BERITA TERKINIPEMERINTAH DAERAHRAGAM INFO

BMKG Prakirakan Musim Kemarau Lebih Cepat

×

BMKG Prakirakan Musim Kemarau Lebih Cepat

Sebarkan artikel ini
Kabupaten Maros mulai memasuki peralihan musim atau pancaroba. BMKG prakirakan kemarau lebih cepat dari tahun sebelumnya

MAKASSARCHANNEL, MAKASSAR – Kabupaten Maros mulai memasuki peralihan musim atau pancaroba. BMKG prakirakan kemarau lebih cepat dari tahun sebelumnya.

Meski hujan masih kerap turun pada siang hingga sore hari, bahkan disertai guntur di sejumlah wilayah. Namun perubahan cuaca sudah mulai terasa.

Ketua Tim Kerja Bidang Meteorologi BMKG Wilayah IV, Rizky Yudha, mengatakan, kondisi ini merupakan ciri khas masa peralihan musim.

Ia memprakirakan, musim kemarau di Maros akan datang lebih awal pada tahun ini.

Kemarau Lebih Awal

“Maros diperkirakan mulai masuk musim kemarau pada dasarian pertama bulan Mei,” ujar Rizky Yudha.

Menurut Rizky Yudha, awal musim kemarau tahun ini maju sekitar tiga dasarian.
Artinya, kemarau datang hampir satu bulan lebih cepat dari biasanya.

Rizky memprakirakan, puncak musim kemarau terjadi, Agustus 2026. Pada periode tersebut, cuaca akan lebih panas dengan curah hujan yang menurun.

BMKG memprediksi adanya potensi fenomena El Nino dengan intensitas lemah pada semester kedua tahun ini tetapi mulai terasa sejak Juli.

Migitasi Dini

“Kalau El Nino, pengaruhnya biasanya mengurangi curah hujan,” jelas Rizky.

Dengan kondisi tersebut, musim kemarau tahun ini berpotensi terasa lebih kering dan berlangsung lebih lama. Hingga Oktober 2026.

Rizky mengimbau masyarakat untuk mulai melakukan langkah mitigasi sejak dini.

Terutama dalam menghadapi potensi berkurangnya curah hujan.

“Sudah perlu menyiapkan mitigasi menghadapi curah hujan rendah,” kata Rizky.

Sosialisasi

Sementara itu, Kepala BPBD Maros, Towadeng, mengatakan pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait potensi kemarau tersebut.

Ia menyebut suhu udara saat musim kemarau berpotensi mencapai 38 derajat Celcius. Warga perlu lebih waspada, terutama terhadap risiko kebakaran.

“Jangan membakar sampah atau lahan sembarangan,” ujar Towadeng memperingatkan.

Ia juga mengimbau masyarakat memastikan kondisi rumah tetap aman saat ditinggalkan.

“Pastikan peralatan dapur dan listrik dimatikan untuk mencegah potensi kebakaran,” katanya.

Potensi Kekeringan

BPBD Maros juga telah menyiapkan langkah antisipasi menghadapi potensi kekeringan. Salah satunya, menyalurkan air bersih ke wilayah yang terdampak.

Sejumlah kecamatan diperkirakan akan terdampak cukup parah. Seperti, Kecamatan Bontoa, Lau, Marusu, dan Maros Baru. Berpotensi meluas ke wilayah lain.

“Bisa sampai delapan sampai sembilan kecamatan, termasuk Turikale, Tanralili, Simbang, dan sebagian Bantimurung,” urai Towadeng.

Towadeng menyebut wilayah Bontoa salah satu daerah paling rentan, karena keterbatasan akses air bersih. Baik dari PDAM maupun sumber air tanah.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, penyaluran air dari luar wilayah menjadi solusi utama.

“Tahun lalu penyaluran air bersih mencapai lebih dari 500 tangki,” ujarnya.

Ia memperkirakan jumlah itu berpotensi meningkat pada tahun ini, tergantung kondisi di lapangan.

Pemerintah daerah pun diminta terus bersiaga menghadapi potensi kemarau yang lebih cepat dan lebih kering tahun ini. ***

Tinggalkan Balasan