Bincang Sastra Bersama Mahrus Andis Di Kafe Baca

AKHIR pekan, Sabtu (13/3/2021), berlangsung diskusi kecil di teras Kafe Baca, Jl Adhyaksa No 2 Makassar. Disebut diskusi kecil, karena pesertanya tak sebanyak jumlah jari kedua tangan. Meski demikian, yang dibincangkan justru hal besar oleh orang-orang besar di bidangnya.

Hadir dalam bincang santai itu, Mahrus Andis dari Bulukumba. Banyak atribut yang sering disandangkan kepada sosok yang satu ini. Ada yang menyebutnya sastrawan, budayawan, pemain teater, penyair, dan mubalig. Teranyar, kritikus sastra juga dilekatkan kepada penulis buku Dari Jembatan Sapiri ke Batu-batu Birokrasi ini.

Selain Mahrus Andis yang mantan birokrat itu, hadir pula cerpenis Anwar Nasyiruddin yang juga disapa Ustadz dalam perbincangan santai penuh canda itu. Ada juga penulis puisi, Amir Jaya, yang hadir dengan topi khasnya.

Hadir pula penulis Kritik Seni Rupa, Ishakim, serta mantan wartawan Pedoman Rakyat, Mustam Arief, yang rutin menulis pantun di rubrik yang dikelolanya saat itu, Pamikop atau pantun minum kopi. Rubrik yang diasuhnya itu dia sebut Catring, akronim dari catatan ringan.

Yang menjadi objek bahasan sore itu, adalah catatan penulis Sanja Mangkasara, Syahril Rani Patakaki Daeng Nassa. Perbincangan yang memanfaatkan waktu sejak sebelum Salat Asar hingga menjelang Salat Magrib itu sangat cair, karena yang dibahas bukan hanya catatan Syahril Rani, Pasang Napappasang Pannyaleori Nyawa, tetapi melebar ke banyak isu yang tiba-tiba muncul nyelonong.

Di sela keseriusannya, Mahrus Andis banyak memunculkan kalimat canda yang mengundang tawa. Bukan karena lucu, tetapi mengandung makna lain di balik penuturannya.

Untuk menyampaikan pesan, Mahrus Andis tidak melulu mengungkapkannya menggunakan kalimat langsung. Kendati demikian, Dia memilih diksi yang mudah dipahami, termasuk makna tersirat yang ingin disampaikan.

Bincang santai bertemakan Menulislah Agar Engkau Tetap Hidup ini diharapkan menjadi pembiasaan baru untuk memperkaya wawasan. Saling berbagi dan melengkapi. Apatah lagi kemasan perbincangan ini jauh dari kesan formal.

Jika pekan kedua bulan ini membincangkan catatan Syahril Patakaki, mungkin pada kesempatan berikutnya menelisik salah cerpen karya Ustadz Anwar Nasyiruddin atau puisi karya Amir Jaya.

*M Rusdy Embas, Pemimpin Redaksi MAKASSARCHANNELCOM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *