“Lingkunganta parallu nikatutui baji-baji ki, jagai katangkasannna sikolah ta,” ajak peserta yang lain. Maksudnya, kira-kira, lingkungan itu perlu dijaga baik-baik, dan jaga kebersihan sekolah kita.
Bukan hanya pidato dalam bahasa Makassar dan Bugis, bahkan ada peserta berpidato dalam bahasa Minang. Azkia, murid kelas 6, yang memang berdarah Minang tampil berpidato lengkap dengan busana tradisional Sumatra Barat. Lomba ini memang terbuka bagi setiap murid untuk membawakan pidato sesuai bahasa ibunya.
Baca Juga :
Dirjen PPMD Taufik, Bilang Inovasi Desa Tak Ada Matinya
Beberapa guru mengaku kagum meski ada anak yang terbata-bata membacakan naskah pidatonya. Begitu ada kalimat-kalimat yang terdengar “asing” mereka mengaku tidak mengerti bahasa daerah yang dibawakan oleh peserta lomba pidato. Apalagi anak-anak milenial yang tinggal di kota, sudah sangat jarang kita mendengar mereka menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pergaulan.
Tak kalah uniknya adalah, lomba kaligrafi lontara. Peserta meniru pappasang turiolo atau pesan-pesan orang tua yang berbunyi, “rampe a golla na ku rampe ko kaluku”. Artinya, kenanglah aku semanis gula dan aku akan mengenangmu seenak kelapa. Kalimat hendak berpesan bahwa ingatlah kebaikan seseorang supaya dibalas dengan kebaikan pula.














