspresi. Bukan hanya bagi pegiat literasi, tetapi semua kalangan yang ingin terlibat.
Berbeda dengan ungkapan penyair Chairil Anwar bahwa yang bukan penyair tidak ambil bagian, di Sastra Sabtu Sore justru yang bukan penyair diajak terlibat di hajatan tersebut.
Yudhistira Sukatanya mengatakan itu, saat memulai gelaran acara Sastra Sabtu Sore, di Taman Baca Masjid Ashabul Jannah, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Sulsel, Jln Sultan Alauddin Makaasar.
Yudhistira menyebut, penyelenggara selalu mengundang banyak pihak, termasuk anak-anak untuk datang berpartisipasi.
Apalagi, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Sulsel, Mohammad Hasan Sijaya, mendukung dan memasilitasi kegiatan tersebut.
DPK Sulsel bekerja sama dengan Lembaga Pengembangan Kesenian dan Kebudayaan Sulawesi Selatan (LAPAKKSS) dan Komunitas Puisi (KoPi) Makassar sudah mengadakan Sastra Sabtu Sore selama beberapa edisi.
Kali ini, membahas buku puisi Sepucuk Surat dan Kisah Masa Kecil karya Agus K Saputra yang merupakan Deputi Bisnis PT Pegadaian Area Makassar 1.
Buku ini, merupakan ingatan pada masa sekolah dasar penulis, setelah dia dipertemukan kembali dengan teman-teman lama melalui media sosial.
Berita Terkait :
Pegiat Literasi Gelar Sastra Sabtu Sore
Pria kelahiran 1968 ini tumbuh besar di Ciamis dan Mataram. Semasa mahasiswa, ia aktif dalam dunia pergerakan kampus.
Sepucuk Surat dan Kisah Masa Kecil merupakan buku terbitan tahun 2019, berisi 50 puisi yang dibuat antara tahun 1987-2017 di berbagai tempat seperti Denpasar, Lombok, Ampenan, Sumbawa, dan Yogyakarta.
Temanya beragam, mulai persahabatan, persaudaraan, perjalanan, cinta kasih, dan tanah air.
Bertemu Kawan Seide
“Ke mana pun kau pergi, kau akan selalu bertemu dengan orang-orang yang seide dan akan mendukungmu,” papar Agus, mengutip kata-kata temannya.
Agus baru sekira sebulan bertugas di Makassar, sebelumnya di Kendari. Mantan jurnalis ini bercerita, dahulu, dia mau jadi penulis supaya bisa membantunya saat menyusun skripsi.
Saat masih SMP, dia ingin punya puisi yang dimusikalisasikan. Impian masa remajanya itu sudah terwujud. Sebanyak 116 puisinya sudah dimusikalisasi.
Sepucuk Surat dan Kisah Masa Kecil merupakan buku ketiganya. Sebelum itu, dia menerbitkan buku
Kujadikan Ia Embun (2017) dan Menunggu di Atapupu (2018).
Meski sudah menerbitkan tiga buku kumpulan puisi, tapi diakui masih ada keraguan, apakah ini puisi atau bukan? Tapi, katanya, ada temannya yang meyakinkan bahwa puisi-puisinya bergaya Amerika yang poetry bukan bergaya Inggris, yang poem.
Berita Terkait :
Bincang Sastra Bersama Mahrus Andis Di Kafe Baca
“Sekarang, saya menangkap kesan dari obyek melalui foto, lalu diendapkan untuk dibuatkan puisi,” ungkap Agus tentang proses kreatifnya.
Acara Sastra Sabtu Sore dibuka dengan pembacaan puisi oleh Rezki, murid kelas 4 SD Inpres Paccerakkang Makassar yang membawakan dua puisi karyanya berjudul Ayah dan Terima Kasih Mentariku.
Dilanjutkan penyerahan buku oleh penulis kepada Abd Hadi, Kepala UPT Layanan Perpustakaan DPK Sulsel.
Acara bincang buku yang dipandu oleh Rusdin Tompo, penulis buku dan penggiat literasi ini, menghadirkan narasumber Dr Asis Nojeng akademisi Unismuh Makassar dan Damar I Manakku, penyair yang sudah menerbitkan buku puisi dan kumpulan cerpen.
Berkarya Di Luar Profesi
Asis Nojeng mengatakan, dalam menulis puisi, kita diberi piihan, apakah akan taat pada konvensi atau mau berinovasi.
Hal itu juga tampak pada puisi-puisi Agus K Saputra, yang dinilai tidak merujuk pada pakem tertentu. Sementara Damar I Manakku memberi apresiasi pada penulis yang tetap berkarya di luar profesinya sebagai pegawai BUMN.
“Ada kenyamanan ketika kita membaca puisi-puisi Agus. Puisi-puisinya tidak membuat pusing yang membacanya,” jelas Damar.
Mereka yang hadir dalam “Sastra Sabtu Sore” ini berasal dari beragam latar belakang. Ada Dr Nurlina Syahrir (akademisi), Asmin Amin (seniman dan aktivis LSM), Goenawan Monoharto (Ketua IKAPI Sulsel).
Ada pula Syahrir Rani Patakaki (penyair berbahasa Makassar), Ahmadi Haruna (jurnalis dan penyair), Mami Kiko (pendongeng), Amir Jaya (penyair), Melati (pustakawan dan Ketua KKPS), dan penggiat literasi Rahman Rumaday. (her)













