Dikatakan, anak-anak yang ikut wisuda itu adalah mereka yang sudah hapal Alquran iqra 1 hingga hingga iqra 6. Setelah itu mereka akan melanjutkan ke tingkat lanjutan.
“Banyak yang salah persepsi terkait wisuda santri. Wisuda ini bukan berarti sudah tamat mengaji, tetapi penanda untuk berlanjut ke Alquran. Setelah selesai Alquran besar akan diwida lagi setelah baca tamat 30 juz,” kata Rahmat Tumengkol.
Sementara itu Lurah Maccini Sombala, Saddam Musma, dalam sambutannya mengatakan , “Selamat dan sukses semoga ilmu yang diraih sebagai dasar awal bisa berlanjut,” katanya.
Baca Juga :
Dua Santri Ponpes Al Haris Makassar Diterima Di Universitas Al Azhar Mesir
Santri dan orang tua layak berbangga belajar di TPA tersebut karena selain belajar membaca Alquran juga dilengkapi juga belajar tarian dan pencak silat.
Dia mengatakan, anak zaman sekarang lebih mudah belajar mengaji jika dibandingkan dengan generasi mereka yang belajar mengaji secara tradisional di kampung.
“Dulu ditempa dengan keras. Beda dengan sekarang. Belajar mengaji di kampung, setiap anak bekerja keras namun ikhlas. Ada yang tiap hari angkat air dan gabah ke rumah guru yang jaraknya beberapa kilometer,” kata Saddam.
“Jadi sekali lagi, bangga anak dididik di TPA ini, selain dapat ilmu agama dapat juga seni dan pendidikan adab. Sebab apalah artinya ilmu tinggi, kalau adat istiadat tidak ada,” katanya mengingatkan. (***)













