MAKASSARCHANNEL.COM – Kemendikdasmen pastikan kegiatan belajar berlangsung secara tatap muka dan berjalan normal seiring penerapan kebijakan transformasi budaya kerja nasional dan kebijakan energi.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyampaikan kebijakan tentang pembelajaran tatap muka itu, melalui keterangan tertulis, Rabu (1/4/2026).
Penegasan tersebut merujuk pada arah kebijakan pemerintah dalam delapan Transformasi Budaya Kerja Nasional yang menempatkan sektor pendidikan sebagai salah satu sektor prioritas yang tetap menjalankan layanan secara langsung di satuan pendidikan.
Menteri Mu’ti menyampaikan, transformasi budaya kerja merupakan langkah strategis pemerintah dalam membangun sistem kerja yang lebih adaptif dan berkelanjutan, tanpa mengurangi kualitas layanan pendidikan.
Elemen Utama Proses Pembelajaran
“Transformasi budaya kerja yang tengah dijalankan pemerintah merupakan langkah strategis untuk membangun sistem kerja yang lebih adaptif, produktif, dan berkelanjutan,” jelas dalam keterangan tertulis.
Namun demikian, lanjut Menteri Mu`ti, sektor pendidikan dasar dan menengah memiliki karakteristik layanan yang menempatkan interaksi langsung sebagai elemen utama dalam proses pembelajaran.
Menteri Mu’ti menegaskan, “Pembelajaran tatap muka tetap menjadi prioritas.”
Prof Mu’ti juga mendorong satuan pendidikan berperan aktif mendukung kebijakan efisiensi energi melalui pembiasaan perilaku hemat dan ramah lingkungan di sekolah.
Ia menjelaskan, pihaknya menilai keberlangsungan pembelajaran tatap muka merupakan bagian dari upaya menjaga stabilitas layanan publik di bidang pendidikan, sekaligus mendukung pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas.
Selain kegiatan belajar mengajar yang dilakukan secara tatap muka, ia juga menyampaikan, kegiatan non-akademik seperti olahraga, ekstrakurikuler, dan pengembangan prestasi tetap dapat dilaksanakan tanpa pembatasan.
Meski demikian, pihaknya mendorong sekolah untuk mengoptimalkan penggunaan energi secara bijak sebagai bentuk dukungan terhadap kebijakan efisiensi energi nasional melalui penerapan budaya hemat energi di lingkungan satuan pendidikan.
Penerapan energi secara bijak itu antara lain dengan penggunaan listrik, pemanfaatan cahaya alami, serta mendorong kebiasaan ramah lingkungan di kalangan warga sekolah.
Reaksi DPR RI
Wakil Ketua Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, MY Esti Wijayanti, menyoroti wacana kegiatan belajar-mengajar siswa secara daring atau dalam jaringan (online).
Esti menyebut pembelajaran secara daring pernah dilakukan saat pandemi Covid-19, beberapa waktu lalu.
Belajar dari pengalaman saat pandemi tersebut, pembelajaran daring kurang efektif bagi siswa sekolah.
Oleh sebab itu, ia berpendapat wacana kebijakan tersebut perlu dikaji lebih mendalam.
“Pembelajaran secara daring pernah kita laksanakan ketika terjadi wabah COVID-19. Dan kita semua tahu sistem tersebut meninggalkan problem yang tidak sederhana bagi dunia pendidikan kita,” kata Esti dalam keterangan tertulisnya Senin (23/3/2026).
Sejumlah problem tersebut termasuk tantangan kemampuan anak dalam menyerap materi pelajaran, kedisiplinan, pembentukan karakter, kendala teknologi, dan lain sebagainya.
“Hal-hal tersebut adalah problem yang tidak sederhana,” kata legislator yang membidangi urusan pendidikan itu.
Salah satu dampak pembelajaran daring saat pandemi Covid-19 menurutnya adalah learning loss, yakni fenomena yang memunculkan keadaan ketika peserta didik malas belajar dan cenderung melupakan sekolahnya.
Ia menilai, kemampuan kognitif pelajar semakin menurun pasca kebijakan pembelajaran daring. Hal itu terlihat dari beberapa hasil pemantauan tumbuh kembang anak di Indonesia.
Selain ketertinggalan dalam bidang akademis seperti learning loss yang dialami para siswa, menurut dia, sistem pembelajaran jarak jauh juga menimbulkan dampak pada aspek psikologis dan kesehatan fisik anak.
“Sistem daring sulit menerapkan pelajaran pada aspek afektif seperti kepribadian, sikap, dan karakter,” tuturnya.
Ia pun mendorong pemerintah mencari solusi lain dalam mengantisipasi dampak kondisi global.
Dia menegaskan pendidikan anak-anak tidak boleh dikorbankan karena dapat menyebabkan dampak berkepanjangan.
“Pasti masih ada langkah alternatif terbaik untuk mengatasi persoalan perekonomian imbas kemungkinan naiknya harga minyak karena kondisi global dunia,” katanya. ***













