BERITA TERKINIEDUKASI

Nama Gedung Rektorat Unhas Diusul Jadi Menara Ahmad Amiruddin

×

Nama Gedung Rektorat Unhas Diusul Jadi Menara Ahmad Amiruddin

Sebarkan artikel ini
Nama Gedung Rektorat Unhas diusul menjadi Menara Ahmad Amirudddin, sebagai salah satu bentuk penghargaan kepada mantan Rektor Unhas tersebut

MAKASSARCHANNEL, MAKASSAR – Nama Gedung Rektorat Unhas Diusul Jadi Menara Ahmad Amiruddin sebagai salah satu bentuk penghargaan kepada mantan Rektor Unhas tersebut.

Usulan itu mengemuka saat peluncuran buku A.Amiruddin Nakhoda dari Timur di Ballroom Unhas Hotel & Convention, Kampus Unhas Tamalanrea, Jumat (7/3/2025).

Panitia merangkaikan peluncuran buku edisi revisi tersebut dengan buka puasa bersama. Hadir sejumlah tokoh yang pernah dengan dengan Rektor Unhas dua periode tersebut.

Ide itu muncul ketika inisitor penulisan buku ini, Lexi B.Budiman memberi sambutan. Hadir mantan Rektor Unhas Prof Basri Hasanuddin.

Hadir pula Anggota DPR RI yang juga alumni Unhas dan mantan Wakil Wali Kota Makassar Syamsul Rizal alias Deng Ical.

Layak Ditindaklanjuti

Usulan tersebut mendapat respons positif dari tokoh yang hadir di acara itu. Mantan Sekda Provinsi Sulawesi Selatan, HM Parawansa mengatakan, usulan itu layak mendapat perhatian.

M Parawansa yang menjabat Sekda saat Ahmad Amiruddin menjadi Gubernur Sulsel, mengaku banyak mendapat pengalaman dari Rektor Unhas periode 1983-1993 itu.

Ketika MC minta mantan Dirjen Bangda Kementerin Dalam Negeri ini memberi testimoni tentang Ahmad Amiruddin, M Parawansa, terlihat bersemangat menuju panggung bersama salah seorang keluarganya.

Padahal, MC sudah membawakan mike ke kursi tempat duduk HM Parawangsa.

Mantan Dekan Fisipol Unhas, Prof Sadly Abdul Djabbar, saat memberi testimoni menyatakan dukungan menjadikan Gedung Retorat Unhas sebagai Menara Ahmad Amiruddin.

Ubah Paradigma Berpikir Dosen

Prof Sadly yang delapan tahun menjadi sekretaris Prof Amiruddin mengatakan, sang Nakhoda dari Timur itu banyak memberi inspirasi. Dia mengubah paradigma berpikir dosen Unhas.

Ahmad Amiruddin banyak mengirim dosen belajar di luar negeri untuk meningkatkan kompetensi dosen Unhas.

Prof Sadly mengisahkan kepiawaian mantan Rektor Unhas itu memanfaatkan setiap peluang. Termasuk kisah awal pemindahan Kampus Unhas dari Barayya ke Tamalarea.

“Pak Amir memegang prinsip, kesempatan hanya datang sekali,” kata Prof Sadly.

Prof Basri Hasanuddin, mengaku 10 tahun dekat dengan Prof Amiruddin, ketika itu Unhas baru memiliki 11 doktor. Dia ditugaskan memikirkan sumber daya manusia Unhas.

Atas perintah itu, Prof Basri yang juga mantan Rektor Unhas (1989-1997) merancang dan menjelajahi sejumlah negara mencari kampus yang akan menjadi tujuan tugas belajar dosen Unhas.

Kirim 200 Dosen Unhas

Prof Basri mengatakan, saat itu Unhas mengirim 200 dosen beljar ke luar negeri dan saat ini mereka berbakti di Unhas.

Prof Amir menurut Prof Basri, berprinsip, pemimpin itu harus berpikir benar dan mampu mengambil keputusan yang tak pernah salah.

“Saya belajar banyak ilmu dan pengalaman dari kepemimpinan Prof Amir,” kata Prof Basri Hasanuddin.

Di momen itu, peraih The Order of The Rising Sun, Gold Rays with Neck Ribbon dari Kaisar Jepang, Prof Husni Tanra, mengaku, berubah karena Prof Amiruddin.

“Hidup saya berubah dan bisa berdiri di sini karena Prof Amir,” kata Prof Husni Tanra.

Guru Besar Fakultas Kedokteraan Prof Andi Husni Tanra itu, mengatakan, sempat melakukan perlawanan ketika Pgof Amiruddin menggagas pemimndahan Kampus Unhas dari Barayya ke Tamalanrea.

Ketika itu, yang terbetik dalam pikiran adalah jarak tempuh untuk saampai ke Kampus Tamalanrea. Jika di Kampus Baraya jarak dari tempat tinggal bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Namun seiring perjalanan waktu, keputusan Pak Amiruddin ternyata sangat tepat, seperti terlihat sekarang. Kesulitan yang terbayang sebelumnya, ternyata tidak menjadi masalah sekarang.

Tak Tertandingi

Anggota DPR RI yang juga alumni Unhas dan mantan Wakil Wali Kota Makassar Syamsul Rizal alias Deng Ical mengatakan, hingga saat ini, Prof Amiruddin belum tertandingi. Baik sebagai Rektor Unhas, maupun sebagai Gubernur Sulawesi Selatan berikutnya.

“Saya sebenarnya tak layak memberi refleksi tentang Prof Amiruddin karena tidak mengenal beliau secara pribadi,” kara Deng Ical.

Dia mengaku, masuk Unhas di masa kepempinan Prof Basri Hasanuddin sebagai rektor. Namun, nama Prof Amiruddin selalu hadir dalam berbagai momen.

Progra Petik Olah Jual yang Prof Amiruddin gagas adalahs ebuah ide cemerlang. Selain cerdas juga selalu bertransformasi dan senantisa aktual.

Pewilayahan komoditas merupakan sebuah pengakuan yang menghargai kelebihan sebuah daerah.

Sedangkan petik- olah-jual mampu menambah nilai sebuah barang. Sebuah konsep original yang sekarang justru banyak dipratikkan.

Rektor Tak Hadir

Meski gagasan nama Gedung Rektorat Unhas Diusul Jadi Menara Ahmad Amiruddin sebagai salah bentuk penghargaan terhadap sang Nakhoda dari Timur mendapat respons positif, namun butuh perjuangan panjang.

Belum bisa terkonfirmasi ke Rektor Unhas Prof Jamaluddin Jompa tak sempat hadir di peluncuran buku A.Amiruddin Nakhoda dari Timur di Unhas Hotel & Convention, Kampus Unhas Tamalanrea.

Di akhri acara berlangsung buka puasa dan foto bersama sejumlah tokoh yang secara emosional dengan Prof Ahmad Amiruddin. (re)

Tinggalkan Balasan