Hj Baena mengungkapkan bahwa perpustakaan itu dibenahi dari nol. Setelah resmi regruping sekolah, tahun 2020, gedung perpustakaan itu dibangun oleh Pemkot Makassar. Hanya saja, kepala sekolah sebelumnya tidak memfungsikan ruangan itu khusus untuk perpustakaan tetapi dijadikan ruangan multifungsi.
“Tadinya, ruangan itu dijadikan perpustakaan, jadi ruangan guru, ruang kepala sekolah, ruang tamu, bahkan ruangan untuk makan-makan,” ungkap Hj Baena.
Berita Terkait :
DPK Sulsel Bina Perpustakaan Di Barrang Lompo
Dia merasakan betul tantanganya ketika perpustakaan baru dibenahi. Saat itu, referensi hanya seratusan, ruangan perpustakaan masih kosong sementara dana belum cair. Tembok perpustakaan juga rapuh.
Dia lalu berusaha melobi berbagai pihak untuk menyumbangkan buku-bukunya, berusaha mencari rekanan yang bisa menyiapkan buku dalam jumlah banyak agar bisa segera memenuhi persyaratan. Apalagi surat keputusan Perpusnas RI sudah turun, yang menyatakan bahwa Perpustakaan CERIA SD Inpres Banta-bantaeng 1 terdaftar sebagai perpustakaan yang akan diakreditasi.
Meski terbilang baru, namun koleksi bukunya lumayan banyak, sudah mencapai 3.000-an judul dan jumlah eksamplarnya sebanyak 4.500-an di luar koleksi buku paket.
Pustakawan SD Inpres Banta-bantaeng I, Riska Sari, S.I.P, mengaku kepala sekolahnya tidak tanggung-tanggung dalam mengalokasikan anggaran untuk menambah koleksi perpustakaan. Karena koleksi merupakan salah satu komponen yang paling penting dalam perpustakaan.
Riska menambahkan, selama pandemi ini, aktivitas pelayanan perpustakaan belum diprioritaskan, karena sekolah masih menerapkan pembelajaran daring, belum tatap muka.
“Kita masih fokus ke pengolahan dan perkembangan perpustakaan, belum pada pelayanan,” papar alumnus Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar itu. (her)













