BERITA TERKINIRAGAM INFO

Nulis Puisi Harus Disiplin

×

Nulis Puisi Harus Disiplin

Sebarkan artikel ini

Maysir Yulanwar memulai ulasannya dengan menukil penyair dan penulis Amerika Serikat Charles Bukowski yang pernah berkata, “Aku menulis dan aku tidak peduli dengan penilaian orang lain.
Ketika menulis, kita tidak harus sama dengan orang lain, bila perlu berani berbeda dengan orang lain.”

Terkait puisi, Maysir mengatakan, ketika seseorang membaca puisi, dia bukan sedang membaca puisi tapi membaca perasaan. Seorang penyair yang menekuni puisi, apapun yang terlintas di benaknya akan ditangkap, dijadikan puisi. Kalau kemudian ada yang mengkritisinya maka sebenarnya dia hanya mempoteksi pemikirannya sendiri.

Berita Terkait :
Komunitas Puisi Makassar Gelar Lagi Sastra Sabtu Sore

“Bagi penyair, yang perlu dilakukan adalah mengolah rasa. Karena kalau mengolah kata, itu sudah selesai,” paparnya.

Lelaki yang telah menerbitkan buku kumpulan puisi “Sembunyi” tahun 2017, itu berbagi pengalaman tentang proses kreatifnya dan menyebut dua cara yang biasa dia lakukan.

Pertama, membiasakan diri untuk selalu sadar akan tindakan yang dilakukannya. Kedua, dia sadar bahwa ketika masih bernapas, itu suatu hal luar biasa, bukan kelaziman. Artinya, kita bisa bahagia dengan hal-hal sederhana. Apalagi saat bisa mencipta puisi.

Anil Hukma mengapresiasi Sastra Sabtu Sore, yang dinilai membahagiakan. Karena bisa bertemu sesama penyair dan penikmat sastra. Menurutnya, hidup itu harus digagas dan diprogramkan.

“Resolusi dalam Puisi” merupakan cermin dan bukti bahwa ada kreativitas dan karya yang dibuat di suatu masa dan tempat. Resolusi itu sebuah janji agar jangan mati di tengah jalan. Tapi, diingatkan, untuk kreatif menulis harus banyak membaca buku dan tulisan di platform digital.

Dia menyebut, banyak potensi dalam diri kita yang mesti dikeluarkan. Dialog semacam ini sebenarnya pemicu untuk kita menulis. Penyair itu berdialog dengan dirinya dalam bentuk teks dan kata-kata. Seorang seniman itu peka dan tidak akan lari dari Tuhan. Tuhan itu pencipta besar, penyair itu pencipta kecil.

“Sastra Sabtu Sore itu silaturahmi budaya, semacam oase tempat kita keluar dari aktivitas rutin,” imbuhnya. (her)

Tinggalkan Balasan