Beberapa puisi dalam “Bukan Dongeng untuk Anakku” ini pernah diterbitkan dalam buku “Tuhan Tak Sedang Iseng” (2014), “Menculik Puisi” (2017), “Kata Sebagai Senjata” (2019), dan “Sebuket Puisi di Bilik Siar” (dalam proses penerbitan). Puisi-puisi ini ditulis dalam rentang tahun 1987 hingga 2019.
Mantan Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sulsel itu menambahkan bahwa puisi-puisi itu sengaja dikumpulkan karena memang sejak awal dia mengimpikan punya buku kumpulan puisi khusus bertema anak.
Baca Juga :
Sosialisasi Destinasi Wisata Kuliner Pada Kesepakatan Dinas Pariwisata dan PK5 Takalar
“Bagi saya, puisi ini adalah medium, cara pendekatan, dan bentuk ekspresi untuk menggugah orang agar peduli tentang persoalan anak,” paparnya.
Puisi, lanjutnya, juga merupakan metode yang asyik dan relatif mudah untuk mengenalkan dan menggerakkan literasi di kalangan anak-anak. Literasi kepada anak-anak menjadi penting karena mereka dikepung oleh budaya digital yang tak selalu child friendly. Sehingga anak-anak perlu diedukasi, biar mereka tak jadi korban dan kemudian menimbulkan masalah berantai di kalangan anak-anak lainnya.
Seminar dan Diskusi Buku Sehimpun Puisi “Bukan Dongeng untuk Anakku” ini akan menampilkan dua narasumber, yakni Rusdin Tompo (penulis) dan Yudhistira Sukatanya (seniman), dengan moderator Rifa Madjid dari INews TV. Kegiatan ini akan diadakan mulai pukul 08.30 – 12.00 Wita, bertempat di Hotel Aerotel Smile, Jl. Mochtar Lutfi 38, Makassar.
“Sebagai bentuk apresiasi, akan ada sejumlah penyair membacakan puisi-puisi dalam buku ini,” pungkasnya. (har)













