BERITA TERKINIKOLOM

Tanpa Letih, Meniti Dua Dunia

×

Tanpa Letih, Meniti Dua Dunia

Sebarkan artikel ini

Membincang film di Sulawesi Selatan, jangan lepas dari nama AB Iwan Azis. Bicara tentang kewartawanan di daerah ini, juga jangan lupa Iwan Azis. Sebab, dua arena ini, adalah dunia Iwan.

Iwan adalah bagian dari sejarah dan pelaku pasang surutnya bisnis peredaran film, dan produksi film lokal di Sulawesi Selatan.

Mau mengulik lika-liku perfilman di Sulawesi Selatan, tanya Iwan Azis. Iwan akan mampu menuturkan secara kronologis perfilman di daerah ini. Mulai dari judul film, bioskop, artis, syuting di lapangan sampai berliku-liku tantangan akan mampu diceritakan Iwan.

Itu di satu sisi. Tapi Iwan Azis bukan hanya eksis di dunia film. Pria yang kini sudah menapaki usia 79 tahun ini juga adalah wartawan senior yang masih setia dengan dunia kepewartaan.

Sekitar empat dekade, Iwan juga malang melintang di media dan penyebaran berita. Bahkan di usia senja kini, Iwan masih memberi sumbangsih di kepengurusan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan.

Seperti halnya perfilman, Iwan juga punya setumpuk pengalaman di dunia kewartawanan. Bagaimana lika-liku tantangan media lokal, jurnalis, telah menjadi bagian dari hidup seorang Iwan Azis.

Film dan wartawan adalah dua dunia yang mengisi perjalanan hidup kakek ganteng yang awet muda ini. Dalam titiannya di dua dunia ini juga, menjadi bagian dari kemampuan Iwan bersosialisasi.

Melalui instrumen dua dunia ini, Iwan membangun relasi dengan banyak orang, dari berbagai profesi, lintas usia, asal dan latar sosial.

Lewat dua dunia ini, banyak orang mengenal Iwan Azis. Di warung-warung kopi atau sarana-sarana melepas lelah di Kota Makassar, banyak orang bertutur sapa dengan Iwan.

Kesetiaan Iwan pada dua dunia ini, membuat salah sahabatnya seorang penyair di Makassar dan sesama wartawan, mengapresiasi Iwan.

Dia adalah Ahmadi Haruna, penyair dan wartawan yang secara periodik membaca puisi untuk konten media sosial. Ia terketuk hatinya untuk menganugerahi Iwan dengan puisi sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan.

Ahmadi Haruna, pemenang lomba baca puisi Indonesia memeringati HUT ke-80 Republik Indonesia. Ahmadi memberikan penghargaan juga sebagai apresiasi Dewan Kesenian Makassar (DKM) kepada Iwan Azis.

Puisi ini juga sebagai penghargaan akhir tahun 2025. Iwan Azis menerima Ahmadi menyerahkan penghargaan itu kepada Iwan Azis pada Sabtu 3 Januari 2026 petang di Makassar.

Cindera mata itu berupa piagam yang dibingkai, berisi baris-baris puisi kepada Iwan Azis. Ini merupakan ekspresi untuk mengapresiasi Iwan Azis yang tanpa letih meniti perjalanan hidup di dunia film dan kewartawanan.

Menerima apresiasi dari sahabatnya, Iwan Azis menanggapinya sebagai penanda persahabatan yang cukup lama bersama Ahmadi Haruna. Baik dalam kegiatan PWI maupun di dunia seni film.

“Ia meneropong perjalanan hidup saya. Dimana kebiasaan saya dia rekam yakni fokus kedua dunia, jurnalis dan film. kata Iwan.

“Yang pasti saya wajar berterimakasih, sebab ada rekan yang ternyata selalu meneropong aktivitas sehari-hari. Dengan pengembaraan nuraninya melahirkan karya sastra berupa puisi yang diperuntukkan buat saya. Terimakasih buat bung Ahmad Haruna,” ungkap Iwan.

Sedangkan Ahmadi Haruna mengatakan puisi penghargaan ini sebagai sebuah penggeledahan diri buat Iwan Azis. Meski dengan seonggok kesibukan setiap hari, namun masih bisa dibarengi momen santai dengan para sahabat.

“Sangat luar biasa di mata saya pak Iwan Azis dan sebagai bukti kekaguman dan simpati, saya lahirkan karya untuknya,” ungkap Wakil Ketua II Dewan Kesenian Makassar ini.

Ahmadi Haruna memberi judul puisinya “Romantika Jurnalisme dan Film, kepada Bapak Iwan Azis

Berikut baris-baris puisi Ahmadi Haruna buat Iwan Azis:

Dua dunia telah kau rangkul
Telah kau senyawai dan kau cumbu
Segalanya pun telah kau berikan dari apa yang kau miliki
Hari ini kucoba menolak tapi nurani menolak
Atmosfir jurnalis dan dunia film tetap saja mencubit.
Dentuman “Keinginan” terus merongrong
Terlanjur cinta keduanya pun jadi kekasih kehidupan

Sahabatku
Dulu kamu hadir di samudra informasi
Menyasar segala bidang dan ladang kehidupan
Kau ayunkan pedang kebenaran
Suara hati dan pikiran bijak kau tuang dalam lembaran kertas koran
Kau seret kegelapan menuju cahaya terang inilah abdi seorang jurnalis tulen.

Di film? namamu sahabat telah meroket untuk rakyat Sulsel
Kau ramu segala peristiwa dan cerita terhidang di meja kerja untuk disuguhkan di layar lebar
Dunia inipun mengantarmu untuk tetap awet hingga hari ini

Wahai saudaraku
Jangan gulung dua duniamu
Ini adalah lentera
Yang selangkah lagi mengantar kau menuju menara pengabdian.
Armin.

Ahmadi Haruna menulis puisi ini di akhir Desember 2025 pada satu senja, di Benteng Rotterdam Makassar. ***

*) Mustam Arif, Redaktur Pelaksana MAKASSARCHANNEL.COM

Tinggalkan Balasan