BERITA TERKINIKOLOM

Capacity Building BBGTK Sulsel Di Maxone Hotel Makassar

×

Capacity Building BBGTK Sulsel Di Maxone Hotel Makassar

Sebarkan artikel ini
Pegawai bersama keluarga Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan Sulawesi Suasana memadati Ballroom Maxone Hotel Makassar, Rabu (30/12/2025)
Kepala BPSDM Sulawesi Selatan Prof Muhammad Jufri S Psi, MSi membawakan materi penguatan Capacity Building untuk peserta Refleksi Akhir Tahun BBGTK Sulsel. (Foto : Rusdy Embas/MAKASSARCHANNEL.COM)

Pegawai bersama keluarga Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Sulawesi Selatan memadati Ballroom Maxone Hotel Makassar, Rabu, 30 Desember 2025, usai Salat Asar. Mereka duduk melingkari meja bundar bertaplak warna cerah.

Di sisi kanan akses masuk ruangan, tersedia aneka makanan dan minum siap santap. Ada minuman dingin dan panas, lengkap dengan penganan plus es buah menyegarkan. Dentingan sendok dan garpu terdengar samar.

Kepala Bagian Umum Dr Ayatollah Hidayat MPd memandu acara memanfaatkan waktu menunggu kedatangan nara sumber, Kepala BPSDM Sulawesi Selatan Prof Muhammad Jufri S Psi, MSi membawakan materi penguatan Capacity Building untuk peserta Refleksi Akhir Tahun BBGTK Sulsel.

Dalam sepeminum teh, Kepala BBGTK Sulaawesi Selatan, Dr Arman Agung MPd, memasuki ruangan bersama Prof Jufri. Alunan lagu persembahan karyawan BBGTK Sulsel pun berakhir.

Untuk memaksimalkan pemanfaatan waktu yang sudah menjelang petang, Kepala BBGTK Sulsel, Dr Arman Agung, memperkenalkan akademisi Universitas Negeri Makassar (UNM) tersebut kepada audiens.

Mengawali ceramah, Prof Jufri memuji sejumlah langkah progresif peningkatan kompetensi guru yang kepala BBGTK Sulsel lakukan kurun waktu 2025. Salah satunya, pembelajaran terintegrasi.

Prof Jufri “membakar” semangat audiens dengan cara melakukan ice breaking. Tepuk tangan berirama pun membahana memenuhi aula diiringi tawa. Semua terlihat rileks. Tertawa lepas, tanpa beban.

Akademisi UNM itu, kini menjadi komandan pengembangan SDM Aparatur Sipil Negara (ASN) itu fokus pada kepemimpinan, inovasi, dan kompetensi di era digital. Dia kerap memberikan materi pelatihan dan berperan dalam program-program strategis pemerintah Provinsi Sulsel di berbagai kegiatan pengembangan kepegawaian.

Sebagai pembuka, mantan Dekan Fakultas Psikologi UNM itu mengawali ceramah dengan mengisahkan pengalaman di salah satu kecamatan. Dari kisah itu dia menyelipkan pesan bijak yang seharusnya dimiliki dan dipraktikkan oleh setiap insan.

“Buat mudahlah yang sulit. Jangan mempersulit yang mudah,” pesan prof Jufri.

Dia menyebut, ASN sangat penting memiliki filosofi itu dalam memberikan pelayanan kepada publik. Degan mempermudah segala urusan maka yang bersaangkutan akan mendapatkan banyak kemudahan.

Berikan pelayanan terbaik dengan mempermudah urusan orang. Karena dengan niat menjalankan tugas dengan baik dan ikhlas akan meringankan beban orang lain. Jangan menganggap bantuan yang diberikan itu sebagai bukan urusanmu.

Pesan kedua yakni, jangan berhent belajar. Itu untuk memastikan kompetensi yang dimiliki akan terus meningkat. Apalagi, undang-undang sudah mengamanatkan agar setiap ASN meningkatkan kompetensi.

“Untuk memastikan, sudah bekerja dengan baik, jangan berhenti belajar, untuk memastikan bahwa kompetensi yang dimiliki sudah mendukung pekerjaan,” pesan pria kelahiran, Selayar, 2 Februari 1968 itu.

Dia mengingatkan, jika seseorang tidak meng-upgrade kemampuannya, maka ilmu yang dia miliki bakal menurun.

Mantan Kepala Dinas Pendidikan Sulsel itu berpesan agar setiap kita tidak berprilaku sombong, karena itu merupakan penyakit berbahaya dan pada akhirnya merugikan diri sendiri.

Orang sombong itu selalu merasa superior dan menganggap dirinya sebagai yang terbaik. Sifat itu berpeluang membuat yang bersangkutan stres. Dia akan sakit hati jika ada orang sekitarnya yang memiliki kemampuan lebih darinya.

Jika stressnya berkepanjangan, maka bakal depresi dan menikmati kesendiriannya. Prilakunya tidak terkontrol dan mulai memutuskan hubungan dengan dunia selain dirinya sendiri. Endingnya berujung jadi gila.

Hasil penelitian menyebutkan, banyak orang sakit bukan karena fisiknya yang terganggu, tetapi karena kesalahan mengolah pikirannya.

“Sekira 20 persen orang sakit karena virus atau bakteri, sementara 80 persen lainnya karena salah olah pikiran. Terlalu banyak urusi urusan orang atau gila urusan,” kata Prof Jufri mengutip hasil sebuah penelitian.

Dia menyarankan, agar perbanyak berbagi kepada sesama, karena berbagi itu sejatinya sama dengan menerima. Semakin banyak kita berbagi, maka semakin banyak juga yang kita terima. Maka berhagaialah orang yang banyak berbagi.

Pertanyaannya sekarang adalah, sudahkah kita berbagi? Jika sudah maka akan terasa kebermaknaan hidup dan menikmati kebahagiaan.

Direktur Career Development Center UNM itu menyinggung juga tentang kecerdasan intelektual seseorang yang meliputi daya tangkap, kemampuan menganalisa dan menyelesaikan masalah, serta kemampuan merespons persolan.

Kecerdasan emosional menempati hingga 80 persen, karena itulah kemampuan atau daya tangkap seseorang berbeda.

Dia mengemukakan anekdot penjual seorang pisang yang tak ingin semua menjual pisangnya saat ada seseorang ingin memborongnya. Padahal, sebagai penjual seharusnya senang karena semua jualannya laris.

*) Muhammad Rusdy Embas, Pemimpin Redaksi MAKASSARCHANNEL.COM

Tinggalkan Balasan