“Jika dengan cara inseminasi buatan kita lakukan melalui transfer embrionya. Kami memiliki embrio in vitro di lab dan beberapa sudah berhasil. Salah satunya ada di Enrekang, sebanyak 3 ekor,” papar Prof Hery memberi contoh program serupa yang diklaimnya berhasil.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Takalar, Hasby S.STP menyampaikan, bahwa IPM Takalar yang berada pada posisi di bawah sehingga program satu sapi satu Kepala Keluarga merupakan salah satu upaya pemerintah meningkatkan IPM Takalar dengan cara meningkatkan daya beli masyarakat.
Baca Juga :
Kapolda Sulsel Jadi Narasumber Dialog Mubalig IMMIM
Hingga tahun 2019, lanjut Hasby, total sapi indukan yang dibagikan oleh pemerintah kepada keluarga kurang mampu mencapai 3085 ekor sapi dan ditargetkan tahun ini (2020) akan terealisasi hingga 6000 ekor.
“Olehnya itu, kami ingin mendengarkan masukan dari Fakultas Peternakan Unhas ini, mengenai metode pengembangbiakkan sapi kembar tersebut. Barangkali, ada teknologi untuk menghasilkan sapi kembar untuk menambah populasi sapi kita di Takalar. Ini juga merupakan tantangan dari Bapak Bupati Takalar untuk menghadirkan sapi kembar,” kata Hasby.
FGD tersebut diikuti juga oleh ketua Tim Penggerak PKK Takalar Dr Irma Andriani, S.Pi, M.Si dan Kepala Bappeda Takalar, Ahmad Rivai. (kin)













