Di antara jutaan saset kopi yang disobek di Indonesia setiap pagi, ada satu milik seorang pria, Om Bahrun. Baginya, ritual ini adalah musik pembuka hari, sebuah janji energi instan.
Namun, ia tidak tahu bahwa musik itu datang dengan harga: pasokan 100-160 mg kafein yang cukup untuk membuat otaknya beradaptasi. Inilah awal mula ketergantungan fisiologisnya, yang menjelaskan mengapa gagasan untuk melewati pagi tanpanya terasa begitu sulit secara fisik.
Bagi Om Bahrun, dan jutaan orang sepertinya, kopi instan 3-in-1 adalah tombol start, penyelamat dari kantuk, dan janji energi instan yang terjangkau. Semua dikemas dalam satu saset praktis.
Suatu hari, Om Bahrun memutuskan untuk berhenti. Bukan karena alasan kesehatan yang muluk, melainkan karena penasaran. Apa yang akan terjadi jika ia menukar manisnya kopi saset dengan pahitnya kopi tubruk asli?
Ia pikir ini akan menjadi tantangan sepele. Ia salah besar.
Malam pertama, ia gelisah. Tubuhnya seperti kehilangan sesuatu yang vital. Hari ketiga, kepalanya berdenyut hebat. Lemas menjalari tubuhnya, seolah ia baru saja bekerja 24 jam tanpa henti.
Mengapa berhenti minum kopi saset terasa begitu menyiksa? Dan apa yang diungkapkan oleh fenomena ini tentang masyarakat kita?
Titik Kritis Di Dalam Gelas
Jawabannya terletak pada kesalahpahaman fundamental. Kita mengira kita kecanduan “kopi”. Padahal, banyak dari kita sebenarnya telah terperangkap dalam dua jerat yang berbeda: ketergantungan kafein dan, yang lebih berbahaya, kecanduan gula.
Kopi saset adalah kendaraan yang sempurna untuk keduanya.
Pertama, mari kita bicara tentang kafein. Gejala pusing dan lemas yang dialami Adi adalah gejala putus zat (caffeine withdrawal) yang klasik. Kafein bekerja dengan cara memblokir reseptor adenosin di otak, molekul yang membuat kita mengantuk. Saat Anda berhenti mengonsumsinya, otak Anda dibanjiri oleh adenosin, menyebabkan kelelahan dan sakit kepala.
Namun, kafein hanyalah setengah dari cerita. Komponen kedua, dan yang sering luput dari perhatian, adalah gula. Satu saset kopi instan bisa mengandung 15 hingga 20 gram gula. Ini setara dengan 4-5 sendok teh. Jika Anda minum dua saset sehari, Anda sudah hampir memenuhi batas asupan gula harian yang direkomendasikan WHO.
Biaya Tersembunyi Dari Kemudahan
Di sinilah letak inti permasalahannya. Kopi saset menawarkan kemudahan, tetapi kemudahan itu datang dengan biaya tersembunyi. Kita berpikir saset itu memberi kita energi. Kenyataannya, ia menjebak kita dalam siklus ketergantungan.
Energi yang kita dapatkan dari lonjakan gula bersifat semu dan singkat. Setelah itu, kita mengalami sugar crash, yang membuat kita lebih lelah dan mudah marah (mood swing). Untuk mengatasinya, kita menyeduh saset berikutnya. Begitulah lingkaran setan itu berlanjut, hari demi hari.
Tanpa sadar, kita menyerahkan kendali atas energi dan suasana hati kita pada sebungkus serbuk instan. Kita menjadi bergantung pada solusi eksternal untuk merasa “normal”, padahal tubuh kita dirancang untuk menghasilkan energi secara mandiri.
Peralihan ke kopi asli tanpa gula, terasa sulit pada awalnya. Pahitnya terasa asing di lidah yang telah terbiasa dengan manis buatan pabrik. Namun, di balik rasa pahit itu ada sebuah kejujuran. Tidak ada janji palsu, tidak ada lonjakan energi yang diikuti kejatuhan.
Setelah hari ketujuh, Om Bahrun merasakan perbedaannya. Tubuhnya terasa ringan. Ia bangun tidur dengan segar, tanpa perlu tambahan kafein-gula untuk sekadar membuka mata.
Ia menemukan bahwa energi sejati tidak datang dari gelas, melainkan dari tubuh yang beristirahat dengan baik dan tidak lagi berperang melawan lonjakan gula.
Sebuah Ajakan Untuk Move On
Perdebatan tentang kopi instan versus kopi asli bukanlah sekadar soal selera atau status sosial. Ini adalah percakapan tentang kesehatan publik yang tersembunyi di dapur dan meja kerja kita. Ini tentang bagaimana sebuah produk yang dirancang untuk kemudahan secara perlahan menciptakan epidemi ketergantungan massal.
Tentu, tidak semua orang harus berhenti. Namun, jika Anda merasa terjebak—jika pagi Anda terasa mustahil tanpa saset itu, jika suasana hati Anda naik turun tanpa alasan jelas—mungkin inilah saatnya untuk sebuah eksperimen kecil.
Cobalah selama tujuh hari, taruh saset itu di rak. Belajar menyeduh kopi hitam yang sesungguhnya. Rasakan pahitnya, dan perhatikan apa yang terjadi pada tubuh dan pikiran Anda.
Mungkin, seperti Om Bahrun, Anda akan menemukan bahwa melepaskan kopi instan 3-in-1 akan memberi hubungan yang lebih dewasa dan tulus dengan kopi.
Lebih dari itu, Anda akan memberi tubuh kesempatan untuk berterima kasih. Satu cangkir kopi pahit pada satu waktu.
*) Adekamwa, Humas Pusjar SKMP LAN













