MAKASSARCHANNEL – Ayatollah Mojtaba Hosseini Khamenei, putra Ayatollah Ali Khamenei, terpilih menjadi pemimpin tertinggi Iran yang baru.
Mojtaba Khamenei menggantikan mendiang ayahnya Ayatollah Ali Khamenei yang tewas saat serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran, akhir bulan lalu.
Baca Juga: Khamenei Tewas, Jasadnya di Reruntuhan Bangunan
Khamenei muda ditetapkan sebagai pemimpin tertinggi oleh badan ulama tertinggi, Majelis Ahli, Minggu (8/3/2026) waktu setempat.
Al Jazeera melaporkan selain Mojtaba Khamenei, ada kandidat lain yakni Alireza Arafi.
Kemudian juga ada tokoh garis keras Mohsen Araki, serta Hassan Khomeini cucu pendiri Republik Islam Iran1979, Ayatullah Ruhollah Khomeini.
Baca Juga: Iran Kibarkan Bendera Merah di Kubah Masjid
Majelis Ahli akhirnya memilih Mojtaba Khamenei. Badan beranggotakan 88 ulama tinggi itu baru satu kali mengawasi proses transisi kepemimpinan.
Ketika itu Ali Khamenei dipilih pada 1989 setelah wafatnya pemimpin tertinggi revolusi Iran Ayatullah Ruhollah Khomeini wafat.
Setelah pengumuman, Mojtaba Khamenei mendapat dukungan masyarakat dan berbagai badan pemerintah.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), bahkan bersumpah mendukung pemimpin baru Iran itu.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani menyerukan persatuan di bawah kepemimpinan pemimpin tertinggi yang baru.
Pernyataan yang sama juga datang dari Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf. Ia menyatakan mengikuti pemimpin tertinggi yang baru merupakan kewajiban agama dan negara.
Siapa Mojtaba Khamenei?
Mojtaba Hosseini Khamenei lahir 8 September 1969 di Kota Mashhad, Iran Bagian Timur.
Ia merupakan salah satu putra dari enam anak mendiang Ali Khamenei.
Pria yang berusia 56 tahun itu juga adalah seorang ulama yang memiliki kekuatan penting di lingkaran orang-orang garis keras di sekitar ayahnya.
Mojtaba Khamenei dekat dengan kalangan konservatif. Terutama karena hubungannya IRGC, garda militer Republik Islam Iran.
Di IRGC, Mojtaba pernah mengabdi dalam unit tempur pada akhir perang Iran-Irak berlangsung 1980 hingga 1988.
Meskipun tidak memiliki jabatan resmi di pemerintahan, Mojtaba merupakan satu-satunya anak mantan pemimpin tertinggi terlibat dalam peran publik. ***













