BERITA TERKINIRAGAM INFO

Sinjai Tanam 3.335 Pohon

×

Sinjai Tanam 3.335 Pohon

Sebarkan artikel ini
Memeriahkan Hari Bumi 2025, Pemerintah Kabupaten Sinjai tanam 3.335 pohon di sejumlah titik. Mulai di halaman SMAN 5 Sinjai

MAKASSARCHANNEL, SINJAI – Memeriahkan Hari Bumi 2025, Pemerintah Kabupaten Sinjai tanam 3.335 pohon di sejumlah titik.

Sekda Sinjai Andi Jefrianto Asapa mengawali penanaman secara simbolis di halaman UPT SMAN 5 Sinjai, Sabtu (26/4/2025).

Menyusul sejumlah pejabat perwakilan Forkopimda bersama guru ikut menanam pohon.

Sekda Sinjai, Andi Jefrianto Asapa, mengatakan peringatan Hari Bumi tahun ini mengangkat tema “Our Power, Our Planet” (Kekuatan Kita, Planet Kita).

Bentuk Pelestarian Bumi

“Hal ini bermakna bahwa menjaga bumi merupakan tanggung jawab kita bersama,” ujar Andi Jefri.

Ia melanjutkan, “Sebagai komitmen nyata, kita mencanangkan penanaman pohon yang hari ini kita mulai di lingkungan SMAN 5 Sinjai.”

Ia berharap penanaman pohon tidak hanya bersifat seremonial. Semoga kegiatan ini menjadi inspirasi dan langkah awal dari banyak kegiatan positif lainnya untuk bumi kita tercinta,” harap Sekda.

Usai sambutan, Sekda bersama Forkopimda dan sejumlah menanam pohon di halaman SMAN 5 Sinjai.

Serahkan Sertifikat

Di momen itu, Sekda Andi Jefrianto menyerahkan Sertifikat Adiwiyata kepada sejumlah SD dan SMP.

Selain itu, ia turut menyerahkan bibit pohon kepada para kepala sekolah untuk ditanam di lingkungan masing-masing.

Sementara itu Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sinjai, Sofwan Sabirin, menjelaskan pemerintah menanam sebanyak 3.335 pohon di berbagai titik.

Penamanam mulai dari sekolah, instansi pemerintah, kawasan taman kota, dan jalur hijau.

Jenis pohon meliputi mahoni, ketapang kencana, jambu kristal, jabon merah, durian, dan beberapa jenis lainnya.

Sofwan mengatakan, “Penanaman pohon yang kita lakukan ini sebagai bentuk komitmen terhadap pelestarian lingkungan dan penghijauan di wilayah Sinjai.”

Tentang Hari Bumi

Hari Bumi Sedunia merupakan peringatan secara internasional setiap tahun pada tanggal 22 April untuk . untuk meningkatkan apresiasi dan kesadaran manusia terhadap planet bumi.

Senator Amerika Serikat, Gaylord Nelson, pertama kali mencanangkan peringatan Hari Bumi pada tahun 1970. Dia adalah seorang pengajar di bidang disiplin ilmu lingkungan hidup.

Sebagian besar merayakan Hari Bumi pada 22 April, mengacu pada peristiwa ketika para aktivis mengadakan Hari Bumi pertama pada tanggal yang sama di akhir tahun 1960-an.

Namun sebagian yang lain merayakan Hari Bumi pada equinox musim semi, sehingga Hari Bumi akan jatuh pada waktu yang berbeda antara belahan bumi utara dan selatan.

PBB memperingati hari Bumi sedunia pada tanggal 20 Maret yang merupakan sebuah tradisi dari aktivis perdamaian John McConnell pada tahun 1969.

Tanggal tersebut merupakan hari dimana matahari berada tepat di atas khatulistiwa atau dikenal dengan istilah Ekuinoks Maret.

Saat ini hari bumi diperingati oleh 175 negara dan secara global telah dikoordinasi oleh Jaringan Hari Bumi atau Earth Day Network.

Di Indonesia

Masyarakat Indonesia belum banyak mengetahui peringatan Hari Bumi. Berbanding terbalik dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang selalu diperingati setiap tanggal 5 Juni.

Pada dasarnya, tidak terdapat perbedaan antara Hari Bumi Sedunia dengan Hari Lingkungan Sedunia. Yang membedakan hanya sejarahnya saja.

Hari Bumi awalnya diprakarsai oleh masyarakat serta diperingati oleh LSM dan organisasi di bidang pelestarian lingkungan hidup.

Sedangkan Hari Lingkungan Sedunia diperingati berdasarkan Konferensi UN tentang Lingkungan hidup yang berlangsung pada 5 Juni 1972 di Stockholm.

Prof Emil Salim

Tanggal konferensi tersebut kemudian ditetapkan menjadi Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

Indonesia berpartisipasi dalam konferensi tersebut dan diwakili oleh Prof. Emil Salim yang menjabat sebagai Kepala Bappenas.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia dianggap lebih resmi dan sering diperingati oleh masyarakat maupun pemerintah di sejumlah negara di dunia.

Tujuan dasar dari kedua peringatan hari besar tersebut adalah untuk merangsang kepedulian masyarakat terhadap lingkungan hidup yang semakin hari semakin rusak. ***

Tinggalkan Balasan