“Saya bertanya, kenapa kamu pilih gambar pulau ini? Dia menjawab, bangga Bu, saya kan tinggal di Sulawesi. Jadi saya menggambar pulau ini. Ini tempat tinggal saya. Wah, saya terpukau dengan jawabannya,” kisah guru kelas 5B itu.
Sementara Ayu Isnaeni SPd yang mengajar di kelas 5C, punya pengamatan tersendiri ketika mendokumentasikan anak-anak yang sedang menggambar. Meski umumnya mereka terlihat antusias menggambar, namun ada juga beberapa anak di kelas rendah yang mengeluh karena tidak tahu menggambar pulau.
Berita Terkait :
SD Hang Tuah Makassar Fokus Program Literasi Kemaritiman
“Jadi anak-anak dimotivasi untuk berani menggoreskan pensil di atas kertas gambarnya. Karena kegiatan ini tak menilai bagus tidaknya gambar. Tapi bertujuan untuk menambah wawasan tentang keberagaman pulau di Nusantara,” katanya.
Rerata, anak-anak menggambar Pulau Sulawesi, termasuk Farid Hidayat dan Kevin Muhammad Alfatih, murid kelas 6A. Kevin menggambar peta Sulawesi, lengkap dengan nama-nama provinsi dan kotanya. Dia juga menyebut beberapa nama kota yang terdapat dalam peta yang dia gambar, antara lain Gorontalo, Manado, Makassar, Luwu, Poso, Palu, Kendari dan lain-lain.
Peringatan Hari Nusantara ini merupakan pemantik bagi sekolah yang telah bertekad fokus pada pengembangan literasi kemaritiman tersebut. Meski terkesan sederhana, tapi merupakan metode yang dapat dikaitkan dengan pembelajaran.
Peringatan Hari Nusantara didasarkan pada Deklarasi Djuanda, 13 Desember 1957. Saat itu, Ir Djuanda Kartawidjaya mendeklarasikan wilayah kedaulatan laut Indonesia bahwa semua perairan di sekitar, di antara, dan yang menghubungkan pulau-pulau yang masuk daratan NKRI adalah bagian-bagian yang tak terpisahkan dari wilayah yurisdiksi Republik Indonesia.
Hari Nusantara pertama kali dicanangkan oleh Presiden Gus Dur, tahun 1999. Namun baru pada era pemerintahan Megawati Soekarnoputri, tanggal 13 Desember ditetapkan secara resmi sebagai Hari Nusantara, melalui Keppres No. 126 Tahun 2001. (her)













