Selain itu, acara yang dipandu Andhika Mappasomba ini juga menghadirkan Syahril Rani yang membacakan puisi berbahasa Makassar, Muhammad Amir Jaya dengan puisi religinya, Daeng Mangeppe dan Asis Nojeng yang membaca puisi Ode Buat Negeri karya Yudhistira Sukatanya. Masih ada pembaca puisi lainnya, yakni Faisa Aljaedy, Suprapto Budisantoso, Muhammad Idris “Baba Ong’, Ahmadi Haruna, dan Irwan Parawansah.
Menariknya, meski diberi label puisi merdeka, beberapa penyair justru memadukan suasana pandemi Covid-19 dengan peringatan HUT Kemerdekaan tahun ini.
Moh Hasan Sijaya di hadapan seniman, malam itu, mengatakan bahwa dirinya rindu sebuah tempat untuk berkumpul. Tempat itu untuk mengekspresikan potensi kesenimanan, baik nyanyi, baca puisi, menari, melukis dan lainnya.
Berita Terkait :
Potret dan Puisi di Hari Ibu
Karena itu DPK Sulsel siap memfasilitasi dengan menjadikan Taman Baca Lontaraq Masjid Ashabul Jannah, sebagai panggung pertunjukan.
“Mimpi saya, taman baca ini jadi tempat nongki kita,” kata Moh. Hasan Sijaya.
Dia menambahkan, taman baca di kantornya itu memang tempatnya agak sempit. Tapi apabila hati kita luas dan terbuka menerima setiap orang yang datang maka panggung ini akan terasa melebihi luasnya lapangan Karebosi.
Dia juga menyampaikan bahwa DPK Sulsel itu menyikapi apa yang menjadi pikiran dan kegelisahan seniman dan budayaan di daerah ini.
Mengakhiri acara, Moh Hasan Sijaya membawakan puisi berjudul Merdeka Itu yang berkisah tentang peran strategis perpustakaan sebagai episentrum gerakan literasi. Puisi tersebut merupakan ciptaan Rusdin Tompo, yang malam itu juga hadir membacakan puisinya berjudul Surat untuk Bung Karno. (har)













