Suara anak-anak yang polos ternyata cukup memukau. Misalnya, ketika Andi Muhammad Huga Yusuf Husni dari SD Negeri Borong, selesai bercerita, langsung mendapat aplaus dari hadirin yang mendengarkan suaranya melalui layar monitor.
Beberapa peserta tampil kreatif, seperti Muhammad Aqila Nesha Tenripata Ahyar, murid Kelas IV SD Islam Mafaaza. Peserta asal Kabupaten Gowa ini bercerita dengan gaya pasinrilik yang diiringi kesok-kesok. Dia mengibaratkan Corona seperti perampok yang mengambil celengannya.
Berita Terkait :
Murid SD Negeri Borong Meriahkan Jalan Santai Hari Bhakti RRI
Ide cerita dan imajinasi anak-anak kadang membuat pendengar di dalam ruangan tersenyum, bahkan tertawa. Kelucuan khas anak-anak terbangun dalam theatre of mind pendengar, yang merupakan kekuatan dan karakteristik radio.
Ada peserta yang menggunakan dialek Makassar saat bercerita tentang ibunya yang sering berburu sinyal untuk membantunya belajar. Ada yang bercerita bahwa selama di rumah saja, dia merasa bosan karena hanya menatap handphone dan nonton televisi. Akibatnya, badannya bertambah gemuk dan pakaiannya terasa sempit.














