Aktor utama film ini, Fajar Baharuddin, yang berperan sebagai Ho Eng Dji, mengatakan ia berusaha menjiwai tokoh yang ia perankan. Ia bahkan mendatangi Pekuburan Cina di Bollangi, untuk berziarah ke pusara Ho Eng Dji.
“Saya mappatabe ke pusara mendiang Ho Eng Dji. Ini cara saya sebagai orang Bugis-Makassar yang diajarkan sopan santun,” cerita lelaki yang akrab disapa Bojan itu.
Bojan dipilih bukan hanya karena ia memiliki kemampuan akting, tapi juga mempunyai oriental look atau berwajah mandarin dan juga karena bisa bernyanyi sebagaimana tuntutan skenario. Proses syuting film ini terbilang singkat, hanya dalam 18 hari. Tapi risetnya terbilang lama. Apalagi harus menghadirkan Makassar tempo doeloe.
Baca Juga :
Bupati Syamsari Obral SK Golkan Abdul Wahab Jadi Kadis Dukcapil, Wibawa Pemerintahan Hilang
Setelah memerankan Ho Eng Dji, Bojan mengaku mendapat banyak pembelajaran. Katanya, kita ini kehilangan kebesaran jiwa, kehilangan Ati Raja dalam memandang perbedaan yang merupakan kekayaan kita. Karena itu, ia berharap film ini jadi momen untuk lebih mempersatukan kita sebagai satu bangsa.
“Ho Eng Dji adalah mutiara yang hilang. Film ini akan menghadirkan kembali nilai-nilai dan semangat dari Ho Eng Dji, kepada kita sebagai generasi penerus,” katanya.
Arwan Tjahjadi, selaku Produser Eksekutif Film Ati Raja, berharap film ini dapat menyatukan para seniman di Sulsel untuk melahirkan karya-karya terbaik mereka bagi bangsa dan negara. (har/rls)













