“Sistem ini tertutup. Air di dalam tambak tidak boleh keluar, kalau menambah boleh. Karena teknologi ini pengendalian ekosistem mikro. Jadi, saya menciptakan ekosistem dengan hasil temuan saya,” kata Alimuddin Namba yang mendampingi Daeng Muntu saat wawancara dengan MAKASSARCHANNELCOM.
Alimuddin Namba bertutur, “Apa yang saya dapat atau temukan pasti saya dedikasi ke kampung halaman saya. Jadi, teknologi yang saya temukan ini kalau bermanfaat maka, harus orang Takalar yang lebih dahulu merasakan manfaatnya.
Baca Juga :
Ngobrol Sekolah di SD Negeri Borong
Usai mendengar penjelasan tambahan dari Alimuddin Namba tentang teknologi yang menyebabkan hasil panen udangnya meningkat drastis, Daeng Muntu melanjutkan penuturannya tentang teknologi temuan Alimuddin Namba yang dia aplikasikan dalam memudidayakan udang.
Mengaplikasikan teknologi temuan Alimuddin Namba, menurut Daeng Muntu, sangat praktis. Bahkan, bisa dikatakan hanya bermodal dedak yang “hanya” seharga Rp 700 ribu saja, namun hasil panennya mencapai kisaran 40 hingga 50 kilogram sekali panen. Harga udang saat ini, kisaran Rp 100 ribu per kilogram.
Tentang interaksinya dengan Alimuddin Namba yang menjadi mentornya dalam meningkatkan produksi tambaknya, Daeng Muntu mengaku, sudah lama mengenal pria putra kelahiran Butta Panrannuangku itu.














