PERISTIWA Isra Mikraj bukan sekadar kisah agung dalam sejarah Islam. Ia adalah perjalanan iman yang sarat makna, penuh pelajaran hidup, dan relevan untuk setiap zaman.
Allah SWT memperjalankan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjid al-Aqsha di Palestina (Isra), lalu mengangkat beliau menembus lapisan langit hingga mencapai batas tertinggi yang tak mampu dijangkau makhluk mana pun (Mikraj). Yang menakjubkan, semua itu terjadi hanya dalam satu malam.
Di balik kemukjizatan tersebut, tersimpan nilai-nilai pendidikan yang sangat dalam. Tahun ini, umat Islam kembali memperingati Isra Mikraj, tanggal 27 Rajab 1447 H bertepatan dengan Jumat, 16 Januari 2026. Momentum ini seharusnya tidak berhenti pada seremonial semata, tetapi menjadi ruang refleksi dan perbaikan diri.
Ketika Rasulullah SAW menceritakan peristiwa Isra Mikraj kepada penduduk Makkah, reaksi yang muncul sangat beragam. Abu Jahal dan para pengikutnya menolak mentah-mentah kisah itu. Mereka menertawakan dan mengolok-olok Nabi, menganggap perjalanan tersebut mustahil dan tidak masuk akal. Akal mereka berhenti pada logika duniawi yang sempit.
Berbeda dengan Abu Bakar. Tanpa ragu, ia berkata dengan penuh keyakinan, “Jika Muhammad yang mengatakannya, maka sungguh ia telah berkata benar.”
Keimanan yang jujur dan kokoh itulah yang mengantarkannya mendapat gelar al-Shiddiq, simbol keimanan yang bersih dari keraguan.
Ujian Akidah
Dari sini kita belajar bahwa Isra Mikraj adalah ujian akidah. Ia mengajarkan cara menggunakan akal secara sehat, bukan akal yang arogan dan merasa paling benar.
Pendidikan Islam tidak bertujuan melahirkan manusia yang “sok kritis” tetapi kehilangan iman, atau manusia yang menelan mentah-mentah cara pandang sekular yang bertentangan dengan Islamic worldview. Akal adalah alat, bukan tuan yang disembah.
Selain penguatan akidah, Isra Mikraj juga membawa pesan besar tentang ibadah, khususnya salat. Salat adalah hadiah langsung dari Allah SWT kepada Rasul-Nya di malam yang mulia itu. Salat disebut sebagai Mikraj-nya orang-orang beriman, sarana spiritual untuk mendekat kepada Allah setiap hari.
Maka Isra Mikraj sejatinya menjadi momen evaluasi salat kita. Sudahkah salat kita memenuhi syarat, rukun, dan adabnya? Sudahkah keluarga, anak-anak, dan para murid kita sadar dan terbiasa mendirikan salat?
Allah SWT memerintahkan kita untuk mengajak keluarga mendirikan salat dan bersabar dalam menegakkannya (QS. Thaha: 132). Rasulullah SAW bahkan menekankan pendidikan salat sejak dini, sebagai fondasi utama pembentukan kepribadian anak. Karena itulah para ulama, seperti Imam al-Ghazali, menempatkan salat sebagai kurikulum inti dalam pendidikan anak.
Ironis jika orang tua begitu cemas ketika anak belum lancar membaca dan menulis, tetapi tidak gelisah ketika anak remaja atau siswa SMA masih lalai dari salat. Padahal anak adalah amanah, dan setiap amanah kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Pendidikan Islam Terintegrasi
Buah dari salat yang benar adalah akhlak yang mulia. Allah SWT menegaskan bahwa salat mencegah perbuatan keji dan mungkar (QS. al-Ankabut: 45). Di dalam salat, kita dilatih mencintai kebersihan, disiplin waktu, rendah hati, taat pada aturan, menjaga persatuan, serta menebarkan kedamaian melalui salam. Akhlak-akhlak ini tidak lahir dari salat yang asal-asalan, melainkan dari istikamah dan keikhlasan.
Isra Mikraj juga memberi isyarat tentang urgensi ilmu pengetahuan dan teknologi. Kebangkitan peradaban Islam hanya mungkin terwujud jika umatnya kembali menyalakan tradisi ilmu. Ilmu agama dan ilmu umum harus berjalan beriringan, saling menguatkan, dan dibingkai oleh adab.
Umat Islam merindukan lahirnya kembali sosok-sosok seperti Ibn Haytham, al-Biruni, dan al-Khawarizmi. Mereka bukan manusia yang turun dari langit, melainkan buah dari pendidikan Islam yang terintegrasi antara iman, ilmu, dan akhlak.
Isra Mikraj memang tidak akan terulang. Namun semangatnya harus terus hidup. Dengan memanfaatkan waktu terutama untuk belajar dan beramal, sehingga umat Islam dapat kembali melakukan Mi’raj peradaban, bangkit dan memberi cahaya bagi semesta alam.













